Peluang Usaha Dari Alpukat Aligator

1584

Alpukat jadi salah satu buah yang punya banyak penggemar di Indonesia. Apalagi, di tengah tren diet yang melanda sebagian masyarakat kita. Alpukat merupakan buah yang baik dikonsumsi selama diet.

Inilah yang membuat buah berkelir hijau ini kerap dibudidayakan, misalnya, alpukat aligator. Varietas ini termasuk dalam golongan alpukat jumbo lantaran memiliki bobot yang lebih berat ketimbang jenis  biasanya. Alpukat aligator juga biasa disebut alpukat pir atau alpukat raksasa.

Bentuknya memanjang dan bisa mencapai 70 cm hingga 80 cm, dengan bobot sekitar 700 gram sampai 1,2 kg per buah. “Tanaman alpukat aligator sudah lama ada di Indonesia tapi mulai tren di awal tahun ini dan banyak yang tertarik membuat bibitnya,” ucap Timo Erado, pembibit alpukat aligator asal Nganjuk, Jawa Timur kepada KONTAN, Kamis (1/8).

Timo menjual bibit alpukat aligator berumur 4 bulan– 5 bulan dengan tinggi 40 cm– 50 cm seharga Rp 40.000 per bibit. Semakin tinggi bibit, harganya semakin mahal.  Untuk bibit setinggi dua meter, harganya mencapai Rp 350.000 per pohon. Sedang harga bibit yang sudah berbuah bisa jutaan rupiah per pohon.

Bibit-bibit itu biasanya Timo tanam dalam polybag. Tiap bulan, ia bisa menjual 500 bibit–1.000 bibit. Sebagian konsumennya berasal dari Jawa dan Bali, terutama Jakarta dan Denpasar.

Lantaran punya tekstur yang lebih besar, alpukat aligator lebih cocok sebagai bahan olahan atau campuran makanan dan minuman. Tapi, di daerah asalnya yakni Amerika Latin, buah ini dikonsumsi sebagai sarapan. “Orang Indonesia belum terbiasa sarapan dengan alpukat dan ukurannya juga besar,” kata Timo.

Peminat alpukat aligator yang meningkat juga diakui  Susilo Suhasto, pembibit asal Malang, Jawa Timur, yang membudidayakan alpukat aligator sejak 2015. Menurutnya, setahun terakhir peminat alpukat jenis ini mulai banyak, baik bibit maupun buahnya. “Waktu awal usaha, belum banyak yang budidaya bibit alpukat aligator,” imbuhnya.

Kala itu, harga bibit alpukat aligator masih tinggi karena pasokan yang terbatas. Sedang saat ini, mulai banyak yang membudidayakan buah tersebut. Efeknya, harga bibitnya mulai turun.

Sekarang, harga bibit alpukat aligator yang Hasto, begitu panggilan Susilo Suhasto, jual dengan tinggi 50 cm sebesar Rp  80.000 per pohon. Untuk tinggi 1 meter– 1,5 meter sekitar Rp 200.000– Rp 250.000 per bibit.

Dalam sebulan, permintaan bibit alpukat aligator bisa mencapai 3.000–4.000 pohon. Susilo memproduksi hingga 5.000 bibit per bulan. Sekitar 1.000 bibit untuk stok.

Pembeli bibit alpukat aligator produksi Hasto berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Permintaan tertinggi datang dari Jawa dan Sumatra. Dia melayani permintaan dalam bentuk eceran maupun partai.

Tak hanya menjual bibit, Hasto juga menjual buah alpukat aligator. Harganya berkisar Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per kg. Jangan salah, isinya tidak banyak antara satu hingga dua buah saja. Beda dengan alpukat mentega yang sekilonya bisa sampai empat buah.

Alpukat aligator atau alpukat pir adalah tanaman asal Meksiko dan Amerika Tengah. Laiknya alpukat asal Amerika, tekstur daging buah ini padat, pulen dan lembut. Di Indonesia, bibit tanaman ini diperbanyak dengan cara sambung pucuk.

Timo Erado, pembibit alpukat asal Nganjuk Jawa Timur, menjelaskan, untuk memperbanyak bibit bisa dilakukan dua cara: dengan biji atau sambung pucuk. Dengan biji butuh waktu lama, memakai sambung pucuk bisa lebih cepat dan menguntungkan, yakni kurang lebih empat minggu sampai lima minggu.

Proses sambung pucuk diperoleh dari penyatuan batang alpukat jenis lain dan entres (pucuk tanaman usia muda) dari alpukat aligator. Pemilihan entres menjadi langkah awal berhasil atau tidaknya budidaya alpukat aligator. Entres yang dipilih harus memiliki kualitas baik. Yakni dari pohon yang telah berkali-kali berbuah dengan kualitas bagus. “Diameter entres tidak boleh lebih besar dari batang bawah,” kata Timo.

Di proses inilah yang menjadi tantangan pembudidaya. Kebanyakan para pembudidaya kerap gagal. Tak jarang hasil sambungan tidak pas dan terlalu lembab. Ini bisa menyebabkan tanaman cepat layu.

Susilo Suhasto, pembibit asal Malang, Jawa Timur, menambahkan, selama proses pembibitan, bibit tanaman alpukat aligator tidak boleh banyak terkena sinar matahari langsung maupun air hujan. “Banyak kena matahari langsung tanaman bisa cepat kering. Kena air hujan bisa busuk lalu layu,” ujarnya.

Setelah mencapai enam bulan sampai tujuh bulan, bibit tanaman alpukat aligator sudah bisa dipindahkan ke tanah lapang atau pot. Dan salah satu keunggulan tanaman alpukat adalah bisa ditanam di pot. Setelah dipindah tanam, perawatannya bakal lebih mudah dan tidak seintensif waktu pembibitan.

Baik Hasto maupun Timo sama-sama sepakat jika ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam perawatan alpukat aligator, yakni pemupukan, penyiraman, dan pemberian obat hama.

Timo berucap proses pemupukan harus dilakukan rutin, setiap dua minggu sekali, karena tanaman alpukat adalah tanaman buah yang butuh lebih banyak nutrisi dibanding tanaman bunga atau daun. Semakin ingin cepat berbuah, maka kadar nutrisi yang diberikan juga semakin banyak. Jika perlu diberi obat perangsang buah agar lebih cepat berbuah.

Untuk penyiraman cukup dua hari sekali. Kala kemarau bisa tiga kali sehari, tapi saat musim penghujan cukup satu kali saja. Yang harus diperhatikan, tanaman alpukat tidak bisa kekurangan air karena bisa kering atau kelebihan air lantaran bisa membuat tanaman cepat layu.

Pemberian obat hama atau pestisida juga penting untuk tanaman buah ini. Hasto menyarankan pemberian pestisida bisa rutin dilakukan dua minggu sekali. Apalagi Pohon alpukat aligator rentan terhadap serangan ulat dan lalat buah.

Tanaman bernama latin persea americana ini bisa berbuah empat tahun sejak penanaman awal. Dalam satu tahun, tanaman ini bisa dua kali panen. Untuk satu kali panen, satu pohon bis hasilkan 70 kg–100 kg alpukat aligator. (C-003/BBS)***