Warga Sumedang Keluhkan Kelangkaan “Si Melon”

15

BISNIS BANDUNG – Warga  Kabupaten Sumedang  mulai mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram.Kelangkaan gas 3 kilogram sudah terjadi dalam seminggu . Di beberapa  pangkalan penyedia gas elpiji hanya terdapat tumpukan tabung kosongnya saja.
Eme (55) pengguna gas elpiji 3 kilogram mengatakan , dirinya keliling ke beberapa warung tempat penjualan gas 3 kg , tapi semua kosong. Di kios yang memiliki stock juga  habis dibeli  pedagang kuliner.

Eme mengaku sudah satu minggu ini kesulitan mendapatkan gas 3 kilogram. ”Keluarganya kesulitan untuk memasak. Diharapkan agar ketersediaan gas 3 kilogram di Sumedang  bisa kembali normal ,”.

Saya menyayangkan. Biasanya jadi pertanda jika terjadi kelangkaan , harganya akan naik. Walau harganya akan naik , ya….jangan didahului dengan kelangkaan. Kami rakyat kecil jadi kerepotan.

Sementara  Yogi  (40), pedagang gas elpiji di Kota Sumedang mengatakan, di kiosnya menjual gas 3 kilogram sesuai jatah yang diberikan. Jadi tidak bisa berbuat apa-apa jika ada permintaan banyak dari pembeli. Diakui permintaan akan gas melon cukup tinggi dibanding dengan gas 5,5 kg atau yang 12 kilo.

“Kalau pasokan gas tiga kilo, memang terbatas,tapi kalau yang 5,5 kilo sama 12 kilo pasokannya cukup, tapi peminatnya kurang, mungkin memang konsumen gas 3 kilo lebih banyak dibanding yang 5,5 dan 12  kilo,” ujar Yogi, Senin di pangkalan gas miliknya.

Ditempat terpisah,  Wowo  Sutisna Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Sumedang  mengatakan, pihaknya akan  segera menindak lanjuti tentang   kelangkaan gas 3 kg.

“Barusan kami  sudah melakukan rapat salah satunya membahas isu  kelangkaan gas  elpiji  3 kg.  Dinas  akan  segera turun  kelapangan menemui  agen  dan pemilik pangkalan ,” ujar Wowo , Selasa (10/9/2019) di ruang kerjanya.

Dikatakan Wowo, pihaknya berharap tidak  ada oknum spekulan yang  menyebabkan terjadinya  kelangkaan gas 3 kg. ” Saya meminta agar agen menindak  tegas  pangkalan  yang menjual lebih dari harga eceren  tertinggi (HET)  yakni Rp. 16,500 di tingkat pangkalan,” ungkap Wowo.

Wowo menyebut , gas 3 kg merupakan salah satu kebutuhan paling krusial, sekarang malah susah didapat. Di warung-warung gas tersebut tidak ada, entah kemana raibnya, sudah harganya mahal antara Rp 22.500 sampai Rp 25.000.

“Gas elpiji 3 kg itu sudah merupakan kebutuhan pokok buat warga, kalau tidak ada mau masak bagaimana . Cara bikin masyarakat jadi susah seakan gampang, salah satunya bikin langka gas 3 kg , seperti sekarang ini,” ungkap Dewi warga Desa Rancamulya Kecamatan Sumedang Utara  berkomentar terkait kelangkaan gas  3 kg.

Sudah  harganya mahal, lanjut Dewi, ditambah barangnya tidak ada.Kumaha atuh , apa tidak ada pengawasan . Bagaimana dengan pemerintah dan anggota DPRD ,  apa hanya menonton saja sambil bilang nanti kami usahakan , yang kami butuhkan bukan kalimat itu tapi yang kami inginkan jangan ada kelangkaan ,” Dewi menambahkan. (E-010) ***