Membangun Label Muslim Shafira

12

BAGI pengguna dan penggemar busana muslim pasti cukup akrab dengan brand Shafira dan Zoya. Di balik kesuksesan dua brand tersebut, ada tangan ulet seorang Feny Mustafa. Lewat ketekunannya, kerajaan bisnis busana muslim yang dirintis ibu dua anak ini sejak tahun 1989 hingga kini masih terus berkibar.

Feny mendirikan usaha bermodal pinjaman. “Pertama kali saya buat Shafira, waktu itu trend busana Muslim tidak seperti sekarang. Dulu orang yang pakai busana Muslim bisa dihitung jari dan busana Muslim tidak lazim digunakan, susah ditemukan,” kata Feny.

Kala itu, busana Muslim masih belum populer seperti saat ini. Bahkan ada larangan menggunakan busana Muslim di beberapa instansi dan stasiun TV.

Dari kondisi itulah timbul keinginan dari dalam diri Feny agar busana Muslim bisa lebih dikenal dan menjadi lazim digunakan sehari-hari oleh masyarakat Indonesia. “Saya mengawali bisnis ini bisa dibilang modal nekat karena pasarnya belum terbentuk, dan modal untuk operasional pinjam sana sini. Waktu itu saya masih kuliah tingkat tiga,” papar perempuan yang memulai bisnis busana Muslimnya sejak umur 22 tahun ini.

Feny meminjam modal usaha dari orangtua dan teman-temannya. Ia mengingat bagaimana ibu maupun teman-temannya membantu mengumpulkan uang sebagai modal awal membangun toko Shafira yang perdana.

“Hal terpenting dalam membangun bisnis pertama kali adalah support keluarga. Karena saya mulai bisnis sebelum menikah, saya mengumpulkan modal dari meminjam kepada teman, sahabat di kampus dan juga orang terdekat. Modalnya satu, yaitu kepercayaan,” kenang Feny.

Bermodal kuatnya relasi dengan sejumlah teman, Feny berhasil mengumpulkan modal sebanyak Rp 12 juta untuk membangun sebuah toko, yang jadi cikal bakal berkembangnya Shafira dan brand lainnya. Saat awal menjalankan bisnis, ia dibantu oleh dua orang karyawan. Desain baju Muslim pun ia buat sendiri secara autodidak.

Ketekunan Feny selama 30 tahun membuahkan hasil. Ia tak hanya membesarkan brand Shafira, tapi juga berhasil membangun kerajaan bisnis busana Muslim di Indonesia serta menjadi pionir penyedia busana Muslim.

Kini usaha dengan bendera Shafira Corporation sudah menaungi 11 brand, antara lain, Shafira, Zoya, Zoya Cosmetic, Encyclo, Mezora, hingga department store La Grande Mustafa serta ritel Hijab Factory. Shafira Corporation punya 233 gerai dari 3 brand seperti Shafira, Zoya, dan Mezora tersebar di seluruh Indonesia. Kapasitas produksi antara 5.000 – 10.000 buah per item, per model.

Tiga puluh tahun konsisten dalam menjalankan bisnis busana Muslim di bawah bendera Shafira Corporation bukan perkara mudah bagi Feny Mustafa. Feny melakukan berbagai upaya mengembangkan bisnis busana muslimnya, mulai menggunakan beberapa artis sebagai brand ambassador, menggelar fashion show, hingga mencari inspirasi desain fesyen ke luar negeri.

“Buat mendukung pemasaran, ada beberapa artis sebagai endorser atau brand ambassador. Ada Inneke Koesherawati, Sandrina Malakiano, juga Marissa Haque juga,” kata Feny. Ia merasakan cara ini efektif mendongkrak pemasaran dan brand awareness.

Pada mulanya Feny ingin produknya menyasar pasar kelas menengah ke atas. Karena itu ia membanderol harga  produk Shafira mulai Rp 500.000 hingga Rp 3 juta per potong. Ada pula produk-produk eksklusif dengan tambahan batu swarovski harganya mencapai Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per potong.

Namun setelah beberapa tahun menjalankan bisnis ini, beberapa orang memberikan masukkan Feny agar ia membuat busana Muslim dengan harga yang lebih terjangkau. Atas masukkan ini dan permintaan pasar, perempuan asal Bandung ini mewujudkannya lewat brand Zoya sejak 2010.

Ternyata respon masyarakat terhadap Zoya sangat baik dan sangat banyak penggemarnya. Zoya ini untuk kalangan menengah. Lalu sekitar dua tahun kemudian Feny kembali mengeluarkan brand ketiga, Mezora. “Ini untuk pasar middle low,” terang Feny.

Soal jenis busana yang dirilis tiga brand tersebut cukup beragam, seperti tunik, long dress, scarf, mukena, kerudung, baju koko dan lain-lain.

Mendirikan tiga brand busana Muslim dengan segmentasi pasar yang berbeda merupakan salah satu strategi Feny untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ia menyebut bahwa pasar busana Muslim di Indonesia masih sangat luas. Apalagi saat ini, pengguna busana Muslim juga terus bertambah, baik di Indonesia maupun dunia.

“Jadi kalau bicara soal peluang, masih cukup besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga luar negeri. Sekarang kalau kita ke Eropa, rasanya semakin banyak orang yang berbusana Muslim,” ungkapnya.

Menurut Feny, bisnis fesyen merupakan bisnis yang entry border-nya rendah. Maksudnya, siapa saja yang mau masuk ke dalam bisnis ini masih bisa. Ia menyarankan apabila para pemula ingin masuk ke usaha di bidang ini harus memiliki kekuatan dan keunggulan masing-masing.

“Kalau kita tidak punya keunggulan, kemungkinan besar tidak akan bisa survive karena memang para pemain di industri ini sangat banyak,” tandasnya.

Ibarat roda bisnis yang terus berputar, ada kalanya kondisi bisnis tidak selalu mentereng atau selalu berada di posisi atas. Kondisi ini juga terjadi pada bisnis Feny Mustafa, pemilik sekaligus pelopor label busana muslim di Tanah Air dengan brand Shafira.

Seiring berjalannya waktu, Shafira mulai meredup di pasaran karena tergeser oleh mulai membanjirnya ragam merek busana hijab anyar.  Apalagi kemunculan label busana kerudung di pasar Tanah Air cukup masif.

Bahkan empat tahun belakangan ini, Feny mengakui jika bisnis busana muslim yang dia geluti tengah  mengalami penurunan. “Sejak 2015 sampai sekarang trendnya turun terus. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Padahal dulu omzet bisa naik 200%,” katanya lirih.

Kondisi penurunan tersebut membuat Feny mengoreksi kembali arah bisnisnya. Ia mulai terbuka untuk menggarap pasar generasi milenial. Sementara di sisi lain, ia menyadari jika koleksi busana Shafira masih belum memenuhi kebutuhan anak zaman sekarang.

Meskipun demikian, perempuan 53 tahun ini tak patah arang. Ia mencoba beradaptasi dengan keinginan perempuan masa kini yang membutuhkan busana simpel namun elegan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Feny mulai merekrut profesional muda kreatif.

Tujuannya adalah untuk lebih memahami kebutuhan konsumen masa kini. “Bisnis itu ibarat saya naik motor dan mogok di tengah jalan. Karena saya tidak punya kemampuan otomotif, saya bawa ke bengkel. Lalu di bengkel, montir akan memperbaiki apa yang rusak,” ungkapnya.

Feny menyadari bahwa tidak semua persoalan bisnis bisa ia selesaikan sendiri. Memahami keterbatasannya, ia pun menyerahkan kepada orang-orang yang lebih ahli untuk mencari solusi dari persoalan yang sedang dihadapi usahanya.

Tak hanya mengubah desain koleksi busananya, ibu dua anak ini juga mulai aktif melibatkan sosial media dan situs untuk menjangkau pasar lebih luas. Selain itu, Zoya dan Mezura juga menggerakkan agen dan reseller untuk menjangkau konsumen di daerah-daerah.

Segala daya upaya pemasaran dilakukan agar tetap bertahan dan bisa bersaing dengan produk sejenis. “Hari ini semua serba online, pembelian juga bisa lewat online. Ada perubahan gaya hidup dan cara belanja, jadi mau tidak mau bisnis saya juga harus merambah online,” katanya.

Feny mengibaratkan bisnis layaknya hidup. Permasalahan menjadi satu paket di dalamnya dan tidak bisa dihindari. “Masalah pasti ada, tapi kami harus dicari solusinya. Bisa jadi bukan kami yang mengerjakan solusi, tapi ada orang yang lebih profesional,” katanya. (C-003/KNTN)***