Surya Batara Kartika, ST. “Pengusaha dan Organisator”

106

Surya Batara Kartika, ST., lahir di  Bandung pada tanggal 03 Agusturs 1989 silam. Selain menjabat sebagai Direktur Utama PT Safta Ferti (Manufaktur, Renewable Energy, Automasi) dan Komisaris Salaga Group, serta Pendiri Yayasan Madani Cahaya Qur’an, saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bandung.

Suami dari Syarifah Amelia, S.Si.MT., (29)  ini mengutarakan, sebelum berkiprah menjadi Ketua HIPMI Bandung, ia memang sudah sangat tertarik dengan dunia usaha sejak masih kuliah, terutama untuk bidang keilmuan mechanical engineering.  Proyek pertamanya bersama beberapa senior saat itu adalah pilot project pembangkit listrik skala mikro. Di akhir kuliahnya, Surya Batara mantap untuk mendirikan PT. Safta Ferti.

“Mungkin karena konsistensi saya dalam membangun usaha, akhirnya beberapa teman mendorong dan mengajak  saya untuk bergabung dengan HIPMI tahun 2015.  Saya terpilih sebagai Ketua HIPMI Bandung bulan Juli tahun lalu hingga 2021.  Semasa kuliah, saya pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Mesin ITB, sehingga teman-teman melihat saya mempunyai spesifikasi yang pas, yakni sebagai pengusaha tapi juga organisator”, ungkapnya kepada Bisnis Bandung di Bandung.

Surya Batara juga mengatakan, profesinya saat ini tidak berkaitan dengan latar belakang keluarganya, karena ibunya berprofesi sebagai dosen dan ayahnya adalah engineer dari salah satu BUMN. Hampir tidak ada yang mengambil jalur pure bisnis seperti dirinya.

Sebelum memegang jabatan sebagai Ketua Hipmi kota Bandung, Surya Batara juga aktif di Ikatan Alumni ITB, yakni Board of Alumni 2007.  Kemudian tahun 2013 menjadi anggota Kadin Bandung dan Gapensi. Tahun 2015-2017 ia menjadi konsultan BUMD Kabupaten Belitung sepulangnya dari short course di Hawaii.  Saat ini, sudah 1 tahun ia memegang jabatan sebagai Ketua HIPMI kota Bandung.  Secara pribadi, Surya Batara berprinsip untuk selalu bisa memberikan manfaat bagi orang lain sesuai keahliannya.

Ayah dari Altamish Luthfano Surya (4) ini mengutarakan, ada keunikan tersendiri yang dirasakan selama ia aktif di HIPMI Kota Bandung, karena HIPMI merupakan organisasi profesional yang latar belakang anggotanya sangat beragam, mulai dari pengusaha di bidang besi/baja hingga pengusaha kuliner, konsultan politik bahkan seniman, sehingga semua anggota harus mampu menyesuaikan diri satu sama lain, dengan satu tujuan yakni bisnis harus maju, dan semakin banyak yang mempunyai minat untuk berbisnis.

Pengurus HIPMI Kota Bandung berjumlah 80 orang, anggota tetap sekitar 300 orang, ditambah dengan circle  ”Pengusaha Muda Prioritas”, yakni sebuah program jejaring pengusaha yang terbuka untuk umum dan diinisiasi oleh HIPMI Bandung. Sebagian besar berusia 20-35 tahun, dan bidang usaha yang dijalaninya sangat beragam, sebagian besar adalah kelompok usaha fashion, kuliner, serta visual branding.

Secara umum, sebagai Ketua Umum HIPMI Kota Bandung, Surya Batara cukup banyak mendapatkan penghargaan dalam aktifitasnya sebagai pembicara dalam seminar, talkshow, maupun workshop kewirausahaan.

Satu hal menarik yang dirasanya dari HIPMI adalah, saat Pilpres kemarin, kedua pasang calon merupakan senior HIPMI, yakni Bapak Jokowi merupakan mantan Ketua Umum HIPMI Solo, dan Bapak Sandiaga Uno adalah juga mantan Ketua Umum HIPMI, sehingga sebagai junior betul-betul mengamalkan moto “berbeda-beda namun satu jua, yaitu satu wadah HIPMI”.

“Saya akan terus bergabung sebagai pengurus / Ketua HIPMI Kota Bandung sampai manfaat yang mampu saya berikan sudah optimal.  HIPMI membuat saya menjadi lebih memiliki mental untuk percaya kepada proses sosial. Latar belakang saya sebagai engineer yang mekanistik terasah menjadi lebih humanis setelah bergabung di HIPMI,” ungkap Surya Batara.

Penganut moto hidup “Percaya dengan diri sendiri, baik terhadap orang lain, namun berserah hanya kepada Allah” ini menambahkan, selain di HIPMI, ia juga aktif di yayasan dan beberapa usaha properti sebagai komisaris.

“Anak-anak saya tidak harus meneruskan usaha-usaha yang saya telah bangun, seperti usaha di bidang manufaktur. Namun semangat berwirausaha pasti akan saya tularkan walaupun untuk bidang yang lain. Saya percaya, belajar adalah proses seumur hidup, sehingga saya selalu membuka diri untuk belajar baik secara formal maupun informal. Dalam waktu dekat saya berniat untuk mengambil Master of Business,” ungkap Surya Batara.

Ia juga mengatakan sebagai nakhoda dari HIPMI Kota Bandung, ia bertugas untuk memastikan bahwa perahu berlayar ke tujuan yang benar, walaupun hal itu sangat bergantung pada kerjasama tim, baik dari Wakil Ketua Umum, Sekjen, bendahara umum serta segenap ketua bidang, ketua banom dan seluruh BPH.

Surya mengklaim, HIPMI Kota Bandung sangat aktif mendorong peningkatan kapasitas pengusaha muda Bandung, terutama anggota Hipmi.  Berbagai workshop rutin dilakukan oleh HIPMI Kota Bandung, mulai dari workshop bagi pengusaha cafe-coffee hingga mendorong art-preneur dan teknopreneur.  HIPMI Kota Bandung memiliki 14 badan otonom, di antaranya Banom HIPMI Bandung Economic Institute (HBEI) yang aktif sebagai lembaga riset dan kajian ekonomi, juga ada Banom Santripreneur serta Banom Womenpreneur. Untuk pendampingan terkait bantuan hukum, legal, perpajakan, serta administrasi tersedia Banom internal service.

HIPMI Kota Bandung juga aktif mengampanyekan semangat berwirausaha di Perguruan Tinggi, dan sudah lebih dari 11 sekretariat di seluruh Bandung, yang berjumlah lebih dari 2000 anggota HIPMI Peruguruan Tinggi.  HIPMI Bandung juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal transisi menuju industri 4.0 and beyond, melalui program ’Pengusaha Muda Prioritas”, yakni sebuah program jejaring pengusaha yang saling memberdayakan.

Menurut penggemar warna hitam ini, negara maju mensyaratkan minimal 14% penduduknya beriwirausaha, Indonesia baru 3,1%.  Bandung masih diatas rata-rata nasional, sekitar 5-6%. HIPMI Kota Bandung akan terus berusaha mendorong angka wirausaha di Indonesia.

Secara real business, anggota yang bergabung dalam HIPMI dapat memperluas jaringan, yakni dengan memperbesar market maupun memperpendek supply chain. Anggota juga akan difasilitasi untuk pelatihan-pelatihan, serta akan ada pendampingan terkait bantuan hukum, legal, perpajakan, serta administrasi dari Banom internal service.

Surya Batara melihat, pemerintah telah berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui berbagai program / insentif, namun tantangan global sudah semakin mengancam sektor usaha dalam negeri, dengan PR terbesar terkait difusi teknologi. Hal yang paling mendasar, program pemerintah cenderung memiliki pola kuratif. Misalnya, trend global terkait IOT / start up, dengan menyelenggarakan banyak pelatihan terkait tren tersebut. Tentu bukan hal negatif, namun kita sulit menjadi frontier. Harus diimbangi dengan kebijakan yang sifatnya long-run dan prediktif, yang mana inilah tugas dari pengusaha.

“Biasanya pengusaha dengan skill, exoerience, dan instingnya, mampu menyumbangkan visi pengembangan bisnis yang saat ini terlihat antimainstream, namun memiliki future-value yang besar,” pungkasnya kepada BB.

(E-018)***