Menyoal Cukai Rokok Naik Drastis

15

Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan memastikan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen pada 2020 dilakukan untuk mengkompensasi tarif cukai hasil tembakau yang tidak naik pada 2019.

“Tahun ini kita tidak menaikkan tarif, sehingga hitung-hitungan gampangnya adalah dua kali atau dua tahun. Ada lompatan dari 2018 ke 2020,” kata Dirjen Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi saat ditemui di Jakarta, Sabtu (14/9).

Heru menjelaskan kenaikan tarif cukai rokok dan harga jual eceran menjadi 35 persen ini dilakukan untuk mengendalikan konsumsi, dan menjaga penerimaan negara. Selain itu, melindungi kepentingan industri, termasuk petani dan pekerja hasil tembakau.

Meski demikian, tambah dia, penyesuaian tarif juga akan dilakukan berdasarkan golongan maupun jenis dari hasil tembakau tersebut. Mulai dari Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT).

“Intinya pemerintah memberi perhatian kepada industri padat karya. Sehingga korelasi atau implementasinya adalah SKT pasti tarifnya akan lebih rendah kenaikannya dari pada modal,” kata Heru.

Dengan pertimbangan dan perlakuan yang lebih ringan tersebut, ia mengharapkan industri padat karya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap para pekerja, meski diperkirakan kebijakan kenaikan tarif cukai ini dapat menekan konsumsi.

Selain itu, kebijakan tarif baru akan mempertimbangkan pengenaan tarif lebih rendah terhadap rokok yang lebih banyak mempunyai konten dalam negeri dibanding produk hasil tembakau yang menggunakan bahan baku impor.

“Rokok-rokok yang mempunyai konten lokal lebih tinggi tentunya kita akan perhatikan melalui kebijakan tarif dibandingkan dengan rokok-rokok yang dominan menggunakan konten impor. Prinsip itu yang akan diramu lebih detail,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau sebesar 23 persen serta harga jual eceran menjadi 35 persen mulai 2020 yang akan diberlakukan sesuai Keputusan Presiden.

Sementara itu, kenaikan tarif cukai rokok, yang telah dipertimbangkan dari sisi industri, tenaga kerja, petani tembakau, pedagang eceran maupun penerimaan negara ini, sebelum periode 2018 rata-rata berkisar 10 persen-11 persen.

Tujuan Utama Kenaikan

Pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran naik 35 persen mulai awal 2020. Kebijakan ini sudah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan bahwa kebijakan tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk mencari alternatif dalam menambah sumber penerimaan negara. Namun tujuan utamanya adalah mengendalikan tingkat konsumsi di masyarakat.

“Kenaikan cukai rokok tujuan utamanya pengendalian agar konsumsi rokok tidak terlalu tinggi. Dengan demikian menaikkan cukai rokok harus dibaca adalah untuk mengurangi konsumsi rokok di masyarakat yang demikian tinggi,” kata Piter saat dihubungi wartawan, Minggu (15/9/2019).

Piter mengatakan meskipun kemudian kenaikan cukai rokok ini meningkatkan penerimaan negara itu adalah keuntungan lainnya. Bukan sebagai tujuan utama dari pemerintah.

“Ingat. Tujuannya adalah untuk mengurangi konsumsi rokok,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Heru Pambudi mengakui bahwa kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen di 2020 akan berdampak pada penerimaan negara.

Menurutnya, potensi penerimaan negara yang akan diperoleh dari kebijakan kenaikan cukai rokok mencapai Rp173 triliun. Tetapi, pihaknya menegaskan pemerintah tidak menargetkan secara khusus terkait penerimaan tersebut.

“Revenue (nanti) mengikuti. Jadi kita tidak membuat kebijakan ini berdasarkan target revenue tapi berdasarkan pada konsumsi yang harus secara gradual diturunkan tapi industri masih bisa kita perhatikan,” tuturnya di Jakarta, Sabtu 14 September 2019. (C-003/BBS)***