RRT Produsen Baja Terbesar Dunia PT.KS Indonesia Alami Laba Negatif

1654

BISNIS BANDUNG — Pakar Perdagangan Internasional Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, Ph.D mengungkapkan, kisruh PT.Krakatau Steel Indonesia yang mengalami laba negatif mencuatkan sejumlah pertanyaan, sejauhmana kinerja industri besi baja tersebut.

Dijelaskan Yayan , berdasarkan data  World Steel Association tahun 2018, produsen baja terbesar di dunia adalah Republik Rakyat Tiongkok sebesar 1.808,6 juta metrik ton disusul  Uni Eropa sebesar 928,3 juta metrik ton, India 106.5 juta metrik ton, Jepang 104.3 juta metrik ton dan Amerika Serikat 86,7 juta metrik ton. Untuk Uni Eropa negara ekportir terbesar dipegang Jerman, Itali, Belgia dan Turki.

Sedangkan Indonesia menempati peringkat ke 27 dengan total produksi sebesar 5.5 juta metrik ton pada tahun 2018 , meningkat dari 5.2 juta metrik ton pada tahun 2017 . Tahun 1980 hanya i 0.8 juta metrik ton ,tahun 2000 menjadi  2.9 juta metrik ton , tahun 2010 naik menjadi 3.6 juta metrik ton 10,  kemudian pada tahun 2012 turun menjadi 2,3 juta metrik ton , meningkat kembali pada tahun 2015 sampai 4.9 juta metrik ton. Total konsumsi komoditas besi dan baja Indonesia kurang lebih sekira 13.9 juta metrik ton dengan proporsi impor sebesar 62.58% .

Untuk importir, negara terbesar adalah Uni Eropa (41,2 juta metrik ton), disusul oleh Amerika Serikat (35,4 juta metrik ton), Korea Selatan (19,3 juta metrik ton) dan Vietnam sebesar 16,2 juta metrik ton. Indonesia menempati importir peringkat ke 12 (11,0 juta metrik ton) dibawah Mexico (13,5 juta metrik ton) dan diatas Polandia (10.7 juta metrik ton). Sedangkan jika berdasarkan net importir Indonesia menempati peringkat ke-4 (8.7 juta metrik ton) setelah Mexico – 8,6 juta metrik ton, dibawah Uni Eropa (10.1 juta metrik ton), dan Vietnam sebesar 12.3 juta metrik ton.

Yayan menyebut , jika mengacu pada data BPS, impor pipa besi baja terbesar berasal dari Tiongkok sebesar 36.00%, kemudian Jepang sebesar 28,07%, Singapura  5.35%, Korea Selatan  5.24% dan Jerman r 4.02%. Selama tahun 2014 berdasarkan data World Steel Association, Indonesia mengalami kenaikan produksi dari 2.6 juta metrik ton pada tahun 2013 menjadi 4,8 juta metrik ton pada tahun 2014 metrik ton. ”Tetapi produksi ini tidak mampu  memenuhi kebutuhan domestik yang selalu naik hingga mencapai 13.9 juta metrik ton,” ungkap Yayan, Selasa (17/9/19) di Bandung .

Sangat rentan

Produksi baja hanya mampu memenuhi pangsa pasar sekitar 40%, menyebabkan indikasi sektor ini sangat rentan terhadap gejolak eksternal seperti geo politik produsen dan tingkat nilai tukar rupiah. Tingginya komposisi impor pada suatu industri menurut Yayan , tidak baik bagi suatu industri untuk mempertahankan daya saing . Walau dari sisi konsumen memperoleh manfaat yang begitu tinggi karena memperoleh harga yang lebih efisien akan tetapi manfaat dari produktivitas sektor ini diserap oleh negara produsen (eksportir), seperti  Tiongkok, Jepang, Rusia dan Uni Eropa.

Tingginya kerentanan eksternal akibat impor akan mempengaruhi terhadap dua sisi industri , di antaranya rentan terhadap keseimbangan eksternal karena ( Indonesia) menggunakan dollar untuk membeli produk internasional, sehingga menggerus cadangan devisa negara. Kemudian akan melemahkan daya saing dalam jangka panjang jika tidak ada antisipasi peningkatan efisiensi pada produsen domestik. Kunci dari hal itu , ungkap Yayan  yaitu strategi peningkatan efisiensi produsen domestik dan subtitusi impor.

Dikemukakan Akademisi Unpad ini ,  peningkatan efisiensi dapat dilakukan dengan meningkatan capital intensif dan restrukturasi industri besi baja nasional agar dapat meningkatkan kapasitas produktivitas domestik. Misalnya,  mengambil pangsa pasar impor untuk pasar domestik dengan memberlakukan non tarif barrier. Antara lain, melalui penggunaan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) untuk kebutuhan domestik guna mengurangi pasar impor baja Tiongkok. SNI diberlakukan agar baja impor tidak mudah bersaing dengan baja domestik karena tidak sesuai dengan SNI. Dari sisi produktivitas peningkatan kapasitas produksi dan membuat pabrik baru untuk industri baja sangat penting dengan meningkatkan iklim investasi dari hulu dan hilir melalui tax holiday atau kemudahan perijinan berusaha melalui efisiensi prosedur investasi.

Mengapa efisiensi itu sangat penting , khususnya bagi oleh BUMN,  karena jika  melihat pada kasus PT. Krakatau Steel, permasalahan yang dihadapi oleh PT. KS harus menanggung beban keuangan yang terus meningkat. Berdasar data Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Krakatu Steel tahun 2015-2018, walau dari sisi pendapatan terus meningkat , namun beban umum dan administrasi lebih besar dibandingkan dengan pendapatan neto. Artinya permasalahan efisiensi operasional perusahaan menjadi hal yang paling krusial untuk menghasilkan tingkat efisiensi perusahaan.

Padahal jika kita lihat, lanjut Yayan selama periode Jokowi yang kerap dengan isu infrastruktur , kebutuhan besi baja merupakan komoditas primadona yang dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat melalui peningkatan kesempatan kerja dan permintaan domestik. ”Hal ini tidak bisa dibiarkan dalam jangka waktu yang panjang , jika kita memiliki arah Pengembangan Industri Strategis yang berbasis Daya Saing Global dengan fokus pada sumber daya domestik,” pungkas Yayan .  (E–018)***