Tol Maut Itu Perlu Perhatian Khusus

17

HAMPIR  setiap tahun jalan tol di kilometer 100 – 90 terjadi kecelakaan yang selalu merenggut nyawa. Setelah kecelakaan tabrakan beruntun yang meilbatkan 12 kenadaraan, menewaskan delapan orang dan melukai puluhan orang lainnya, selang beberapa saat di tempat yang hampir sama, terjadi pula kecelakaan lain. Itu yang terjadi pada bulan September tahun ini. Sebelumnya juga amat sering terjadi kecelakaan, baik tabtrakan maupun kecelakaan tunggal.

Ada yang mengaitkan kecelakaan yang terus menerus itu karena adanya turut campur makhluk halus. Tetapi sebagai manusia berperadaban modern, sungguh naïf ”menyalahkan” makhluk lain dalam berbagai petrsistiwa semacam itu. Pemerintah yang disertai para ahli konstruksi, perhubungan, perlalulintasan, dan klimatologi, petlu mengadakan diskusi terbatas (diskusi fokus). Kaji lagi hasil penelitian awal ditetapkannya lokasi jalan tol tersebut. Berangkat dari studi fisibilatasi itu, tim bisa melangklah ke pengerjaan dari preoses awal hingga akhir. Diskusi itu diharapkan dapat menemukan fakta adanmya ketidak-sesuaian di sepanjang ”jalur maut” itu.

Mungkin saja terjadi degradasi konstruksi akibat labilitas tanah, kemiringan jalan akibat pengerjaan yang tidak terkontrol, atau penurunan yang kelandaiannya tidak sesuai dengan ukuran yang direncanakan. Bahkian mungkin saja, pengaruh udara, persilangan arah angin, dan berbagai kemungkinan. Semuanya harus segera diteliti ulang. Bila perlu, dilakukan pengalihan jalur ke sisi lain yang lebih aman.

Kita patut berbangga, Jalan Tol Cipularang itu dikerjakan sejak studi kelayakan hingga pembangunan, dilakukan tenaga ahli domestik. Jalan tol itu merupakan percontohan, bahwa SDM kita mampu mengerjakan pekejaan sesulit itu. Hal itu dapat dijadikan bahan promosi di dunia internasional. SDM Indonesia. akan menjadi rebutan berbagai negara apabila mereka membangun jalan tol di negaranya, mereka akan melirik SDM Indonesia. Tenaga berkualitas seperti itu yang patut kita kirim ke luar negeri dalam upaya meningkatkan kepercayaan internasional di samping meningkatkan devisa.

Pemerintah, dalam hal ini pengelola jalan tol dan Kementerian  PUPR segera melakukan tindakan Kita tidak dapat memebiarkan kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi di jalur yang sama. Tampaknya harus dilakukan penggalian di beberapa titik untuk meneliti batuan, pengarukan, bahkan konstruksi jalan tol sepanjang 10 km dari 102 – 92, paling pendek antara km 95 – 90. Tindakan darurat yang bisa dilakukan, pengelola jalan tol, membatasi arus kendaraan yang melewati jalur itu,. Semua kendaraan berpenumpang manusia, harus menggunakan jalan arteri, dari pintu tol Padalarang atau Cikamuning, mereka dapat masuk tol lagi melalui pintu tol Jatiluhur atau Sadang. Hanya kendaraan pengangkut barang yang boleh mengguankan jalur maut itu. Itu pun harus benar-benar di bawah pengawasan, baik tonase muatan maupun kecepatan.

Mengapa justru kendaraan pribadi atau kendaraan antar-kota, antarprovinsi, dan bus yang harus masuk jalan arteri?. Kendaraan berpenumpang manusialah yang harus mendapat pengamanan. Daripada menggunakan jalan tol dengan risiko sangat parah, sebaiknya menggunakan jalan lama, mudah-mudahan selamat. Truk bermuatan barang bertobnase tinggi, agak sulit bila harus melalui jalan arteri. Selain banyak tikungan, jalan antara Padalarang-Ciganea, juga menanjak dan menurun. Truk bermuatan barang dengan tonase besar itu sering kali menjadi penyebab terjadinya tabrakan. Apabila terjadi kecelakaan tidak akan menimbulkan banyak korban manusia.Kendaraan berpenumpnag manusia akan menjalankan kendaraannya lebih hati-hati di jalan arteri karena kondisi jalan yang tidak lurus. Dari tikungan ke tikungan  lain butuh konsentrasi. Para pengemudi akan selalu siap menghadapi jalan berliku dan naik turun.Pemandangan kiri kanan jalan indah dan hijau yang tidak melelahkan mata pengemudi.

Para penumpang dapat betristirahat di warung-warung yang cukup banyak di sepanjang jalur antara Padalaeang-Purwakarta. Perjalanan lebih santai dan  nyaman karena tidak ada kendatraan besar pengangkut barang yang lewat di jalur arteri itu. ***