Bandara Internasional BJ Habibie

55

            BERPULANGNYA Presiden RI ketiga BJ Habibie meninggalkan kesan yang indah-indah belaka. Banyak pihak yang mengharapkan agar visi Habibie tentang Indonesia  dilanjutkan dan ditetapkan sebagai Visi Indonesia. Dari berbagai diskusi yang diselenggarakan antarpemikir, selalu berakhir dengan keluhan bahwa Indonesia tidak mempunyai visi. Oleh karena tidak mempunyai visi itulah maka arah pembangunan Indonesia selalu berubah-ubah. Pemerintah memang mencanangkan untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045. Kalaulah itu merupakan visi, tentulah seluruh geliat pembangunan kita diarahkan untuk itu. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Mewujudkan persatuan saja, masih merupakan masalah. Padahal “persatuan” merupakan kata kunci untuk melangkah bersama menuju tujuan yag sudah kita rumuskan bersama pula. Hampir setiap hari kita membaca di media masa dan media sosial, tentang terjadinya perseteruan atau setidak-tidaknya pertengkaran antarelit. Hal itu tentu saja berdampak pada terjadinya perseteruan dan pertengkaran antarkompnen bangsa di tingkat bawah. Elit bangsa memberikan contoh-contoh buruk kepada masyarakat. Masyarakat sekarang ini tidak memperoleh keteladanan yang baik dari para elit bangsa. Selah-olah kita baru tersadar bahwa sesungguhnya kita mempunyai seorag tokoh teladan, yaitu BJ Habibie  almarhum, yang wafat pada tanggal 11 September yang lalu.

Seluruh masyarakat Indonesia sepakat bahwa nama BJ Habibie harus tetap melekat di setiap hati. Agar hal itu terwujud, nama BJ Habibie harus diabadikan di bangunan-bangunan monumental dan berskala internasional. Salah satu usul yang baru-baru ini mencuat ke permukaan, dan layak diperhitungkan, adalah usul untuk mengubah nama BIJB Kertajati menjadi Bandara Internasioanl BJ Habibie. Sebuah petisi tentang hal itu sudah dilancarkan di medsos. Melalui change.org salah seorang pemilik akun, yaitu Ihsan Joe menginsiasi petisi tersebut. Targetnya adalah mengumpulkan seribu tandatangan untuk mendukung petisinya.

Petisi tersebut direspon positif oleh Gubernur Jabar Mohamad Ridwan Kamil. Sebagian dari perjalanan hidup BJ Habibie, menurut Ridwan Kamil, dilakoninya di Jawa Barat, khususnya Bandung. Sebelum bersekolah ke Jerman, Habibie menempuh pendidikan di Bandung. Di Bandung pulalah Habibie mendirikan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio) yang kemudian diubah namnya menjadi PT Dirgantara Indonesia. Kiprah Habibie semasa hidupnya tidak terlepas dari masalah kedirgantaraan, khususnya pesawat terbang.

Disebut-sebutnya BJ Habibie untuk mengganti nama BIJB Kertajati, menambah perbendaharaan nama yang sudah diusulkan terlebih dahulu. Ada yang mengusulkan nama Bandara Internasional Bagus Rangin (nama pahlawan setempat), ada yang engusulkan Bandara Internasional Siliwangi, selain tetap bernama BIJB Kertajati. Dari nama-nama yang diusulkan itu, nama BJ Habibie rasa-rasanya paling tepat. Sebuah penghormatan bagi beliau yang semasa hidupnya berjasa besar bagi negara. Beliaulah yang selalu menegaskan bahwa bagsa Indonesia haruslah mengikuti perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan. Beliau pulalah yang merintis pembuatan pesawat terbang. Maka tepatlah kiranya apabila nama almarhum dijadikan pengganti nama yang berkaitan dengan kedirgantaraan, seperti BIJB Kertajati.

Kita yakin, penamaan Bandara internasional BJ Habibie akan membuat bandara di Kertajati, Majalengka, itu benar-benar menginternasional, mengngat nama Habibie dikenal luas di dunia internasional. Sebuah penghormatan besar bagi seorang anak bangsa yang terbaik, seorang Bapak Teknologi, dan Bapak Kedirgantaraan Indonesia. Namun penghormatan itu haruslah diikuti dengan sikap dan prilaku yang benar-bear merupakan sebuah penghormatan bagi seorang Bapak Bangsa.

Kita khawatir, setelah BIJB Kertajati berganti nama menjadi Bandara Internasional BJ Habibie, peyikapan kita terhadap bandara yang kadung disebut sebagai bandara internasional itu akan tetap sama seperti sekarang. Kita memperoleh kesan bahwa BIJB Kertajati sekarang ini keberadaannya tidak memperoleh dukungan banyak pihak. Aksesibilitas sebagai salah saatu aspek yang dibutuhkan untuk menghidupkan sebuah bandara, terkesan tidak diperhatikan. Akses jalan dari Bandung menuju bandara tesebut, yaitu dibangunnya tol Cisumdawu, pelaksanaannya sedemikian lambat, sehingga orang enggan untuk terbang dari Kertajati.

Penghormatan kepasa seorang tokoh sekaliber BJ Habibie,  perlu disertai dengan perawatan profesional terhadap sarana fisik yang melekatkan namanya, semisal Bandara Internasional BJ Habibie. Kita khawatir alih-alih ingin memberikan penghoratan kepada almarhum BJ Habibie, mlah membuat kontraproduktif hanya karena sikap dan prilaku kita yang tidak mencerminkan rasa hormat kepada pemilik nama.***

Dr. Yayat Hendayana

pengajar pada program sarjana

dan pascasarjana Unpas.