UMKM Mengadopsi Teknologi Digital Mencapai  6,5 Juta

17

BISNIS BANDUNG — Pendamping UMKM Juara, Arief Yanto Rukmana, S.T., M.M mengemukakan, berdasarkan Pengamatan dan Analisis serta data pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika , jumlah UMKM yang sudah mengadopsi tekhnologi digital 2019 mencapai 6,5 juta dan proyeksikan mencapai 8 juta UMKM pada tahun 2020.

Program UMKM digital, umumnya berbasis komunitas, membentuk suatu ekosistem bisnis yang saling mengupgrade ilmu dan keahlian SDM bagi anggotanya.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan UMKM digital yang tumbuh signifikan adalah program pemerintah yang mendukung tumbuh kembangnya semangat berwirausaha melalui program- program wirausahanya yang terpadu  melalui wadah strategis rancangan  pemerintah Jawa Barat.

Yang harus berjibaku sendiri memahami dan mendalami ilmu teknologi informasi.

Arief yang berprofesi sebagai Dosen Kewirausaan di STIE STAN dan STMIK Indonesia Mandiri Kota Bandung ini mengungkapkan, terobosan ideal yaitu dukungan teknis dari pemerintah melalui programnya yang spesifik untuk UMKM go digital. Dalam program UMKM digital dibutuhkan peranan mentor yang ahli dalam memberikan pelatihan dan pendampingan untuk memudahkan menyerap ilmu teknis  dan meminimalisasi risiko ketika ada kesulitan dalam penerapan teknik migrasi online,  mulai merancang dan mendesain dengan Corel Draw, Adobe Photoshop, Ilustrator dan Indesign, sampai membuat fotografi produk, memberikan copywriting yang menarik, sampai penerapan kata kunci untuk SEO . ”Hal teknis itu yang di butuhkan untuk pelaku UMKM Jabar terkait dengan usahanya,” ujar Arief.

Menurutnya , UMKM digital akan  tumbuh subur di Indonesia karena melihat potensi dan peningkatan jumlah konsumen yang sangat besar. Indonesia  merupakan pasar potensial untuk pengusaha asing negeri, hingga banyak produk luar negeri yang membanjiri pasar tanah air karena gaya hidup masyarakat yang konsumtif . Masyarakat Indonesia juga gemar sosialita dan berbagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi penyebab melek teknologi.

Manfaat untuk pemerintah, lanjut Arief adalah penerimaan sektor pajak UMKM dari transaksi digital (jual beli online) serta meningkatkan daya saing UMKM dalam negeri untuk bersaing di kancah global karena efek dari persaingan, manfaat bagi pelaku usaha adalah dapat mempromosikan produk lebih luas dan meningkatkan target penjualan

Dukungan pemerintah

Di Indonesia, Kota Jogja UMKM digitalnya sudah cukup tinggi, di dukung oleh pemerintah dan komunitas wirausaha, Untuk Jawa Barat adalah Kota Bandung menjadi salah satu UMKM digital terbanyak dengan indikator suksesnya program UMKM Jawa Barat, WUB Jabar, UMKM Juara dan OPOP. Produk  yang  membanjiri media online, mulai dari kuliner kemasan hingga fashion, accesories sampai ke jasa konveksi.

Arief menyebut ,  negara yang pertumbuhannya begitu cepat dan menjadi pesaing terbesar dunia untuk UMKM digital adalah Tiongkok. Produk China banyak di gemari karena harga yang terjangkau. Dengan produksi massal membuat produk buatan China berharga murah, di tunjang  dengan biaya tenaga kerja yang rendah dan melimpah. Berbeda dengan Indonesia yang jumlah penduduknya terbesar nomor tiga dunia setelah China dan India ,  menjadi pasar empuk bagi produk asing, khususnya dari China, dengan market place  Alibaba dan ongkos kirim yang murah ,bahkan  gratis .

Saat ini di Jawa Barat, sedang aktif komunitas digital marketing yang di motori oleh “Komunitas Tangan di Atas” serta ABDSI Jabar didukung pemerintah melalui RKB membuat pergerakan UMKM Go Digital, memberikan sharing ilmu bisnis online dan melalui Kemenkominfo melalui fasilitasi satujuta domain gratis. Gerakan Kampung digital juga marak  Kota Bandung,  Garut, Ciamis dan Bekasi yang memberi kontribusi aktif dalam percetakan UMKM digital .

(E-018)***