Dari Ekspor Ikan Hingga Sukses Berbisnis Batik

29

TREN belanja online, melahirkan banyak pebisnis online dengan omzet ratusan juta. Salah satunya adalah Andri Firmansyah, pedagang batik Tusta.

Sebenarnya, Tusta bukan merek baru, bahkan tidak didirikan oleh Andri. Dua tahun lalu, pria kelahiran Surabaya tahun 1983 ini diajak menggarap lagi Tusta yang sudah lima tahun mati suri.

Andri mengiyakan ajakan itu, karena sejak 2012, ia bersama isterinya punya pengalaman berbisnis baju. Bisnis baju muslimah berlabel AMH ini cukup sukses, sampai mereka berhasil membuka empat toko di Surabaya.

Sebelum mati suri, menurut Andri, batik Tusta membidik segmen pasar menengah ke bawah. “Teman saya itu tahu keahlian saya di penjualan online, karena selama setahun terakhir ia berkonsultasi dengan saya untuk tesisnya bertema penjualan online,” kata Andri.

Andri melihat prospek batik Tusta lebih bagus ketimbang busana muslim. Akhirnya, ia menutup AMH dan serius menggarap bisnis batik. “Penjualan AMH sudah stagnan,” ujarnya.

Andri berkisah bahwa ia harus berburu bahan batik ke Pekalongan, untuk mengganti pakem dan model baju keluaran batik Tusta. Andri memutuskan untuk mengubah segmentasi pasar Tusta, ke kalangan pekerja dan profesional.

Tak lupa, tampilan Instagram untuk etalase batik Tusta pun diubah, seperti juga desain pakaian formal yang mereka tawarkan. Banderol baju Tusta ditetapkan Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per buah.

Andri memanfaatkan semua fitur pemasaran online dan menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta untuk branding serta marketing online. Ia rela membayar biaya endorse para influencer.

“Kalau orang yang baru mulai berbisnis, mungkin merasa sayang bayar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta sekali iklan. Saya enggak kayak gitu,” jelas lulusan Universitas Airlangga jurusan Manajemen ini.

Strategi Andri rupanya cukup ampuh. Jika tadinya dalam sehari ia melayani satu dua pesanan, kini harus mengirimkan puluhan paket sehari. Tahun ini, pertumbuhan bisnis Tusta luarbiasa. “Bagi saya, Batik Tusta adalah titik balik,” ujar dia.

Kendati usianya baru 36 tahun, Andri sudah mengalami jatuh bangun berbisnis sendiri. Mental tahan banting ini diperoleh dari orangtuanya yang merupakan pebisnis hotel.

Suatu kali, Andri menuturkan, ia menyaksikan orangtuanya menjual mobil untuk menutup kerugian usahanya. Orangtuanya menjelaskan, bahwa punya usaha tidak berarti akan untung terus, usaha juga kadang merugi hingga pemiliknya mesti merelakan aset. Pelajaran ini senantiasa melekat di benak Andri.

Tahun 2005, saat duduk di bangku semester akhir kuliah, seorang pengusaha di Lamongan mengajaknya berbisnis ekspor ikan. Andri yang memiliki bekal ilmu dan keahlian mengekspor ikan karena pernah magang di perusahaan kargo, memutuskan menyambut kongsi ini, alih-alih meneruskan bisnis hotel keluarga.

Berbekal modal Rp 70 juta dari orangtuanya untuk membeli mobil boks, serta ratusan juta dari mitra untuk modal membeli ikan, bisnis pertama Andri pun berjalan.

Rupanya ekspor ikan ke Singapura dan Malaysia ini bukanlah hal yang mudah. Selama lima kali pengiriman awal, Andri mengalami kerugian. Di tahun kedua, bisnis ekspor ikannya ini malah stagnan dan sulit untuk berkembang.

Makanya, Andri memutuskan untuk melepas usaha ini dan beralih ke bisnis pulsa elektronik. Dari bisnis pulsa elektronik ini, Andri mampu meraup omzet miliaran rupiah per bulan. Tahun 2010, dia memiliki empat cabang di empat kota dan puluhan karyawan.

Namun, tahun 2012 ada kebijakan dari operator seluler yang membatasi distribusi pulsa elektronik. Sejak saat itulah omzet bisnis Andri terus merosot, bahkan, turun hingga 50% sejak tahun 2013. Hingga pada tahun 2014, dirinya memutuskan menutup usaha ini.

Tambal ban

Bisnis pulsa elektronik ini memang membuat Andri jadi miliarder. Namun, ternyata bisnis ini juga menyeret dia dalam sengketa pajak dengan negara. Pasalnya, Andri dituding memiliki kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp 19 miliar.

Alhasil, Andri harus meluangkan waktu untuk merampungkan sengketa tersebut. Sembari mengurus sengketa pajak, Andri tetap berbisnis.

Sejak tahun 2012, ia membuat cairan sendiri penambal ban bernama VionSeal. Ceritanya, saat melihat banyaknya motor yang parkir di sebuah mal di Surabaya, Andri langsung mencari peluang bisnis.

Ia pun mendapat inspirasi membuat cairan antibocor ini. Produk serupa, sebenarnya sudah lebih dulu dikenal di manca negara Cairan tersebut mengantisipasi kebocoran ban dan diklaim mampu mencegah kebocoran selama 1,5 tahun.

Bermodal Rp 500 juta, Andri memproduksi VionSeal lewat makloon. Penjualannya mencapai 5.000 botol dan Andri berhasil menyabet penghargaan untuk Wirausaha Mandiri dengan produknya ini.

Namun, enam tahun berjalan, banyak komplain berdatangan, Para pelanggan meminta ganti rugi karena produk yang diklaim bertahan selama 18 bulan, hanya mampu mencegah kebocoran selama enam bulan. Lantaran produknya tak sesuai dengan ekspektasi, Andri memutuskan menutup usahanya ini pada 2014.

Pada waktu yang bersamaan merintis bisnis VionSeal, isteri Andri memutuskan untuk berjualan baju muslimah secara online. Melihat tren penjualan online terus menanjak dan karena masih punya uang sisa dari bisnis pulsa, Andri membuka toko untuk bisnis baju muslimah ini di Surabaya.

Bahkan, terakhir, label AMH berhasil mendirikan empat toko di Surabaya. Namun, toko tadi hanya bertahan selama empat tahun. “Saya putuskan untuk tutup dan fokus ke online, karena saat itu harga sewa terus naik dan upah karyawan naiknya dua kali lipat,” kenang Andri.

Hanya saja, karena berbarengan mengurusi sengketa pajak di pengadilan, Andri kurang serius menggarap penjualan AMH, sehingga menurut dia, hasilnya pun tidak maksimal.

Pemberontakan

Hingga akhirnya, Andri pun beralih ke bisnis Batik Tusta yang disebutnya sebagai titik balik untuk dirinya sendiri.

Berbekal jatuh bangun berbisnis, Andri punya hasrat untuk mengajarkan ilmu wirausaha. Ia lantas membuka lembaga pelatihan bisnis bernama Digital Marketing Campus (DIGIMARU).

Lembaga ini didirikan oleh Andri bersama temannya pada 2016. Kurang lebih sudah ada 1600-an alumni dari Digimaru. “Alumni ini berasal dari Jakarta dan Surabaya, karena fokus kami memang ada di dua area itu,” ucapnya.

Andri sengaja tak meluaskan pasar Digimaru seluruh Indonesia. Dia berujar, saat ini dirinya masih sibuk mengelola dan mengembangkan Batik Tusta.

Maka, dia tak ingin terbuai dengan asyiknya pekerjaan menjadi trainer. Walaupun diakuinya, menjadi trainer sangat menggiurkan.

“Mengajar, melatih orang berwirausaha ini sebetulnya passion saya. Dengan mengajar orang-orang, ilmu saya justru semakin bertambah,” imbuhnya.

Sebagai seorang pengusaha, Andri memiliki impian agar para peserta pelatihannya ini bisa mendapatkan ilmu dan keahlian dalam berbisnis.

Lembaga pelatihan ini, menurut Andri, sejatinya adalah bentuk pemberontakannya terhadap sistem perkuliahan dulu. Sebagai seorang sarjana manajemen pemasaran, dirinya merasa kurang dibekali keahlian.

“Zaman saya kuliah dulu, mahasiswa hanya dibekali teori saja. Buat apa jika lulus kuliah hanya text book, jadi tidak ada skill-nya,” katanya.

Dia berharap, dengan pelatihan ini, banyak dosen yang mau mengajarkan mahasiswanya untuk lebih banyak menggali ilmu langsung ke para praktisi.

Sembari terus menggarap bisnis pelatihan, Andri serius mencermati perkembangan Batik Tusta. Ia berencana untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan dengan cara berkolaborasi bersama para influencer.

“Targetnya follower bisa 250.000. Saat ini, 160.000. Dulu kan follower Batik Tusta hanya 20.000,” katanya.

Untuk itu, di tahun kedua ini, dia berharap agar Batik Tusta memiliki pertumbuhan omset dua kali lipat dibanding pada tahun awal berubah segmen.

Di tahun ketiga, harapannya adalah Batik Tusta bisa bertumbuh secara stabil dan memiliki kekuatan branding di kalangan pelanggannya. Sehingga pada tahun 2020 nanti harapannya kami bisa membuka toko batik.

“Kami ingin usaha Batik Tusta ini bisa berjalan secara online dan juga offline,” ucapnya dengan optimis. (C-003/BBS)***