Dra. Herni Sri Sugiani Menghindari Riba, Tidak Gunakan Modal Perbankan

3320

Dra. Herni Sri Sugiani, yang lahir tanggal 08 September 1968 dan anak dari pasangan keluarga Sopandi dan Rumsah ini, kini berprofesi sebagai pengusaha kuliner, selain mendapat amanah juga sebagai Koordinator Kampung UKM Digital dan Koordinator UKM Bojongsoang.

Istri dari Iman S. Riyadi ini mengaku bahwa, awal dirinya tertarik menjadi pengusaha kuliner yakni ketika suaminya resign dari tempatnya bekerja dan tertarik pada keripik yang berasal dari Banjar Ciamis. Kemudian dirinya mencoba membuat keripik sendiri, yang sebelumnya sudah melalui uji coba bumbu dan racikan rempah-rempah.

“Namun karena satu dan lain hal, dari keripik selanjutnya berpindah ke produksi kacang, juga dengan bumbu rempah-rempah yang sekarang diproduksi dengan brand ‘Gumiwang’.  Nama itu diambil dari bahasa Sunda kuno sebagai  wujud kecintaan pada sastra lama, dan saya merupakan lulusan sastra UPI yang mencintai puisi lama. Gumiwang artinya kejayaan, keemasan,  kegemilangan, kesuksesan. Latar belakang keluarga memang wiraswasta. Abah adalah pengusaha yang memiliki pabrik kecil-kecilan untuk pengolahan kelapa bahan minyak setengah jadi yang bekerjasama dengan pabrik minyak olahan.  Mungkin inilah yang menjadi warna dalam hidup saya,” ungkap Herni  kepada BB di Bandung.

Menurut Dra. Herni, ia memilih usaha yang dijalaninya saat ini, karena menurutnya jarang ada orang yang mau berkutat dengan bumbu-bumbi rempah yang agak rumit dalam proses pengolahannya.  Dirinya pun memiliki kemampuan memproduksi hanya dari diri sendiri alias otodidak. Workshop / tempat produksinya berada di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Hingga saat ini jumlah produksi masih berusaha untuk ditingkatkan, yakni rencana awal sekitar 100 kg / minggu, rencana menengah 1000 kg / minggu, dan rencana jauh 10.000 kg / minggu.  Saat ini kemampuan produksi rata-rata baru sekitar 50 kg / minggu.

Penjualan setiap bulannya untuk outlet dan toko sekitar 20 kemasan @ 200 gram, sedangkan untuk koperasi yang berjumlah 70 koperasi, dibuatkan kemasan minipack, dan dalam satu minggu dijual sekitar 160 pack / 1 koperasi. Ditambah lagi penjualan melalui reseller online yang rutin sekitar 100 pack / bulan dalam kemasan kiloan.  Outlet dan resellernya terdapat di pasar modern, toko kue, outlet rumah mode serta beberapa rest area, toko oleh-oleh, koperasi , hotel maupun kantor-kantor dinas pemerintahan.

Harga jualnya dimulai dari Rp 2000, Rp 10.000, Rp 30.000, Rp 65.000 serta Rp120.000.  Omset perbulan mencapai sekitar Rp 5 – 10 juta.

Ibu dari Alifa Adnidannisa Insani S.Tr. dan Aufa Bahauddin Anndif Insani ini mengutarakan, agar produknya tetap mempunyai daya saing, ia selalu berupaya memperbaiki citarasa, memperbaiki proses, memperbaiki kemasan, memperluas jaringan, mengikuti pelatihan / seminar, serta menambah ilmu untuk pemasaran

Penganut motto hidup “Hidup untuk menolong agama Allah,  Allah pasti menolong kita” ini mengungkapkan bahwa, ia menghindari bantuan perbankan, karena ia tidak ingin terkait riba.  Herni  berharap, pemerintah bisa membantu dalam meningkatkan kwalitas produksi.

“Saya membutuhkan mesin penggoreng, mesin penggiling bumbu dan rempah, mesin pengering kapasitas besar dan mesin kemasan. Semoga ada rezeki  lewat bantuan pemerintah atau lainnya, asalkan halal. Saya berharap,  dunia usaha / wiraswasta di Indonesia bisa tumbuh, dan jangan mengimpor produk-produk yang sudah diproduksi UKM, agar UKM bisa berkembang.  Pemerintah juga diharapkan bisa mempermudah fasilitas perizinan. Jangan ragu untuk membantu rakyat, karena itu merupakan kewajiban pemerintah yang menjadi hak rakyat, terutama untuk rakyat yang kurang mampu atau yang banyak menghadapi kendala,” pungkas Herni tentang harapannya.

(E-018)***