Mendulang Untung Dari Kerajinan Tas Kayu

16

TAS, biasanya, terbuat dari bahan kanvas, kain, atau kulit binatang. Namun, siapa sangka, bahan baku tas juga bisa berasal dari ragam jenis kayu, termasuk limbah kayu. Keunikan dari tas berbahan dasar kayu ini pun mengundang perhatian pembeli dan membuat perajin menjadi mendapatkan berkah.

Salah satunya Dody Andri, pemilik usaha tas kayu dengan label Ruaya. Dia awalnya hanya mencoba berbisnis tas kayu pada 2014 lalu. Apalagi, di daerah asalnya, Yogyakarta, sudah ada beberapa perajin tas kayu. Ia pun kerap mengunjungi bengkel tas kayu di kota gudeg untuk mempelajari teknik pembuatan.

Pelan tapi pasti, usaha tas kayu yang Dody rintis membuahkan hasil. Kini, ia menggandeng tujuh perajin tas kayu. Dan sejak awal, dia tidak menjual produknya secara offline. Segala usaha pemasaran Dody lakukan dengan bantuan media sosial, sesuatu yang jamak dilakukan banyak pebisnis.

Hasilnya pun positif. Pesanan tas kayu besutannya mulai mengalir. Apalagi, jenis tas kayu yang dia hasilkan beraneka macam. Mulai ransel, handbag, hingga sling bag. Ia juga menjajakan tempat pensil yang terbuat dari bahan baku kayu.

Pembelinya tak cuma berasal dari Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia, juga dari luar negeri. Salah satunya, asal Irlandia. “Kami hanya terima pesanan saja karena cuma beberapa item yang ready stock (memiliki stok siap jual),” kata Dody.

Untuk bahan baku, Dody memakai banyak jenis kayu. Ada kayu mindi, mahoni, akasia, juga sonokeling. Ia membanderol tas Ruaya dengan harga mulai Rp 100.000 per buah sampai Rp 1,2 juta per buah.

Hasilnya, Dody dalam sebulan rata-rata bisa meraup omzet Rp 30 juta. Melihat hasil itu, ia pun berencana menambah varian tas kayu. Misalnya tas laptop juga dompet dari kayu.

Pemain lainnya, Vicky Nur Ichsanty baru menjalani bisnis tas kayu pada awal 2019, dengan mereka Kawio Indonesia. Sama seperti Dody, dia juga memasarkan produk tasnya dengan mengandalkan media sosial yakni Instagram dengan akun bertajuk kawio.id.

Berbeda dengan Dody, Vicky yang memulai usaha di Bandung mengandalkan bahan baku limbah kayu. Ia mendapat ide setelah mengikuti pelatihan membuat rak dari limbah kayu.

Saat ini, Vicky baru menggandeng satu perajin tas kayu dan mengandalkan dari pesanan yang masuk. Untuk sementara, dia baru memproduksi tas dengan model umum. Harga jualnya berkisar Rp 200.000–Rp 300.000 per item.

Tapi ke depan, Vicky memiliki rencana untuk membuat varian tas kayu lainnya seperti sling bag. “Untuk omzet masih belum terlihat tapi ingin mencapai puluhan juta rupiah,” harapnya. (C-003/kntn)***