Pemerintah Dituntut Konsisten Mengenai LCGC Terkena PPNBM 3 %

22

Kehadiran mobil low cost green car (LCGC) saat ini masih menjadi kendaraan yang diistimewakan pemerintah dengan tidak dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Namun, seiring dengan perkembangan kendaraan listrik di Indonesia, mobil yang diklaim murah dan ramah lingkungan ini bakal dikenakan pajak sebesar tiga persen.

Meski masih dalam tahap pengkajian, namun mobil yang termasuk dalam program Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) ini bakal dikenakan PPnBM tiga persen. Meski, terdapat usulan , jika mobil LCGC menggunakan teknologi dan mampu menghasilkan emisi yang ditentukan,  tetap akan bebas pajak.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra mengatakan jika memang sudah peraturan, pihaknya pasti akan mengikuti. Pasalnya, dengan kenaikan PPnBM sebesar 3 persen nantinya bakal dibebankan kepada konsumen.

“Kami sebenarnya sebagai pelaku mengikuti apa yang pemerintah sudah rencanakan. Karena kami percaya, pemerintah pasti sudah melakukan kajian-kajian yang mendalam dengan melakukan kerja sama dengan universitas maupun dengan ahli para,” ujar Amel.

Amel mengaku, pabrikan besar penghasil mobil LCGC sudah memberi saran kepada pemerintah, agar konsisten dalam memberikan regulasi terkait industri otomotif.

“Jangan hari ini A, besok B. Kalau sekarang dibuat apa, ikutin saja seperti kandungan lokal sebagai basis insentif.. ya diteruskan, jangan kandungan lokal tidak berlaku lagi,” tegasnya.

Sementara itu, jika pemerintah konsisten dengan peraturan atau regulasi yang sudah diberlakukan, tidak akan membuat industri otomotif nasional terus berkembang,  tidak mati alias gulung tikar.

“Konsisten, agar industri yang sudah dibangun tidak mati. Membangun pabrik tidak gampang, vendor dan juga investasi yang sudah dibayarkan, dan itu tidak mudah,” pungkasnya. (E-002/BBS)***