Karhutla  Melumpuhkan Kunjungan Wisatawan Menjadi Persitiwa Tahunan

15

BISNIS BANDUNG — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Herman Muchtar mengungkapkan, maraknya peristiwa kebakaran hutan disejumlah wilayah di Indonesia berdampak kepada terhambatnya penerbangan dan berkurangnya wisatawan lokal maupun mancanegara .

 Herman Muchtar menyebut ,, maraknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)sangat berpengatuhi  okupansi  hotel maupun restoran, terutama dari kunjungan wisatawan mancanegara. Apalagi, khususnya bagi Kota Bandung, penerbangan pesawat sesudah dipindahkan dari Hesien Sastranegara ke Kertajati Majalengka.. ” Bandara Husein Sastranegara jadi sepi dan di Kertajati pun satu persatu mundur juga alias tidak ada penerbangan, terakhir hanya tinggal 2 penerbangan saja yang bertahan,” ungkap Muchtar. Orang daerah yang kena bencana asap, lanjut Muchtar , nggak bisa terbang keluar daerahnya , seperti dari Sumatra dan Kalimantan . Dampak dari masalah bandara dan kebakaran hutan ,  okupansi hotel rata rata hanya sekitara 20 %.

PHRI berharap kepada pemerintah pusat, jika memang kebakaran hutan ada indikasi disengaja,  harus ada hukuman berat terhadap semua yang terlibat dan mampu memberi efek jera. Presiden sudah turun tangan melihat kebakaran hutan , tapi kita belum tahu tindakan apa yang sudah dilakukan. “Kita sudah menyarankan ke pemerintah agar promosi wisata bagi wisatawan nusantara ditingkatkan,terutama ke daerah-daerah yang tidak terkena kebakaran.  Untuk  Jabar diharapkan lebih banyak menyelenggarakan berbagai kegiatan promosi wisata yang menarik berskala nasional, bila perlu internasional.  Hal serupa itu g tidak ada. Kita mentargetkan okupansi hotel di Jabar jangan kurang dari 50 % dan Kota Bandung 70% . Selama empat tahun terkhir masih dibawah itu,” ungkap Muchtar.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat  ASITA Indonesia, Budijanto Ardiansjah SE mengemukakan, ASITA  sangat menyayangkan peristiwa kebakaran hutan yang berulang-ulang terjadi setiap tahun yang berdampak terhadap perekonomian , pariwisata dan kehidupan. Belum lagi protes dari negara-negara tetangga.

ASITA  mengusulkan kepada pemerintah terkait peristiwa kebakaran hutan dan lahan, yakni untuk melakukan tindakan yang tegas dari hulu ke hilir tanpa tebang pilih bagi para pelaku penyebab karhutla. ”ASITA melihat upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, masih belum maksimal karena sistem pencegahannya belum berjalan dengan baik,” pungkas Budijanto , baru-baru ini. (E-018)***