Kembali ke Media Masa Kertas

11

   KETUA Harian SPS Pusat, Januar P. Ruswita di Jakarta mengatakan, kualitas produk jurbnalistik perlu pembenahan. Januar optimistis, bisnis media massa cetak masih memiliki masa depan. ”Hadirnya internet memberikan tantangan sekali gus peluang,” kata Januar. Pendapat Januar itu disampaikannya pada  Seminar Duia Dekade UU Pers dan Masa Depan Industri Pers.

   Selepas Orde Baru, kemerdekaan pers mengalami kemajuan luar biasa. Sejalan dengan itu kemajuan teknologi informasi melomlpat sangat jauh dan cepat. Setiap orang dengan kemampuan teknologi IT/TIK, dapat menjadi jurnalis atau bahkan punya lembaga pers.

Anggota Derwan Pers Asep Setyiawan, seperti dimuat PR 24/9, lembaga pers online mengalami kemajuan lua biasa. Kemajuan teknologi  informasi dan komunikasi (TIK) terus menggerus pendapatan media massa konvensional. Karena itu lembaga pers harus terus berinovasi. Terus mencari model baru untuk mendapatkan pemasukan di luar iklan.

     Seminar itu juga menyoroti keberadaan UU Pers No.40/1999. Apakah pada era digital dengan kebebasan pers yang luar biasa, masih punya kekuatan dalam mengawal geak langkah pers nasonal. Derwan Pers yang selama ini diyakini mampu menjaga kemerdekaan pers, masih punya tangan dalam menegakkan kode etik jurnalstik dan membela pers? Secara regulasi, Dewan Pers tidak punya akses yang cukup luas untuk masuk ke dunia jurnalistik digital karena secara lembaga, mereka berada di luar jangkauan Dewan Pers.  Kominfolah yang secara reguilasi berhak mengawasi perkembangan jurnalistik dunia maya atau media sosial itu.

      Menurut Anggota Dewan Pers itu, UU Pers No.40-yang kini berusia 20 tahun, masih kompatibel dengan kemajuan teknologi dan demokrasi. Namun apabila pers cetak tidak  bertransformasi, lembaga pers cetak itu akan gulung tikar. Orang Indonesia yang seolah-olah baru mendapat mainan baru, hampir semuanya menjadi bagian dari kemajuan tekno,ogi internet.  Orang yang tidak mau masuk ke dunia digitral, pasti akan sangat tertinggal. Ia seolah-olah terkucil di alam kosong.  Dunia jurnalistik berbasis kertas mau tidak mau harus beradaptasi dengan kemajuan TIK.Lembaga pers tidak dapat terus menerus berada di jalur yanmg semakin tidak nyaman. Pers kertas dengan banyak iklan, sudah hampir menjadi sejarah. Pengiklan akan memilih medsos yang jauih lebih efektif dan efisien.

      Karena itu pers kertas tidak boleh terus berorientasi pada iklan. Dunia pers konvenssional sudah harus menetapkan fokusnya pasda pembaca.  Mereka harus berupaya keras, menyajikan  berita yang aktual dan menarik. Apabila kita kembali ke teori jurnalistik lama, berita yang baik dan benar itu ialah berita yang lengkap, akurat, dan disajikanm secara menatrik. Dalam mengejar akurasi berita itulah, timbul motto baru, bagi pers, yang penting itu kelengkapan dan akurasi berita bukan kecepatan. Pada era digitalisasi sekarang ini, dunia pers berbasais kertas harus mengubah paradigma itu menjadi cepat, disajikan secara menarikl. Kelengkapan dan akurasi menjadi nomor tiga atau empat. Yang penting, pembaca diberi informasi pokok terlebih dahulu. Baru kemudian dibuat berita selengkap-lengkapnya.

       Dalam dunuia jurnalistik kota, kecepatan menjadi nomor satu, bahkan yang pertama disajikan hanya peristiwa pokoknya saja. Pembaca dibiarkan bertanya-tanya, apa, siapa, kapan, di mana, dan mengapa. Semua pertanyaan itu akan terjaweab secara beruntun dalam jeda waktu satu atau dua jam kemudian.

        Diskusi Dua Dekade UU No.40/1999 itu menyimpulkan, dunia pers berbaasis kertas atau pers konvensional tidak akan mati begitu saja. Orang akan sampai pada titik jenuh berada pada hiruk pikuk jurnalistik digital. Mereka akan butuh analisis tebtang sebuah peristuiwa. Analisis yang keluar dari pemilkiran yang bernas, visoner, dan jujur. Dan itu semua hanya ada pada media massa konvensional. Khisunya media massa berbasis kertas atau koran.

Semoga saja. ***