UNISBA akan Membela Mahasiswa Jika Terbukti Menjadi Provokator

139

BISNIS BANDUNG – Gerakan untuk menyampaikan aspirasi itu dilindungi oleh undang-undang. Mahasiswa perlu menyampaikan kritiknya terhadap kebijakan yang dirasa dapat menyengsarakan masyarakat.

“Kami tidak menampik bahwa kericuhan yang terjadi disebabkan oleh adanya kesalahpahaman antara aparat kepolisian yang ingin menegakkan peraturan tentang tata cara menyampaikan pendapat, dan mahasiswa yang merasa dilindungi UU dalam menyampaikan pendapat,” kata Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Edi Setiadi menyikapi  aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Jabar, Senin (23/9) malam.

Ia menyatakan, pihaknya akan mengadvokasi mahasiswanya jika terbukti menjadi provokator dalam kericuhan yang terjadi saat aksi ribuan mahasiswa dari berbagai kampus  tersebut.

Rektor Unisba Edi Setiadi mengatakan akan meminta para advokat, yang merupakan lulusan Unisba, untuk membantu. Apalagi jika mahasiswanya ditetapkan sebagai tersangka penyebab kericuhan.

“Tentu akan kita advokasi, bantuan hukum, akan kita gerakkan, kita banyak advokat, kalau betul terbukti (provokator). Kalau sampai ke pengadilan kita bantu juga,” katanya   di kampus Unisba, Jalan Tamansari, Bandung, Selasa.

“Idealnya mahasiswa menyampaikan pendapat dengan difasilitasi polisi. Kita imbau kepolisian ini adalah dalam rangka aksi yang dilindungi UU. Mahasiswa juga harus tahu, ada batas, tolong dipahami batasnya,” kata dia.

“Makanya kalau kita bisa, dua-duanya kepala dingin. Insya Allah gesekan bisa dihindari,” katanya.

Hingga kini tercatat 9 aparat kepolisian dan 92 mahasiswa yang mengalami luka-luka, pingsan, dan trauma fisik akibat situasi mencekam yang terjadi sekitar pukul 18.30, Senin (23/9).

Ribuan mahasiswa tersebut menuntut untuk bisa masuk dan beraudiensi langsung dengan legislator Jawa Barat agar tuntutannya bisa diteruskan ke DPR RI. Mereka menuntut untuk menolak revisi UU KPK serta rancangan UU lainnya. (B-002)***