Mengembangkan Usaha Tas Roro Kenes

178

BIASANYA dari hobi bisa berlanjut menjadi usaha jika dilakoni dengan serius. Inilah yang dialami oleh Syanaz Nadya Winanto, pemilik Roro Kenes, label tas yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah.

Laiknya wanita lain, Syanaz juga suka tas. Terlebih saat melihat tas bermerek, membuatnya begitu mempesona. “Saya cinta tas merek Bottega, artinya harganya boo tega bener, mau beli tapi uang tidak cukup,” katanya sambil tertawa.

Apalagi sang ayah menentang keras keinginan ibu dua anak ini untuk memiliki tas impian tersebut. Akhirnya, ia kepikiran untuk bisa membuat tas sendiri yang sesuai dengan keinginan. Rencana ini pun terwujud pada 2014, saat ia meluncurkan label tas Roro Kenes di acara Semarang Great Sale.

Tak disangka produk yang ia jajakan mendapat respon positif. Rupanya ia mempunyai tas yang termasuk unik dari sisi bahan baku. Yakni tas anyaman kulit, tas daur ulang dan tas anyaman tenun

Harga produk tas hasil produksinya rata-rata Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per unit. Sedangkan produk khusus untuk perusahaan bisa ia banderol lebih murah antara Rp 500.000–Rp 750.000 per unit.

Menurut Syahnaz, ketiga jenis produk tasnya punya cerita sendiri. Untuk produk tas anyaman kulit adalah produk tas perdana. Kemudian produk kedua adalah tas dari bahan daur ulang kayu. Bahan itu ia dapatkan dari sisa olahan workshop kayu milik sang suami. “Khusus untuk tas daur ulang itu karena iseng saja, tapi banyak peminat,” jelasnya.

Sedangkan produk ketiga, yakni tas anyaman tenun ia produksi saat mengikuti BliBli Special Project. Yakni membuat tas dengan harga di bawah Rp 2,1 juta per unit dan hasilnya juga positif.

Berkat ketiga produk tas tersebut, Syahnaz sanggup memproduksi hingga 350 tas per bulannya. Untuk bisa mengerjakan produksi tas tersebut, ia dibantu oleh tujuh pekerja dan empat pekerja lepas.

Sebetulnya, ia bisa saja memperbanyak produksi tas Roro Kenes. Namun karena ingin menjaga kualitas, ia tidak mau perbanyak kapasitas produksi. “Permintaan memang banyak, dan saya sampai harus close showroom. Karena saya tidak mengejar profit, but I’m doing it by heart,” ucapnya.

Saat ini, ia masih mengandalkan toko yang ada di tempat tinggalnya saja. Tak lupa ia juga memanfaatkan pemasaran digital seperti via media sosial Instagram dan situs Roro Kenes.

Selain memasarkan ke pasar dalam negeri, Syahnaz juga sudah merambah pasar luar negeri, khususnya Jepang. Dalam sebulan ia kerap mengirim sekitar 120 tas ke negeri Sakura. Lewat upaya tersebut, Syanaz bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta per bulannya.

Merintis bisnis hingga dikenal banyak orang tentu tak mudah. Tak ada sukses yang diraih secara instan dan setiap bisnis memiliki perjalanan yang unik. Begitu juga kisah bisnis tas lokal asal kota lumpia dengan merek Roro Kenes.

Syanaz Nadya Winanto Putri, pemilik Roro Kenes menceritakan awalnya memulai bisnis ini lantaran tantangan dari sang Ayah. Menjawab tantangan ini, maka Syanaz memberanikan diri merintis tas anyam kulit. “Modal awal sekitar Rp 25 juta dan pinjam suami. Pertama saya buat sekitar 12–15 tas,” tutur Syanaz.

Usai memulai bisnis dengan modal dari suami, Syanaz kemudian memberanikan diri menerima tawaran untuk tampil di pameran. Pemasaran awal tentunya masih sebatas di lingkungan pertemanan.

Dari kenekatannya dalam berbisnis, kini dia menuai hasil yang manis. Saat ini permintaan berdatangan untuk tas yang dia produksi. Syanaz bilang tas produksinya sudah mendapatkan uji dari pihak Jepang tempatnya mengekspor dan dinyatakan hanya menghasilkan limbah 3%, bahkan hampir zero waste.

“Memang ‘gila’, saya ditantang untuk isi booth pameran dengan barang yang saat itu baru sedikit sekali. Saya juga bisnis ini karena tertantang, masa sih Indonesia tak bisa buat tas anyaman kulit, padahal anyaman sudah ada di Indonesia sejak dulu,” cerita Syanaz.

Satu pengalaman yang takkan pernah dilupakan Syanaz dan meniti bisnis Roro Kenes ini, yakni belum lama ini tas buatannya sempat ditahan pihak imigrasi di Rusia.

Kurang lebih lima jam Syanaz diminta keterangan mengenai 10 tas kulit dan 50 tas kemasan yang dia bawa untuk pameran produk Indonesia di Rusia. “Saya datang bersama Bank Indonesia (BI) Jateng tetap tidak bisa menyakinkan mereka. Ada beberapa orang bawa produk yang sama tapi kenapa hanya saya yang ditahan produknya,” kenang Syanaz.

Menurutnya, ada 15 pegawai otoritas bandara yang secara bergantian mengecek tas milik Syanaz.

Kala itu Syanaz disangka membawa produk dengan bahan kulit eksotis premium yang harus dilengkapi dokumen. Pihak otoritas Bandara Domodedovo Rusia kemudian melakukan kurasi dengan produk Roro Kenes. Hasil kurasi menyebutkan bahwa kualitas Roro Kenes sama dengan tas branded seperti Bottega, Hermes, Louis Vuitton, Chanel, Gucci, Dolce Gabbana yang berharga ratusan juta .

Syanaz terkejut dengan hasil kurasi pihak bandara, padahal total tas yang ia bawa hanya seharga US$ 1.200. Berbagai langkah yang dilakukan nyatanya tak dapat meloloskan tas tersebut dari sitaan imigrasi.

Seiring berkembangnya pasar, kini permintaan terhadap produk tas Roro Kenes terus meningkat. Meskipun satu sisi hal ini menjadi berkah, tapi di sisi lain jadi tantangan bagi Syanaz Nadya Winanto Putri owner Roro Kenes.

“Permintaan melonjak, menambah produksi bisa, melempar ke tempat lain bisa tapi apakah kualitas sama? Saya itu sangat teliti beda jahitan sedikit saja saya tahu,” kata ibu dua anak ini.

Tantangan lain saat ia ingin mengekspor produk ke negara lain adalah soal pengurusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). “Karena kami ingin dorong ekspor tapi pakai brand sendiri. Contoh kami mau masuk ke Prancis jadi saya harus urus HAKI di Prancis,” katanya. Bisa juga dengan cara menggandeng investor dan kami diberi saham mayoritas, tapi produksinya bisa dipindah (ke luar negeri) “Enggak kan, kalau dipindah gimana. Ini kan proyek idealisme saya,” jelasnya.

Syanaz pun berharap ada lembaga yang membantu para pengusaha IKM seperti dirinya agar bisa rambah pasar pasar ekspor tapi tetap mempertahankan brand-nya. “Produk kita nggak kalah kok dibandingkan buatan luar,” sambung Syanaz.

Saat ini produk Roro Kenes sudah masuk pasar Jepang. Saat ini ada tawaran untuk negeri Paman Sam, namun ia tetap mendambakan masuk pasar Eropa agar bisa bersaing dengan seperti tas branded lainnya.

“Ke depan bisnis saya jalani saja bismillah. Tapi saya tetap ada standar operasi produksi, KPI, dan tetap mengusung kesetaraan gender. “Roro Kenes ingin menjadi inspirasi dari tangguhnya wanita Indonesia,” terang Syanaz.

Syanaz bercita-cita punya rumah produksi yang dilengkapi dengan day care untuk anak para pegawainya. “Kami sudah kayak keluarga, makan bareng. Ada dua hal bagi pegawai saya yang penting, kesehatan dan pendidikan, dan kam ada keuangan yang dikelola bareng jadi kalau butuh uang bisa ke situ daripada pinjam ke bank titilkan (rentenir) ,” sebut Syanaz.

Selain mengincar pasar Eropa, Roro Kenes mempersiapkan produk untuk menggarap konsumen menengah bawah atau third line. Ia merasa tak nyaman saat pasar dalam negeri dibanjiri produk dari China. Padahal produk lokal memiliki kualitas tak kalah.

Namun menggarap pasar baru ini memang butuh modal gede karena harus mengandalkan kuantitas. “Produk tas KW bisa harga Rp 80.000, nah ini saya cari celah,” katanya.

Masalah lain Roro Kenes ingin mendongkrak produksi tapi tetap bisa menjaga kualitas agar tidak mengecewakan konsumen. Misalnya kualitas produk, mulai dari jahitan, anyaman, dan bahan baku selalu ada kroscek.

“Ada filosofi juga dari konsep anyaman, seperti Bhineka Tunggal Ika, semua dijalin menjadi satu,” tutur Syanaz. Selain itu, agar bisa memenangkan persaingan di pasar, Roro Kenes berupaya inovatif menciptakan model yang elegan. (C-003/Bbs)***