Penghela Ekonomi

9

     PADA Rerncana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2020-2014, pemerintah menargetkan  sektor manufaktur dan  pangan menjadi penghela pertumbuhan ekonomi. Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonmesia dapat benar-benar terpacu dengan berkembangnya industri. Sedangkan dalam bidang  pangan, pemerintah berupaya meningkatkan perluasan pertanian.  Produk bernilai tambah,  akan mendapat perhatian khusus, bimbingan teknis, dan tata cara ekspor.

     Deputi Menteri Perdagangan Indonesia di Jakarta mengatakan, ekonomi nasional diharapkan tumbuih antara 5,4 – 6,0. Hal itu akan tercapai apabikla perdagangan dan investasi terus meningkat. ”Perdagangan dan investasi meruipakan kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Deputi Menteri Perdagangan. Namunn untuk sampai ke titik itu, diperrlukan kebijakan dan langkah-langkah khusus. Distribusi yang tertata dengan baik, ditunjang infrastruktur dan akses yang merata. Bagi Indonesia hal itu tidak semudahj seperti yang dilakhukan negara lain. Indonesia memiliki lebih dari 17000 pulau. Tanpa pembangunan infrastruktur yang cermat dan merata, distribusi dan pemerataan pembangunan, menghadapi kendala sangat berarti.

       Sistem distruibusi barang harus menjadi fokus pemerintah. Tanpa pembenahan sektor distribusi, mustahil pembangunan dan logistik akan merata secara lebih cepat. Pembangunan indfastruiktur berupa jalan tol, kereta api, dan penerbangan dilanjutkan dengan pengawasan yang lebih ketat. Pembangunan infrastruktur berupa jalan tol an jaluin kereta api, hampir semua wilayah NKRI mulai terkoneksi. Diharapkan hal itu benar-benar menjadi kunci pertumbuhan ekonomi secara lebih merata.

       Kemajuan teknologi informasi sungguh menjadi pendorong kemajuan semua sektor, termasuk ekonomi. Di Indonesia, perdagangan daring mengalami pertumbuhan sangat pesat. Perkembangan teknologi informasi dan komunuikasi telah mengubah banyak hal. “Tak hanya cara betrkomunikasi, kehadirannya juga membentuk ekonomi digital termasuk e-dagang yang berkembang pesat di Indoneasi.” Hal itu dikatakan Pelaksana Tugas Direktur Ekonomi Digital Kemengterian Komunikasi dan Informatika, I Nyoman Adhiarsa, seperti dimuat beberapa media massa.

       Kemajuan teknologi dengan munculnya banyak pemandu baku (start-up) memungkinkan berkembangnya industri perdagangan, baik yang termasuk UKM maupun industri manufaktur. Perdagangan sudah berubah dari saling tatap muka ke ”pasar bisu”. Cukup dengan klik pada aplikasi tertentu, pesanan disampaikan, dalam waktu sangat cepat, semua pesanan itu sudah deliveri, dikirim melalui jasa antar. Pembayaran dapat dilakukan melalui diliveri atau banking transfer. Pesatnya pertumbuhan perdagangan melalui media maya itu dapat digunakan sebagai bukti, perdagangan semakin maju dan smart. Orang sudah tidak lagi memerlukan kakinya untuk melangkah ke mal, warung, atau kios bahkan PKL. Transaksi berjalan dengan komunikasi antar-kamar.

       Namun kemajuan perdagangan yang ditunjang teknologi komunukasi itu, tetap membutuhkan penghubung antara penjual dan pembeli. Kini, penghubung itu dilakukan oleh penjual jasa antar-jemput barang pesanan. Pengantar makanan pesanan itu tetap membutuhkan manusia pelaku distribsi dengan peratan

       Benar, sesupramodern sekalipun, manusia tetap butuh orang lain, butuh komunikasi tatap muka atau yang amat kita kenal dengan istilah ”silaturahmi”. ***