Golok Produk Pandai Besi Conggeang Bisa Terjual Di atas Rp 1 Juta

1409

BISNIS BANDUNG – Kabupaten Sumedang,  dikenal selain kuliner tahu , juga pernah populer dengan  produk golok berkualitas  dengan  berbagai macam bentuk yang diproduksi  warga masyarakat Conggeang.  Namun  akibat kurangnya perhatian pihak –pihak berwenang, para perajin golok Conggeang  banyak yang  menutup usahanya.

Salah satunya  bengkel yang memproduksi golok  milik Eman Sulaeman di Dusun Hambawang RT 05 RW 02 Desa Pada Asih Kecamatan Conggeang . Bengkel tempat pembuatan golok atau yang biasa disebut pandai besi oleh masyarakat setempat, kini hanya sebatas membuat golok berdasar pesanan.

Ditengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan jaman  , saat ini banyak berdiri  pabrik pembuatan perkakas kebutuhan , di antaranya seperti  golok yang dibuat menggunakan peralatan modern . Sedangkan perajin golok Conggeang  , memproduksi golok menggunakan cara-cara tradisional  , yakni bahan golok dibentuk dengan cara  dibakar dan ditempa  tenaga manusia.

Dengan peralatan yang sangat modern dan canggih, industri perkakas pertukangan tersebut bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan jenis dalam sekali produksi, berbeda dengan pandai besi yang masih menggunakan cara-cara tradisional, dalam sehari paling bisa memproduksi antara dua sampai  lima biji yang harus di selesaikan dalam beberapa tahap sebelum finishing.

”Namun dengan keyakinan dan keuletan para perajin ditengah gempuran perkakas keluaran pabrikan yang serba modern dan canggih, mereka masih bisa berproduksi meskipun tidak banyak,” tutur Eman  .

Diakui  Eman, bengkel pembuatan perkakas yang dikelolanya merupakan peninggalan orang tuanya  yang sudah ada sejak tahun 80-an, dimasa kejayaannya  bengkel ini bisa menghasilkan perkakas berupa  golok antara  20 dan 30 buah dalam satu bulan.

“Bengkel perkakas pada tahun  80-an, sewaktu masih dikelola  orangtua saya , selain membikin golok, pedang, sangkur atau perkakas yang dipesan konsumen. Saat itu banyak yang mesen kesini, baik warga Sumedang  maupun dari  luar daerah Sumedang, sekarang saya yang nerusin, cuman beda sama jaman dulu dalam produksi maupun hasilnya, “ujar Eman dibengkelnya, Selasa  (24/09/2019).

Eman yang merupakan generasi kedua  keluarga penerus pembuatan perkakas  mengakui,  jaman sekarang produk yang dibuat secara tradisional  sangat jauh tertinggal, selain saat ini sudah banyak perkakas dengan model dan bahan yang bagus,juga dalam produksinya bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan dalam sekali produksi. Sedangkan Eman di bengkelnya hanya bisa menghasilkan 5 buah dalam sehari .

Dikemukakan Eman, kesulitan  dalam proses produksi dan pengerjaan perkakas  di antaranya dari alat yang ada di bengkelnya , selain bahan baku. Alat alat yang ada di bengkelnya sebagian besar masih menggunakan alat peninggalan orangtuannya. Untuk bahan baku Eman mengaku,  kesulitan karena harga bahan serta untuk mendapatkannya harus memesan terlebih dahulu. Kalau tidak seperti itu tidak akan mendapatkan bahan yang bagus.

“Kesulitannya,  sebenarnya cuman pada alat penunjang dan bahan baku, kalau alat  peninggalan orangtua masih bisa dipernunakan, walau t ada yang diganti karena  rusak.,

Kalau untuk bahan biasanya saya suka nyari ke daerah lain dan pesen dulu, kalo enggak pesen pasti kehabisan diborong sama yang banyak duit, “ujarnya.

Dengan kondisi serupa itu ini Eman berterus terang sangat kesulitan untuk bersaing.
” Untuk  bersaing  dengan produk yang dibuat produk modern  jelas berat buat kami, sebab itu  tidak ada jalan lain kecuali bertahan apa adanya, karena ini mata pencaharian, “ungkapnya.

Pemasaran golok Conggeang tidak hanya di wilayahJabar, tapi sudah mermbah ke sejumlah kota di luar Jawa,  seperti Samarinda, Riau dan Palembang.  Golok  Conggeang terbuat dari besi baja, sedangkan sarung dan gagang golok menggunakan kayu sonokeling.

Tak heran jika golok Conggeang memiliki harga di atas rata-rata. Untuk golok biasa dijual dengan kisaran harga Rp 60.000 sampai Rp 90.000 tergantung ukuran. Sementara golok hias atau golok tebas dibandrol seharga  Rp 200.000 hingga Rp 1 juta lebih (E-010)***