Prof Maman: PPL Harus Berkualitas Jabar Krisis Penyuluh Pertanian 

31

BISNIS BANDUNG — Guru Besar Emiritus di Fakuktas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof.Ir.Maman Haeruman K. MSc.PhD mengungkapkan,  Jawa Barat bakal terjadi krisis tenaga petugas penyuluh pertanian (PPL) . Walau tenaga penyuluh muda banyak mengisi kekosongan, tetapi latar belakang pendidikannya minim pada bidang penyuluhan pertanian, ditambah tenaga harian lepas (THL) yang  berlatar pendidikan bukan pertanian.

Menurut  Maman , berdasar data, penyuluh senior yang memperoleh pendidikan penyuluhan pertanian sekitar 60% akan memasuki masa pensiun .

Dikatakan Maman lebih lanjut , kalau hanya menambah jumlah tenaga saja, tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kualitasnya, jumlah penyuluh memang bisa banyak, tapi apa artinya dari sisi penyelenggaraan penyuluhan , jika kalau kualitasnya  kurang baik. Jadi dari segi kualitas tren menurun. Penyuluh itu adalah “sparing partner” petani, kepada siapa petani menyampaikan keluh kesah masalah pertaniannya.  ”Penyuluh bertugas menyampaikan penjelasan terkait dengan masalah pertanian kepada petani dengan bahasa yang mudah dipahami petani , bukan dengan bahasa akademis yang ruwet. Jadi fungsi utama penyuluh adalah menyampaikan informasi akademis yang ruwet dengan bahasa keseharian petani yang mudah dipahami,”ungkap Maman kepada BB baru-baru ini di Bandung.

Dijelaskan Maman Haeruman  di Indonesia penyuluh pertanian bernaung di bawah Dinas Pertanian, sama halnya penyuluh peternakan di bawah Dinas Peternakan, penyuluh perkebunan di bawah Dinas Perkebunan. Demikian pula penyuluh perikanan dan kehutanan, di bawah masing-masing dinasnya. Oleh karena Dinas-dinas itu organ administrasi pemerintahan, jelas penyuluh-penyuluh itu kental dengan program kedinasannya. Program-program dan orientasi pencapaiannya disesuaikan dengan target program dinas yang mengarah pada peningkatan produksi. Apakah program dinas ini sesuai dan sejalan dengan apa yang sebenarnya diharapkan dan diinginkan petani terutama terkait dengan peningkatan pendapatan dan  kesejahteraannya. ”Walohualam,  perlu pengkajian yang lebih seksama.  Beberapa fenomena yang terjadi, petani berhasil meningkatkan produksi tanaman padinya, tetapi harga pada waktu panen jatuh, petani hanya bisa gigit jari, bukan untung , tapi buntung,” tegasnya

Kalau beranjak dari pemahaman bahwa penyuluh pertanian adalah sparing partner petani, keberadaan penyuluh yang berorientasi untuk memberikan berbagai informasi terkait dengan tanaman, ternak, ikan yang dibudidayakan petani, penyuluh pertanian jelas memiliki peran penting. Di Jawa Barat pada saat ini seorang penyuluh menangani 2 sampai 3 desa.

Dengan jumlah 5962 desa, sementara penyuluh pertanian aktif 1306, maka jumlah penyuluh pertanian masih kurang , idealnya satu desa memiliki seorang penyuluh pertanian. Berdasarkan data tahun 2016, banyaknya penyuluh di Jawa Barat terdiri dari PNS 1387 penyuluh, THL 1611, Penyuluh Swadaya 2195 dan Swasta 20. Saat ini banyak dilakukan pengangkatan THL menjadi penyuluh yang tidak berlatar belakang pertanian. Kompetensi penyuluh sebanyak 57,80 % berada pada katagori rendah dan katagori rata-rata 32,49 %. Kondisi seperti ini memperlihatkan penyuluhan pertanian masih jauh dari yang diharapkan. Kompetensi dan tantangan untuk pengadaan dan pemberdayaan penyuluh pertanian di Jabar cukup berat.

Guru Besar Unpad ini menegaskan,  agar penyuluh dengan kompetensi baik dan memadai perlu dirancang i program pendidikan penyuluhan pertanian, kerjasama antara Kementan dengan Perguruan Tinggi , seperti yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian Unpad dengan Kementan pada tahun 80-an.

“Upaya semacam ini perlu ditempuh agar tidak melakukan kaderisasi seperti sekarang, sekedar main comot mengisi posisi, tapi kualifikasinya kurang memadai, apalagi tidak memiliki latar belakang pertanian,” ujar Maman.

Dampak yang akan timbul kalau kualitas dan kuantitas penyuluh tidak memadai, informasi yang terkait dengan tehnik pembudidayaan tanaman dan komoditas pertanian tidak akan tersalurkan. Di lain pihak, petani tidak punya sparing partner dalam usaha, tidak ada tempat bertanya kalau ada masalah. ”Bagaimanapun petani memerlukan kehadiran penyuluh pertanian,” pungkas Maman.  (E-018)***