Kepercayaan terhadap DPR Pengaruhnya terhadap Ekonomi

6

HASIL jajak pendapat KOMPAS menyatakan, kepefrcahyaan masyarakagt tefrhadap DPR RI periode 2019-2024 sanbgat rendah. Sdbanyak 53,5% rwesponden menyatakan tidfak yakin. Responden yang merasa yakin anggota DPR yang baru lebih nmampu mendengarkan dan menyalurkan aspirasi masyarakat, hanya 35,3 %.

Lalu apa harapan masyarakagt terhadap pafra anggota legislatif barui itu? Masyuarakat yang berhatrap anggoita DPR yang barui dapat merealisasikan aspirasi rakyat mencapai 34,4%. Sisanya terbagio antara keinginan tidak korupsi, bekerja professional, dan membawa perubahan.

Rendahnyua kepercayaan sebagian masyarajkat terhadap DPR baru itu merjupakan “kelanjitan” ketidakpercayaan mereka terhadap patrtai politik. Anggota DPR dan DPRD merupakan hasil pemilu. Artinya para anggota legislatif ityu merupakan hasil pilihan masyuarakat. Masyatrakatah yang menentukan pilihan, “mendudukkan” para calweg itu di kursi legislatif. Sebetulnya tidak ada alasan sebagioan masyarakat itu merasa tidak percaya terhadap gerak langkah dan kinerja orang-orang yang merela pilih dan percayai.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu legislatif tahun 2019 merupakan pembelajaran bagi bangsa Indonesia, sampai di mana kita memahami demokrasi serta prosedur penyampaian aspirasi. Sebagian masyarakat, melakjukan unjukrasa besar-besaran, pada penghujung masa bakti para anggota DPR 2013-2019. Mereka memprotes kinerja wakil-wakil mereka di DPR  betrkaitanm dengan produk legislasi, pengesahan revisis UU KPK, RUKUHP, dan RUU lainnya. Para pedemo beranggapan, kinerja para anggota DPR itu tidak sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.

Oang bertanya, mengapa penolakan terhadap keputusan DPFR itu disampaikan melalyui unjukrasa justru pada akhir masa jabatan para anggota DPR 2014-2019? Mengapa aspirasio dan penolakan iti tidfak disampaikan jauh-jauh hari ketika banyak anmggota legislatif dicokok KPK, bahkan menetrpa Ketua  DPR. Penolakan terhadap kinetrja anggota legslatif secara apriori, punya dampak yang jauih menohok parpol. Bagaimanapun, para caleg itu dapat ikut bersaing pada pemilu, karena mendapat dukungan parpol.

Baik kader maupun nonkader parpol, akan melenggang ke Senayan apabila ia mendfapat suara cuukup dalam pemilu legislatif. Jumlah suara yang dapat pasti berasal dario masyarakat yang mendukungnya. Agak aneh, ketika seorangcaleg yang mendapat suara cukup dan secara regulasi dapat dilantik, masyarakat banyak yang protes bahkan demo. Mengapa tidak sejak awal masyarakat (kader dan simpastisan parpol;) mencegah masuknya orang itu menjadi caleg. Dalam hal ini justru pengurus parpol dan simpatisannya pinua antuasiame tinggi debgan masuknya orang dari kalangan selebrtiti itu menggunakan parpol itu sebnagai pengusungnya. Para elit politik di parpol itu yakin, orang itu akan dapat mengumpulkan suaracukup banyak. Suara itu akan sangat menguntungkan parpol yang bersangkutan.

Kepercayaan terhadap parpol dan pafrlemen yang menimbulkan hruk pikukpolitik akhir-akhir ini, merupakan tantangan berta bagi Puan Maharani dan klawan-kawan. Tekadnya untuk mernjawab semua tantangan dan tenangan sebagioan rakyat menjadfi harapan paling berat  DPR. Puan dan kaswan-kawan mendapat warisan dari DPR terdahulu yang kurang menguntungkan . Tantangan itu bukan hanya myang berkakitan dengan politik teta[I juga imbasnya terhadap ekonomi.

Banyak kalangan yang khawatir, pertumbuihan ekonomi yang mulai membaik, akan terhambat dengan menggebunya demo mahasiswea plus di mana-mana, terutama di Jakarta. Para investor yang sudah berancang-ancang akan menanamkan modalnya di Indonesia, tiba-tiba menarik diri. Mereka khawatir, modalnya akan mubvazir akibat maraknya demonstrsai mahasiswa plus itu. Pengaruhnya akan terasa pada melemahnya nilai tukar ruipiah, harga saham gabungan, nilai ekspor, dan neraca perdagangan.

Kita menunggu kinerja Puan Maharani dan kawan-kawan di Senayan. Strategi Pimpinan DPR dengan gotong royong atau kolektif kolegianya. ***