Bandung, Laksana Surga Mamin

12

KOTA Bandung tidak saja banyak julukan, dimulai Paris Van Java, Kota Kembang, Kota Pramuka dan Kota Mode. Namun saat ini sebutan lain berkembang adalah Bandung is a paradise for food and beverage business.
Cukup beralasan, mengingat Bandung kini terkenal dengan makanan dan minuman yang enak-enak. Seperti Batagor Hanjuang, Cuanki Serayu, Nasi kalong, Yamie, Roti Manis dan lainnya. Kesemua hal tadi pada akhirnya memang menjadikan Bandung surga makanan enak yang bisa dinikmati kapan saja.
Bandung laksana surga makanan dan minuman (mamin), sejak lima tahun lalu secara rutin diadakan sebuah kegiatan bertajuk : Bandung International Food and Hotel Expo (BIFHEX ). Pada tahun 2019 ini dihadiri oleh 112 tenan yang sebelumnya hanya 92 tenan. Even ini menjadi menarik, karena ini bukan seperti even food and beverage lainnya. Ini adalah even yang konsepnya adalah B2B. Bifhex adalah satu-satunya pameran food and beverage, industri hotel, kafe, dan catering terbesar yang ada di Jawa Barat.
Bukan saja Bandung yang layak menjadi tujuan utama bisnis F&B di Kota Bandung. Namun Indonesia dalam laporan yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memberikan laporannya bahwa sejak Januari – Juni 2019, tercatat besarnya realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor makanan menempati urutan ke-4 dengan nilai Rp21,26 triliun ( PMDN) sedang untuk ( PMA) berada di peringkat ke -6 dengan nilai US$706,7juta.
Teknologi digital
Jika bisnisnya saja sudah sedemikian besar potensinya, maka wajar jika Bandung menjadi pilihan pelaku industri tertarik dalam pengembangan bisnis food and beverage. Menyikapi menariknya bisnis F&B yang ada di Bandung, saatnya pelaku bisnis mencoba menerapkan karakter bisnisnya dalam perspektif Era Industri 4.0.
Yakni mengaplikasikan sebuah sistem yang concern dengan customer sebagai ujung tombak industri F&B ini. Maka Handri Kosada, CEO Barantum memberikan perspektif bisnisnya : ”Bisnis F&B adalah sebuah bisnis rasa, peran customer atu pembeli menjadi salah satu ujung tombak kesuksesan sebuah bisnis F&B. Oleh karena itu, ada baiknya para pebisnis F&B menggunakan sebuah aplikasi berbasis customer. Dengan aplikasi tersebut pelaku bisnis bisa mengetahui keinginan dan harapan dari para customernya.”
Handri mengomentari menariknya bisnis F&B yang secara nyata mesti dikolaborasikan dengan sistem teknologi digital. Karena dengan bergulirnya Era Industri 4.0 sudah seharusnya pelaku industri paham akan manfaat dan kegunaan teknologi informasi untuk menunjang kesuksesan bisnisnya.
Saat ini ada lima tren yang mempe­ngaruhi bisnis F&B yaitu (1). Menu makanan yang lebih sehat :Kepedulian customer terhadap lifestyle hidup sehat, pada akhirnya juga mempengaruhi standar dan variasi menu makanan yang disajikan dalam bisnis F&B. (2). Produk yang Instagrammable : Ini yang cukup unik, jika biasanya orang akan tertarik untuk datang dan berkunjung ke lokasi seperti café atau restaurant yang konsep desain-nya menarik sebagai objek photografi. Tapi yang terjadi saat ini adalah justru menu makanannya yang sengaja ditampilkan cukup unik dan menarik. Perkara rasa mungkin bukan sebagai prioritas utama, tetapi soal tampilan bentuk dan modifikasi konsep penyajian menjadi tren saat ini dalam penyajian sebuah hidangan.
(3). Pemesanan dengan table menu : tren ini semakin marak diaplikasikan pada beberapa lokasi tempat makan. Konsep customer experience menjadi tujuan pe­ngelola bisnis F&B agar customer-nya merasa mendapatkan satu experience yang berbeda dibanding lokasi-lokasi lain yang ada. (4). Aplikasi kasir berbasis Cloud : konsep pengelolaan tempat makan yang technology oriented pada akhirnya menjadi cara memaksimalkan SDM yang ada guna meningkatkan omzet penjualan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Jika CRM digunakan untuk memaksimalkan apresiasi customer terhadap service yang diberikan. Sedang pengelolaan manajemen keuangan-pun dengan menggunakan aplikasi berbasis cloud yang akan mengefektifkan kerja sang kasir. (5). E Commerce dan Marketplace : tidak bisa dimungkiri dengan semakin berkembangnya transportasi online, pada akhirnya semakin membuka peluang bisnis-bisnis baru yang terintegrasi dengan teknologi. Sama seperti bisnis F&B, saat ini semakin banyak pelaku industri F&B yang juga membuka toko online / situs e-commerce di samping mereka sendiri tetap memiliki outlet / tempat makannya yang berlokasi di suatu tempat.

ACHMAD S.F