Penurunan Kuota Ekspor Oleh ITRC Dongkrak Harga Karet Internasional

47

BISNIS BANDUNG — Pakar Perdagangan Internasional dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti Ph.D meneyebut , komoditas karet alam merupakan komoditas andalan  Indonesia setelah tekstil, produk tekstil dan elektronik. Komoditas ini memberikan kontribusi 5,17% terhadap total ekspor komoditas industri non migas.

Berdasar data Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), Indonesia merupakan negara kedua pengekspor karet alam terbesar di dunia (3,2 juta ton/tahun) setelah Thailand (4.07 juta ton/tahun) ,disusul Malaysia (1.04 juta ton/tahun), Vietnam dan India. Namun seiring dengan produksi yang meningkat di pasaran internasional , berdampak pada menurunnya harga karet dunia dan  pada penerimaan devisa Indonesia.

Yayan menunjuk data BPS (2018) yang merinci share ekspor komoditas karet alam sebesar 82,45% pada tahun 2017 dengan volume mencapai 2.992 juta ton. Provinsi penghasil karet alam di Indonesia adalah Provinsi Sumatera Selatan sebesar 22.92%, kemudian Provinsi Riau 12,32%, Provinsi Jambi  10,27%, Provinsi Kalimantar Barat 10,03% dan Provinsi Riau 9,57%.

Kinerja ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2017 merupakan  tertinggi kinerja ekspor terbesar sejak tahun 2006  sebesar 2,9 juta ton.Jika dibandingkan tahun sebelumnya, pada tahun 2016 jumlah ekspor mencapai 2.5 juta ton. Sejak tahun 2006, kinerja ekspor Indonesia berada pada kisaran antara 1.9 – 2.6 juta ton. Total nilai ekspor ini mengasilkan devisa negara sebesar US$5,7 miliar.

Sejak tahun 2014, harga karet alam mengalami penurunan dari US$ 1,81 menjadi US$  1,31 , kemudian pada tahun 2015  naik menjadi US$ 1,7. Berdasarkan hasil pertemuan International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengajukan harga karet naik menjadi US$2,00 seperti harga pada tahun 2013.  Negara anggota ITRC sepakat mengurangi kuota ekspor guna menstabilkan harga ekspor karet di pasaran internasional. Untuk melaksanakan hal tersebut Indonesia melalui Kementrian Perdagangan mengatur kuota ekspor karet alam melalui Kepmendag Nomor 779 tahun 2019 sebesar 841,792 ton selama periode April hingga Juli 2019.

Akademisi Unpad ini mengungkapkan, hasil dari kebijakan ini berdasarkan data dari Singapore Commodity Exchange, telah mengangkat harga karet alam dari US$1,59 pada bulan Januari 2019 menjadi US$1,77 pada bulan Mei 2019. Tampaknya kebijakan kuota ini akan terus dilakukan oleh pemerintah melihat indikasi kuota relatif memberikan dampak positif terhadap kenaikan harga karet yang merupakan komoditas andalan ketiga Indonesia setelah tekstil dan produk tekstil dan elektronik yang memberi kontribusi 5,17% terhadap total ekspor komoditas industri non migas.

Hal ini, tambah Yayan , berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani karena pemilik lahan terbesar perkebunan rakyat (84,81%) disusul oleh perkebunan swasta (8,82%) dan lainnya 6,37%. (E-018)***