Kisah Mendirikan Bisnis Ekowisata Desa

19

GUNUNGKIDUL adalah sebuah kabupaten di Yogyakarta yang sejak dulu kerap dilanda bencana kekeringan panjang jika musim kemarau datang. Wajah Gunungkidul dahulu tak pernah seindah sekarang. Bahkan sebagian besar orang langsung membayangkan Gunungkidul sebagai wilayah yang kering dan mahal air.

Desa Nglanggeran, yang berada di Kecamatan Patuk, Gunungkidul juga mengalami nasib serupa. Kondisi diperparah dengan kebiasaan masyarakat sekitar yang tanpa sadar berpotensi merusak lingkungan sekitar.

Warga sering menebang pohon untuk diambil kayunya. Batuan yang berserak di sekitar tempat wisata Gunung Api Purba, Nglanggeran juga habis dipunguti warga. Kayu dan batu tersebut dijual, supaya dapur tetap mengepul.

“Semakin lama stok air tanah makin menipis. Sumber air di desa kami habis terkuras. Padahal baru disedot pakai 5 pompa,” kata Sugeng  Handoko.

Berangkat dari keprihatinan di tempat kelahirannya, serta melihat potensi wisata di Nglanggeran, Sugeng menggandeng teman dan seniornya tergabung dalam Karang Taruna Bukit Putra Mandiri untuk bersama-sama membangun Ekowisata Desa Nglanggeran pada 2008. “Ide sudah sejak 1999, tapi kala itu masih remaja,” jelasnya,

Sejak saat itu, Sugeng dan para pemuda Desa Nglanggeran menjadi motor penggerak bisnis di kawasan wisata tersebut. Lebih dari 10 tahun berjalan, kini setidaknya ada ratusan ribu pengunjung berdatangan ke desanya tiap tahun  untuk melihat potensi alam pedesaan yang mempunyai objek wisata Gunung Api Purba dan embung Nglanggeran tersebut.

Langkah awal yang dilakukan Sugeng tersebut bukanlah tanpa alasan. Ia menyadari betul jika desanya memiliki keindahan alam yang unik dan tidak ada di daerah lain. Salah satu keunikan tersebut ada pada struktur Gunung Nglanggeran yang memiliki luas sekitar 48 hektare (ha).

Struktur batuan gunung ini bukan berbentuk batuan kapur yang biasa ada di  Gunungkidul, tetapi batuan vulkanik akibat aktivitas gunung api yang terjadi sekitar 60 juta tahun silam.

Nglanggeran sendiri memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur serta sebuah kaldera di tengahnya. Deretan gunung batu raksasa ini mempunyai pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir dan Gunung Wayang.

Ekowisata Gunung Api Purba, Nglanggaran pun jadi salah satu objek wisata yang diperhitungkan di Yogyakarta. Selain keindahan alam, Sugeng juga berhasil mengemasnya sebagai wisata edukasi dan mampu meraup omzet miliaran rupiah per tahunnya.

Membangun sebuah wilayah yang sering terkena dampak kekeringan menjadi desa wisata bukan pekerjaan mudah. Inilah yang dialami  Sugeng Handoko, penggagas dan pendiri Ekowisata Desa Nglanggeran, Gunungkidul,  Yogyakarta.

Perjalanannya membuat desa wisata sendiri tidak mudah. Bahkan Sugeng sempat dianggap anak kemarin sore oleh beberapa warga desa yang lebih tua. Apalagi sebelumnya warga sudah terbiasa berjualan kayu dan batu. “Proses yang paling susah mengedukasi masyarakat dan mengubah kebiasaan itu agak susah,” ungkapnya.

Inilah yang membuat dirinya dalam menjalakan konsep ekowisata di Desa Nglanggeran di tahun pertama merupakan masa terberat bagi Sugeng dan koleganya di  Karang Taruna Bukit Putra Mandiri. Namun dirinya tidak patah arang dalam mengedukasi warga.

Hasilnya baru terlihat satu tahun kemudian. Pada 2008,  beberapa rumah warga sudah bisa digunakan untuk homestay dan sejumlah kegiatan wisata mulai berjalan.

Ia pun menyediakan beberapa paket wisata untuk  para pelancong. Ada paket homestay, paket outboud, serta paket live in dengan banderol mulai Rp 130.000 hingga Rp 750.000 per orang.   Aneka paket tersebut selalu diupdate di situs gunung-apipurba.com. Saat ini, sudah ada 80 homestay dengan kapasitas 250 orang. “Turis bisa berbaur dengan masyarakat,” katanya.

Berbagai kegiatan disuguhkan masyarakat Desa Nglanggeran. Beberapa diantaranya seperti outbond, treking Gunung Api Purba, panjat tebing, flying fox hingga paket wisata budaya seperti paket wisata bertani, paket belajar karawitan dan workshop batik topeng.

Yang terbaru, Pria kelahiran 1988 ini juga meluncurkan Griya Cokelat Nglanggeran sejak 2014. Ia bekerjasama dengan para petani kakao di sekitar Yogyakarta. Aneka produk olahan kakao dijajakan dengan harga Rp 13.000 – Rp 60.000.  Jadi setelah selesai berkunjung, pelancong bisa belanja oleh-oleh khas Nglanggerang. “Kalau bakpia sudah biasa,” tuturnya.

Seluruh kegiatan ekowisata di Nglanggeran dikelola oleh Karang Taruna Bukit Putra Mandiri. Tak cuma itu, karang taruna ini juga mengikutsertakan masyarakat sekitar. “Omzet kami gunakan untuk pembangunan desa. Tapi tidak menutup kemungkinan bermitra dengan pihak lain,” jelasnya.

Segala jerih payah Sugeng dan teman-teman Karang Taruna Bukit Putra Mandiri kini membuahkan hasil. Mulai banyak  masyarakat yang menjadi perajin, pemandu wisata, pedagang dan lainnya. Pendapat warga dan desa pun terangkat.  Secara perlahan, mengubah pola pikir masyarakat bahwa sukses harus merantau.

Wajah Desa Nglanggeran, Pathuk, Gunungkidul Yogyakarta mulai berubah. Areal yang dulunya tandus, sedikit demi sedikit mulai menghijau dan bergairah. Perubahan ini tidak terlepas dari gerakan pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh Sugeng Handoko.

Gerakan tersebut ternyata bisa mendorong  partisipasi warga lebih aktif. Warga pun  mulai menghidupkan kembali potensi perkebunan dan peternakan mereka. Semisal mengembangkan perkebunan  durian dan kelengkeng. Dan tidak lagi mengandalkan kayu dan batu sebagai sumber pemasukan.

Penanaman pohon secara rutin juga getol digalakkan di desa dengan luas 45 hektare tersebut. “Pada 2012, desa kami dapat hibah sekitar Rp 1,04 miliar dari pemerintah provinsi untuk membuat embung di tiga dusun Nglanggeran,” jelas Sugeng.

Embung tersebut akhirnya diresmikan pada 2013. Dinas Pertanian dan Yayasan Obor Tani ikut memberikan penyuluhan soal cara pemanfaatan embung.

Sejak adanya embung, warga Desa Nglanggeran tak lagi takut kekurangan air. Embung seluas 0,34 hektare difungsikan untuk menampung air hujan dan dipakai sebagai cadangan saat kemarau datang.

Bahkan 21 pompa air dikerahkan untuk mengalirkan air ke perkebunan buah dan sawah milik warga. “Sejak ada embung, kami membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Kami buktikan kalau alam dilestarikan bisa mendatangkan manfaat buat desa dan ekonomi,” tuturnya.

Warga tak lagi kekurangan air, roda perekonomian juga terdongkrak. Sebab, warga mendapat tambahan penghasilan dari pengembangan ekowisata Nglanggeran.

Tak sampai di situ, Sugeng juga menggandeng kelompok tani Kumpul Makaryo  dan kelompok ternak Purbaya. Pria yang kerap tampil menggunakan blangkon ini membuat wisata edukasi pengenalan pertanian dengan paket wisata budidaya padi, hidroponik dan budidaya kambing etawa (PE). “Biasanya paket wisata ini berkelompok dan yang paling banyak peminatnya dari pelajar,” ujar Sugeng.

Atas kerja kerasnya, Sugeng diganjar beberapa penghargaan, antara lain Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2011 dalam bidang seni budaya dan pariwisata dan The Winner Hilo Green Leader 2015.

Desa Nglanggeran juga menjadi kawasan GeoPark UNESCO dan mendapat sejumlah apresiasi. Salah satunya sebagai Desa Wisata Terbaik se-ASEAN oleh ASEAN Community Based Tourism Award 2017.

Bapak satu anak ini juga kerap menjadi pembicara tentang membangun desa wisata di sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan tak jarang beberapa pejabat desa berkonsultasi dengan Sugeng untuk mengembangkan desanya agar lebih berdaya dan produktif. “Kuncinya kolaborasi dan tidak jalan sendiri. Kalau mau satu desa maju, satu desa harus bergerak,” sarannya. (C-003/BBS)***