Hujan Belum juga Datang Bencana Mulai Mengintip

22

SAMPAI pertengahan Oktober ini di daerah Bandung Selatan belum turun hujan. Di Bandung bagian utara dan barat sudah diguyur hujan cukup lebat bahkan di daerah Pasteur banjir  cileuncang pernah lewat. Kemarau panjang tahun ini berakibat sangat buruk bagi pertanian.  Bandung bagian selatan yang termasuk daerah subur, air selalu banyak, sekarang ratusan hektare sawah dan perkebunan sayur mayur kering kerontang. Memang belum ada ketetapan pemerintah, berapa hektar sawah yang mengalami gagal panen bahkan puso.

Semua warga di mana pun, mengalami parahnya musim kemarau. Mereka benar-benar sangat mendambakan datangnya hujan. Banyak sekali warga yang mengalami kesulitan air untuk keperluan sehari-hari. Banyak sumur penduduk yang sudah lama kering. Tak ada lagi air di kubangan dan sungai. Untuk minum dan memasak, banyak warga yang terpaksa memanfaatkan air sungai yang sangat kotor. Kiriman air besih dari PDAM sulit sampai ke pelosok.

Di daerah Ciwidey yang terkenal akan kesuburan tanahnya dan air selalu melimpah, pada musim kemarau tahun ini tak ada lagi air yang tersisa. Baru kali ini, warga Ciwidey terpanggil melakukan salat istisko. Mereka mengharap hujan sedgera turun karena sudah enam bulan ini, tak ada tanda-tanda akan trun hujan. Apalagi di daerah bagian bawah. Persawahan di Bandung bagian selatan, barat, dan timur sudah berubaha menjadi padang tandus. Tumbuhan yanhg tersisa hanya jertami dan rumput kering yang menguning.

Betulkah warga Bandung Selatan seperti Bojongsoang, Baleendah, dan Dayeuhkolot, sangat mendambakan hujan?   Pertanyaan itu sulit dijawab. Pada kenyataannya sangat membutuhkan air bersih. Mereka mengharapkan hujan segera datang. Pada sisi lain, hati kecil mereka mulai khawatir, musim hujan bagi mereka adalah musim bencana.

Menurut BMKG, musim hujan mundur, biasanya mulai September/Oktgober, sekarang diperkirakan bulan Novembver, musim hujan dimulai. Bagi warga Bandung Selatan, mulai bulan November merupakan awal bencana banjir, banjir bandang, longsor, atau tanah bergeser. Tampaknya pemerintah belum benar-benar mampu menaggulangi bencana yang mengintip itu. Baru sampai pada tahap imbauan, masyarakat harus berhati-hati menghadapi bencana hidrtomeorogi tersebut.

Hal itu tidak berarti masyarfakat dan pemerintah tidak tanggap terhadap bencana. Upaya terus dilakukan. Pemerintah pusat dan daerah, dibantu TNI, melakukan gerakan  Citarum Harum. Bukan saja tenaga yang dikerahkan tetapi juga anggaran. Triliunan rupiah, uang dikucurkan bagi penanganan Citarum. Hasilnya memang belum benar-benar dirasakan masyarakat. Ternyata gerakan penanggulangan aliran Citarum tidak terlalau mudah. Hal itu berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan . Kawasan sepanjang DAS Citarum sudah kadung dijadikan kawasan industri. Izin pembangunan perumahan terus dikeluarkan tanpa  memperhitungkan akibat dan dampaknya.

Permukiman dibangun hanya beberapa meter dari bibir sungai. Daerah-daerah serapan air  seperti di Bojongsoang, Tegalluar, Gedebage, bahkan sampai ke  daerah Karawang. Wilayah itu yang tadinya merupakan  daerah pertanian yang mampu menyerap air pada musim hujan dan menyimpannya pada musim kemarau sekarang sudah beralih fungsi. Hujan tidak lagi mengendap sepanjang DAS Citarum itu tetapi mengalir deras melalui aspal dan beton.

Uang triliunan itu, memang tidak mubah apalagi mubazir namun tanpa penanganan yang menyeluruh, bencana tiap tahun akan terus mengintip/ Musim kemarau, rakyat terpapar bencana kekeringan. Musum hujan, seperti biasa, ,mereka akan men jadi kotrban  banjir.

Sampai kapan?   ***