Produsen Otomotif Menggenjot Pasar Ekspor

11

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengungkapkan, kemampuan industri otomotif di Indonesia sat ini membuat khawatir kompetitornya . Salah satu yang dicemaskan adalah upaya Indonesia mengoptimalkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

“ Industri ini berbasis komponen lokal. Dengan local content yang semakin banyak, daya saing kita semakin kuat. Karena seluruh industri di sektor otomotif kita  ekosistemnya adalah just in time,” ungkap Airlangga dalam keterangan tertulis yang diperoleh BB.

Dikemukakan Airlangga ,  kontribusi industri otomotif lewat ekspor, investasi dan penyerapan tenaga kerja mulai berdampak signifikan bagi perekonomian nasional. Pemerintah juga telah memasukan industri otomotif sebagai satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan dalam penerapan industri 4.0.

Produksi dan penjualan pelaku industri otomotif Indonesia sejak tahun 2013 sampai 2018  mencapai rata-rata di atas 1,2 juta unit per-tahun.

” Di mana tentunya banyak industri komponen lokal yang turut tumbuh sejalan dengan peningkatan produksi tersebut,” ujarnya.

Data Kemenperin juga mencatat produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih pada periode Januari – Juli 2019 sebesar 712.000 unit. Dair jumlah tersebut penjualan domestik mencapai 570.000 unit, ekspor CBU sebanyak 169.000 unit, CKD 423.000 set dan komponen sebesar 48,9 juta pieces.

“ Jadi, saat ini tahapannya Indonesia tidak hanya sebagai global value chain, tetapi juga menjadi global vendor untuk kendaraan CBU itu sendiri,” kata dia.

Kemampuan industri otomotif nasional juga terlihat dari pangsa pasar ekspor yang sudah menembus lebih dari 80 negara di dunia termasuk lima negara tujuan utama ekspor, yaitu Filipina, Saudi Arabia, Jepang, Meksiko dan Vietnam.

Pada tahun 2019, ekspor kendaraan CBU ditargetkan mencapai 400.000 unit dan diharapkan terus meningkat setiap tahunnya. Harapannya, Indonesia bisa mengekspor kendaraan CBU sebanyak 1 juta unit pada tahun 2025.

“Saat ini, kalau kita lihat, industri otomotif kita sudah mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Jadi, jumlah produksi nasional jauh lebih tinggi daripada impornya,” papar Airlangga.

Airlangga menambahkan , ke depan, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden (PP) No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Hal ini akan menjadi peluang baru bagi industri komponen dalam negeri untuk memulai aktivitas R&D komponen pendukung kendaraan bermotor listrik. (E-002)***