Aksi Demo Pengaruhi  Minat Investasi

17

BISNIS BANDUNG – Pemdaprov Jabar  memberikan  jaminan dan perhatian serius atas kenyamanan dan keamanan bagi  investor  untuk menanamkan investasinya  baik  bagi PMDN maupun  PMA.  Termasuk bagaimana upaya  meminimalisasi  dari  pengaruh unjuk rasa atau demonstrasi buruh dan mahasiswa   terhadap  minat  investasi  di sini.

“Tentunya  seringnya  aksi demonstrasi di Bandung dan sekitarnya    memberikan  pengaruh  bagi investor  untuk memutuskan  dalam penanaman modal di Jawa Barat,”  ungkap Diding Abidin, Kabid  Pengendalian Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) Jabar  pada acara Jabar Punya Informasi  (Japri) di halaman Gedung Sate, Senin (14/10/2019).

Menurut  Diding, iklim investasi yang kondusif  itu begitu  penting  bagi  investor, pemerintah dan masyarakat  untuk meningkatkan pertumbuhan  ekonomi. Oleh sebab itu, Mabes Polri dan BKPM  telah melakukan MoU untuk  menjamin  adanya suasana nyaman dan aman dari pengaruh demonstrasi.

“ Di Jawa Barat  sendiri  sudah  lama terbentuk  Task Porce, yakni  satuan tugas  dari berbagai  institusi  dalam rangka  menciptakan  iklim  investasi yang mendukung bagi investor ,”  tutur Diding.

Salah satu upaya menarik investasi  atau menawarkan sejumlah proyek  bagi  investor asing  (PMA) maupun  lokal  (PMDN)  di Jabar, menurut  Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi,  Eka Hendrawan  akan  diselenggarakan West Java Investment Summit (WJIS) 2019 di Bandung, pada Jumat, 18 Oktober 2019 yang diikuti sekitar 300 peserta delegasi asing.

Eka mengatakan sejumlah proyek pembangunan di Jawa Barat akan ditawarkan dalam kegiatan tersebut di antaranya proyek pembangunan monorail Bandung Raya, proyek pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka dan Ciayumajakuning, pembangunan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Jatigede dan Bandung Raya /Sinumbra.

Kemudian proyek pembangunan Aerocity BIJB, pembangunan kawasan industri Segitiga Rebana (Cirebon Subang Majalengka), pembangunan Kawasan lndustri Lido, Kabupaten Bogor‚ Cikidang Kabupaten Sukabumi serta Pangandaran.

Dia mengatakan sejumlah investor asing yang telah menunjukkan minat terhadap proyek dimaksud berasal dari Eropa (Inggris, Belgia, dan Perancis), kawasan Amerika (AS dan Kanada), Timur Tengah (Kuwait, Pakistan, dan Sudan) dan Asia (antara lain Singapura, Korea Selatan, Malaysia dan China).

WJIS 2019 nantinya akan terbagi menjadi lima kegiatan utama yaitu High Level Session, Penandatanganan MOU/Kesepakatan lnvestasi dan Perdagangan, Project Consultation, one-on-one meeting, dan pameran investasi dan UMKM.

“Khusus sesi penandatangan MoU, akan dilakukan penandatanganan beberapa kesepakatan investasi antara Iain dengan kawasan industri Cikidang, perluasan pabrik elektronik di Kabupaten Bekasi dan kesepakatan perdagangan dengan BUMD pangan Jawa Barat,” kata dia.

Dia mengatakan WJIS 2019 juga menjadi “market sounding” untuk proyek TPPAS Legok Nangka yang akan ditenderkan pada akhir tahun ini.

“Acara ini biasanya dua tahun sekali, tapi tahun 2019 ini kita ingin lebih baik lagi menyelenggarakan acara ini dan atas arahan Pak gubernur acara ini namanya sedikit diubah menjadi West Java Investment Summit,” kata dia.

Oleh karena itu, pemerintah provinsi Jawa Barat berharap dapat berkolabroasi dengan Bank Indonesia perwakilan Jawa Barat supaya acara lebih bebobot, skala lebih besar sehingga pihaknya perlu melakukan kolaborasi dengan berbagi pihak.

Kepala Group Advisory Pengembangan Ekonomi, Kantor Perwakilan BI Jawa Barat (Jabar) Santoso menuturkan perkembangan ekonomi Jawa Barat yang relatif solid tercermin dari rerata pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir sebesar 5,55 persen (yoy) dan lebih baik dibandingkan rerata perekonomian nasional yang sebesar 5,07 persen (yoy).

Dia mengatakan kinerja positif tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan dengan pangsa 42 persen dan kinerja tingkat konsumsi terutama kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 65 persen. (B-002)***