Ketergantungan Gunakan Gadget Menjadi Penyebab Gangguan Kejiwaan

36

BISNIS BANDUNG – Direktur RS Jiwa (RSJ) Provinsi Jabar, Elly Marliani mengingatkan munculnya  perasaan sedih, letih, lesu tidak bersemangat, malas ke luar rumah  dan malas beraktivitas,  itu sudah menunjukkan gejala  penderita orang dengan  masalah kejiwaan (ODMK).  Selain  itu,  penderitaan  diperberat  rasa putus asa, putus harapan,  bahkan ingin mengakhiri hidup.

“Jika seperti itu  harus melakukan call friend atau  cari pertolongan,”  katanya pada acara Jabar Punya Informasi (Japri)   bertajuk Hari Kesehatan Jiwa Dunia 2019 di Gedung Sate Kota Bandung, Kamis (10/10/2019).

Menurut Elly, di Jawa Barat  jumlah penderita ODMK  cukup banyak, lebih banyak dari Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Berdasarkan data, jumlah penderita ODMK di Jawa Barat sekitar 10 persen atau 10 dari 100 orang masyarakat Jawa Barat, mengalami ODMK.

Penyebabnya multi faktor yaitu biopsycho sosialspiritual. Untuk psychosocial yang tertinggi karena stres  kehidupan, seperti ditinggal oleh orang terdekat, masalah pekerjaan dll. Bahkan ketergantungan menggunakan gadget, menjadi  penyebab gangguan jiwa.

Sebelumnya kasus ODMK terjadi pada usia paling muda 15 tahun, namun kini ada ODMK dengan usia 5 dan 8 tahun akibat ketergantungan pada gadget.  “Kami (RSJ) menerima pasien sakit jiwa usia 8 tahun, akibat kecanduan menggunakan gadget,”  ucapnya.

Remaja merokok juga menjadi gerbang penggunaan napza dan mengakibatkan ketagihan.Kasus seperti ini mendongkrak jumlah penderita ODMK meningkat tajam terutama di perkotaan.

Dalam Japri itu  dihadirkan  testimoni oleh  seorang pemuda asal Sumedang, bernama Yono Sugiono (35) termasuk dalam kelompok ODMK. Ia  nyaris dua kali berniat mengahiri hidupnya. Konon, ia  patah hati imbas  putus cinta dengan pujaan hatinya.

Aksi nekad itu pertamakali dilakukan pada tahun 2006. Tiga tahun berikutnya pada tahun 2009, niat untuk melakukan bunuh diri itu kembali muncul. Diakuinya  ia  merasa hidupnya tidak berguna, kurang percaya diri dan tidak punya lagi harapan hidup.

Penyakit tidak menular ini, ungkap  Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Jawa Barat Arief Sutedjo, merupakan fenomena gunung es. Kasus ODMK yang terungkap saat ini  relatif sedikit, padahal jumlahnya banyak sekali.

Ia mengungkapkan, di Jawa Barat prevalensi penderita gangguan jiwa 0,14 persen dari 49 juta penduduk Jawa Barat atau sekitar 69 ribu orang, namun hanya 10 persen yang mendapat layanan sosial, kesehatan dll.

Meningkatnya penderita ODMK termasuk angka bunuh diri ini, menurut staf Khusus Gubernur Jawa Barat bidang kesehatan Siska Gerfianti, cukup menghawatirkan.

“Ini menghawatirkan bagi kita kalau sumberdaya manusia yang ada begitu rentan,” ucap dia.

Guna merespons kasus tersebut, Jawa Barat mengisi hari Keseharan Jiwa Sedunia tahun ini, dengan menyelenggarakan sosialisasi bagi mahasiswa tentang gangguan kejiwaan dan pencegahannya serta melatih siswa SMA tentang Mental Health First Aid, Pertolongan Pertama Kesehatan Mental.

Pada puncak peringatan yang akan digelar 23 Oktober 2019, juga akan diresmikan kampung dan cafe Walagri (wahana layanan ODGJ mandiri) serta crisis center untuk pencegahan bunuh diri. Tema peringatan tahun ini “Promosi kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri.” (B-002)***