Transaksi Toko Online VS Toko Konvensional

63

VIRUS digital terus merangsek bisnis ritel. Transaksi ritel online atau e-commerce berpotensi terus menanjak dalam beberapa tahun ke depan.

Saat ini, nilai transaksi e-commerce meningkat pesat. Bahkan, nilai transaksi e-commerce sudah mendekati nilai penjualan ritel konvensional.

Hasil riset CLSA, perusahaan finansial yang berbasis di Hong Kong, memperlihatkan penjualan ritel secara online di Indonesia tahun ini akan menembus US$ 38,3 miliar setara Rp 543,86 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar Amerika Serikat).

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) , nilai sektor perdagangan besar dan eceran (di luar produk otomotif) pada 2018 mencapai Rp 1.544,96 triliun. Ini berkontribusi 10,41% terhadap produk domestik bruto (PDB).

CLSA memproyeksikan, nilai penjualan kotor atau gross merchandise value (GMV) ritel online terus meningkat pesat hingga 2020 mencapai US$ 58,6 miliar atau sekitar Rp 849,70 triliun (kurs rupiah Rp 14.500 per dollar AS sesuai target APBN 2019).

Bersamaan dengan itu, peran transaksi online terhadap total penjualan ritel juga meningkat. Indonesia untuk pertama kali akan mengalahkan penjualan ritel online India yang hanya US$ 52,2 miliar. Saat ini, penjualan ritel online Indonesia masih di bawah India dengan nilai transaksi US$ 38,6 miliar pada tahun 2019.

Sejumlah raksasa e-commerce Indonesia menikmati berkah tingginya minat belanja online orang Indonesia. Tokopedia, misalnya, optimistis bisa mencapai GMV hingga Rp 222 triliun tahun ini. “Dilihat dari GMV, kontribusi Tokopedia tahun lalu Rp 73 triliun, setara PDB 0,5%. Estimasi tahun ini tembus Rp 222 triliun,” ujar Senior Public Relation Specialist Tokopedia Antonia Adega, Senin (14/10), seperti juga diungkapkan CEO Tokopedia William Tanuwijaya

Dengan GMV Rp 222 triliun, menurut Komisaris Utama Tokopedia Agus Martowardojo, Tokopedia akan berkontribusi 1,5% terhadap PDB. Saat ini, Tokopedia memiliki 90 juta pengguna aktif setiap bulan. Ke depan, mereka akan memacu jumlah pengguna untuk memenuhi target GMV 10 tahun mendatang yakni setara 5%-10% terhadap PDB.

Head of Corporate Communicaton Bukalapak Intan Wibisono menyebut, GMV Bukalapak hingga pertengahan tahun ini US$ 5 miliar. Jumlah itu ditopang 2 juta transaksi per hari. Tingginya transaksi karena Bukalapak punya 2 juta mitra dan menjadi bagian 4 juta pelaku UMKM. Kini, mereka memiliki mitra di 477 kota/kabupaten. “Rata-rata pelanggan warung mitra dua kali lebih banyak daripada pengunjung pusat perbelanjaan,” klaim Intan.

Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja mengakui minat konsumen membeli kebutuhan ritel secara online terus meningkat. Secara total, GMV Shopee mencapai US$ 7,3 miliar semester I 2019, tumbuh 78,05% (yoy). Kontribusi Shopee Indonesia setara 40%.

Mereka optimistis GMV semester kedua akan naik pesat. “Semester II, terutama kuartal IV, ada momentum belanja e-commerce melalui pesta diskon,” lanjut Handhika, kemarin. Pesta diskon biasanya berlangsung di periode tertentu setiap bulan, seperti 10.10, 11.11 maupun 12.12. Shopee juga memacu GMV melalui penjualan ekspor. Shopee kini memiliki program ekspor, dengan target ke Singapura dan Malaysia. (C-003/BBS)***