Menepis Label Bandung “Kota Termacet”

32

BUKAN  hal baru, jika Bandung  kerap dicibir  sebagai  kota yang   ruas jalannya  banyak dipadati kendaraan.  Sumpah serapah   terbiasa  dilakukan  para  pengguna  jangan  berbicara kasar tidak karuan,  karena  kecewa, marah  kelamaan menunggu di lampu stopan.

Maklum  jarak antara lampu stopan ke stopan lainnya  banyak yang dekat,  imbasnya antrean sangat panjang, sehingga menjengkelkan.  Belum lagi  di pagi hari  saat  mengantar  anak sekolah dan jam  masuk kantor.  Minta ampuuun   macetnya….  pantas saja orang semaunya menjuluki  Bandung  sebagai kota “ termacet  di dunia.”

Saya  menolak  julukan seperti itu, meski  sebenarnya menyadari  kemacetan  lalu lintas di Kota Bandung akhir-akhir ini  terasa  makin parah. Terutama di  ruas-ruas jalan perbatasan dengan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi  dan Kabupaten Sumedang. Yah, sekitar perbatasan  Bandung Raya. Namun, bukan berarti  ruas  jalan di tengah  kota   tidak ada hambatan.

Asumsi salah satu penyebab  mendapat label kota termacet, boleh  jadi  lantaran  warganya yang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan moda transportasi umum. Jumlah pertumbuhan kendaraan pribadi  cukup tinggi dibanding jumlah pertumbuhan pembangunan infrastruktur jalan.

Konon  warga yang menggunakan kendaraan pribadi mencapai 80 persen, sedangkan warga yang menggunakan transportasi umum hanya 20 persen, sehingga  wajar jika kemacetan kerap terjadi di  sini.

Warga yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, tentunya  bukan tanpa sebab, mengingat  saat ini sarana transportasi umum  sangat  kurang menunjang.

Selain itu, transportasi umum pun  tidak memiliki ketepatan waktu yang jelas. Akibatnya warga lebih memilik menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing baik roda dua maupun roda empat.

Pertanyaannya perlukah menyiapkan solusi kemacetan di Bandung dengan  mengadopsi kebijakan dari daerah lain. Sebut saja, solusi kemacetan di Jakarta dengan kebijakan ganjil-genap yang belum lama ini  jangkauannya  makin diperluas. Nah…kala  cocok,  ayo kita pertimbangkan.

Jajang  Sulaeman, Kopo Bihbul Bandung