Merintis Penginapan Di Kaki Gunung Rinjani

51

MENJALANI kehidupan di desa dengan suasana damai, tenang dan udara segar adalah impian banyak orang. Meski demikian, tidak banyak orang yang berani keluar dari zona nyaman perkotaan dan memilih pedesaan sebagai tempat tinggal.

Kaum urban umumnya enggan untuk kembali ke desa asal dengan berbagai alasan. Mulai tak ada pekerjaan, susah mengais rezeki hingga sepi yang mencekam. Namun,  ini tak berlaku bagi Laely Farida.

Tidak seperti pilihan kaum urban kebanyakan, sejak duduk di bangku kuliah, Laely justru bercita-cita tinggal dan melakukan sesuatu di desa asalnya di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ia yakin, Sembalun bisa mewujudkan keinginannya untuk berbuat sesuatu di desanya. Setelah menyelesaikan program short-course bahasa Inggrisnya di Cambridge, Inggris, Laely pun memutuskan kembali ke Sembalun.

Awalnya, ia membuka bisnis penginapan Rinjani Garden di kaki Gunung Rinjani di tahun 2013. Di lahan seluas 2.000 meter persegi,  Laely menyulap lahan itu menjadi tempat nyaman untuk menginap, khususnya bagi para pendaki yang hendak ke Rinjani.

“Konsep awalnya camping ground untuk menginap para pendaki yang budgetnya terbatas,: ujarnya.  Makanya, di awal pendirian, tak ada kamar-kamar menginal. Ia hanya menyiapkan lahan dan toilet bersih. Bahkan,  tenda tak ia siapkan. “Para pendaki pasti sudah siap itu,” jelasnya.

Seiring banyaknya peminat, Laely mengubah konsep Rinjani Garden. Perempuan berkacamata ini menambahkan enam kamar tidur dan menyediakan tenda untuk menginap di tahun 2016 agar. pengunjung bisa memilih.

Laely kemudian juga menambah fasilitas air hangat. Seiring dengan penambahan fasilitas, harga menginap per malam untuk kamar tidur sebesar Rp 300.000 – Rp 350.000. Sedangkan di tenda biayanya Rp 200.000 – Rp 250.000 per malam. Rinjani Garden juga menyiapkan tenda dan isinya. “Tinggal datang saja,” ujarnya.  Kamar ukurannya lebih kecil dari penginapan umumnya karena Laely menyasar pendaki yang  umu,mnya menumpang istirahat dan toilet. Karena itu, tingkat okupansi Rinjani Garden sekitar 30% – 40%.

Dalam menjalankan bisnisnya, Laely bekerjasama dengan aplikasi pemesanan kamar online, seperti booking.com, Agoda, dan Traveloka. Ia juga menggunakan Google Bisnisku (Google My Business) sejak awal mengelola Rinjani Garden.

Pertumbuhan bisnisnya terbantu aplikasi Google Bisnisku yang dilengkapi dengan peta akurat. “Pengunjung  umumnya tahu Rinjani Garden dari Google,” ungkap Laely.

Gempa bumi dahsyat yang menimpa Lombok Juli 2018 lalu menjadi duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak terkecuali Laely Farida, pemilik Rinjani Garden. Gempa berkekuatan 6,4 skala richter (SR) itu melumpuhkan seluruh aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.

Kenyataan itu pula yang harus dihadapi Laely. Ia menuturkan, pasca bencana gempa Lombok tahun lalu, Rinjani Garden seperti mati suri. Setahun lamanya, penginapan di kaki Gunung Rinjani itu tidak beroperasi karena banyak kerusakan di lingkungan sekitar kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

“Alhamdulillah di sini tidak rusak parah, tapi tetangga-tetangga sekitar kami yang rusak. Jadi waktu itu kami tetap buka, tapi enggak pakai tarif, saya gratiskan, terutama bagi para relawan,” ungkap Laely.

Tahun 2018, adalah tahun yang berat bagi Laely. Pasca gempa, nyaris tidak ada pendaki yang berani ke Rinjani. Belum lagi adanya beberapa gempa susulan yang tak kalah dahsyat membuat kondisi makin tak menentu.

Selama setahun, perempuan berhijab ini pun memutuskan untuk membantu para korban gempa, terjun menjadi relawan bencana.”Ya mau bagaimana lagi, karena memang sebagian besar pasar kami ini adalah para pendaki yang mau ke Rinjani. Jadi kalau pendakian ditutup, habis juga pasar kami,” ujar Laely.

Tak hanya bencana gempa menjadi tantangan bagi Rinjani Garden. Infrastruktur  seperto jalan serta pasokan air yang terbatas di daerah Sembalun menjadi masalah yang mudah diselesaikan.

Biaya transportasi yang cukup tinggi membuat Rinjani Garden dan penginapan di sekitar kaki Gunung Rinjani belum populer. Butuh waktu 3 jam perjalanan dari Kota Mataram ke Sembalun. Kondisi jalan yang dilalui pun tidak selalu mulus.

Banyak tikungan tajam nan curam di beberapa titik perjalanan. Hal inilah yang menyebabkan biaya transportasi ke sana tidak murah.

“Sekarang jalan sudah jauh lebih baik, karena setelah gempa, diperbaiki oleh pemerintah. Kalau dulu, bisa nangis kalau mau ke sini, medannya susah,” kata Laely.

Selain akses jalan, pasokan air di Sembalun juga terbatas, apalagi pada saat musim kering tiba. Distribusi air dari sumber mata air tidak merata. Karena itulah, Laely harus pintar-pintar menyimpan pasokan air bagi pengguna Rinjani Garden.

“Kalau sedang susah air, saya harus beli, harganya Rp 200.000 untuk 3.000 liter. Air itu saya tampung di wadah penampungan air di belakang,” katanya.

Distribusi air yang belum merata karena sumber mata air ada di bawah menjadi masalah, utamanya mengangkut air ke atas dan sering habis duluan saat tiba.

Usaha penyewaan penginapan Rinjani Garden yang dirintis oleh Laely Farida mulai bangkit Pasca gempa yang melanda Lombok pada Juli 2018 lalu. Kebangkitan usaha ini seiring dengan mulainya aktivitas masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), dan berangsur aktivitas pendakian kembali normal di wilayah Gunung Rinjani, NTB.

Laely Farida, owner Rinjani Garden, kembali menata usahanya. Mulai awal tahun 2019, ia menata kembali puing-puing mimpinya melalui Rinjani Garden. Kerusakan-kerusakan di sekitar lokasi usaha akibat gempa mulai ia perbaiki.

“Ibaratnya, saya mulai lagi dari awal, tapi enggak apa-apa, memang harus kami hadapi. Saya mulai menata kembali manajemen dan konsep Rinjani Garden. Saya mulai menerapkan manajemen yang melek digital,” ungkapnya.

Sejak Agustus 2019, perempuan 51 tahun ini menjadi lebih aktif mengelola akun Google Bisnisku (Google My Bisnis) Rinjani Garden. Ia juga aktif mengikuti kelas-kelas seputar pelatihan bisnis dan pengelolaan manajemen penginapan yang diadakan oleh Gapura Digital dan Women Will. Dari komunitas itulah, Laely belajar banyak hal seputar marketing digital.

“Begitu gabung kelas, saya lebih bisa memaksimalkan fitur foto. Lalu kalau ada tamu yang menginap di sini, saya minta mereka untuk memberikan review mengenai fasilitas dan pengalaman mereka menginap di Rinjani Garden juga,” ujarnya.

Fitur review di Google Bisnisku berguna untuk meningkatkan kunjungan ke profil bisnisnya. Hal tersebut bisa jadi pilihan tamu untuk datang menginap. Calon pelanggan juga bisa membaca pengalaman dari pelanggan lain sebelum memutuskan memilih penginapan.

“Mungkin kalau orang bisa sukses dengan kerja keras, saya tidak termasuk orang sukses itu. Lha wong saya kerjanya foto-foto dan main handphone. Marketing digital itu nyawa buat Rinjani Garden,” ungkap Laely sambil terkekeh.

Seiring dengan kondisi Lombok yang makin baik, Laely pun telah menyiapkan sejumlah rencana untuk Rinjani Garden. Dalam waktu dekat, Rinjani Garden akan mendirikan kafe sederhana dengan latarbelakang pemandangan Gunung Rinjani. “Ini lagi kami bangun, kafe kecil-kecilan saja, biar pengunjung bisa ngobrol sambil minum kopi atau teh sore-sore, biar lebih santai,” katanya.

Di samping itu, lulusan sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini juga tengah menyiapkan pembangunan beberapa kamar baru. Tujuannya agar kapasitas penginapan makin bertambah sehingga pengunjungnya tak hanya terbatas dari kalangan pendaki Rinjani.

“Ke depan harapannya sih yang menginap di sini enggak hanya pendaki. Bisa dipakai untuk orang yang ingin wisata biasa, bisa juga untuk famili. Jadi pasarnya lebih luas,” tandas Laely.

Dengan menambah kapasitas kamar, berarti Laely juga harus menyiapkan pasokan air lebih banyak. Karena itu ia juga menambah tandon penampungan air agar tamu tidak perlu khawatir kehabisan air. (C-003)***