Perdagangan Ikan Butuh Data Akurat

6

MENURUT catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia merupakan produsen ikan tuna, tongkol, dan cakalang (tutoca) terbesar dunia. Tahun 2018, Indonesia menghasilkan 1,3 juta ton tutoca. Namun dari sisi ekspor, Indonesia berasda pada peringkat 9, jauh di bawah Thailand sebagai pengekspor tutoca terbesar dunia. Bahjkan, Indonesia masih harus mengimpor tuna untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi.

Ekspor tutoca Indonesia hanya 21,5 persen dari total produksi  yakni 167.695 ton atau setara 260.700 ton ikan segar. Ekspor Indonesia tetrbesar masih berupa ikan utuh, beku, dan sedikit olahan. Pasar global perikanan tidak terlalu tertarik dengan ikan beku. Pasar dunia justru membutuhkan ikan segar hidup atau olahan. Ekspor ikan olahan itulah yang jaub lebih menguntungkan dengan pangsa-pasar yang lebih luas dan besar. Produk ikan ol;ahan selain mampu mendorong ekspor, juga memiliki nilai tambah sehingga nilai ekpor tutoca terdorong maju.

Apabila benar, produksi ikan tutoca Indonesia 1,3 juta ton pertahun, sesdngkan ekspor 21,5 persen, ke mana lagi ikan 78,5 persen dari tiotral 1,3 juta ton itu? Tentu saja tidak menjadi masalah apabila ”sisa ekspor” itu menjadi komoditas ikan domestik. Indonesia sejak 10 tahun lalu melakukan pomosi besar-besaran agar masyarakat mau mengonsumsi ikan. Sosialisasi makan ikan itu ntuk kepentingan peningkatan gizi masyarakat sekali gus meningkatkan pasar dalam negeri.

Tingkat konsumsi ikan dalam negeri meningkat dari tahun ke tahun. Khusus produksi cakalang yang dikonsumsi masyarakat domestik mencapai 1,05 juta ton. Rata-rata konsumsi perprovinsi perkepala 4,7 kg perhari. Sekretaris Jenderal KKP, Nilanto Prabowo, mengatakan, konsumsi totuca dalam negeri sangat tinggi. Is menyatakan, mincul tren, ikan tuna habis dikonsumsi, baik kepala mapun badan ikan. ”Saat ini produk tulang pipi tuna laku keras,” katanya.

Dari angka-angka yang betredar itu, kita patut bertranya, mengapa Indonesia sebagai produsen ikan tutoca terbesar dunia, ekspor olahannya masih rendah disbanding negara lain, khususnya Thailand. Kedua, benarkan konsumsi ikan masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun?  Adakah upaya pemerintah meningklatkan ekspor tutoca untuk mengejar ketertinggalan ekspor di ASEAN?

Tampaknya, pemerintah terlebih dahulu harus mmbuat peta ulang produksi ikan tutoca. Hal itu penting untuk menentukan titik-titik produksi berhubungan dengan pendirian pabrik pengolahan dan penempatan sadeana perndingin.  Di samping pemetaan ulang, angka-angka yang dirilis harus benar-benat merupakan angka akurat. Berapa angka pasti produksi kita tiap tahun? Berapa angka ekspor tutoca yang pasti sehingga kita dapat menentukan target yang mendekati klepastian. Beraa pula tingkat konsusmi masyrakat terhadap ikan? Kita buituh angka yang lebih akurat dan memiliki  validitas tinggi.

Indonesia harus mengejar dua sasaran yang sama-sama penting yakn ekspor dan konsumsi dalam negeri. Peningkatan ekspopr harus tyerus didopronmg, begitu pula konsumsi masyarakat terhadap ikan. Kedua-duanya tidak boleh saling menyalahkan tetapi berlari sejajar. Ekspor tutoca masih sangat rendah dibanding Negara lain padahal Indonesuia merupakan produsen utoca terbedsar dunia. Dalam upaya menibnhklatkan ekspor, kita harus berangkat dari angka yang benar-benar akurat. Indonesia juga ditangtang meningkatkan ikan olahan. Ekspor iklan olahan punya nilai tambah dibanding ekspor ikan utuh apalagi ikan beku.

Konsumsi masyarakat jangan sampai dikorbankan hanya karena mengejar ekspor. Produk dalam negeri yang terserap pasar domestik  punya dua sisi yang sama, yakni pasa domestic tidak dikuasai produk luar (impor). Masyarakat yang lebih banyak mengonsusmi ikan akan menghasilkan genmerasi baru yang makin sehat, lincah, dan cerdas. ***