Martini Terus Berkarya Tanpa Kenal Usia

29

Martini (52) saat ini berprofesi sebagai pengusaha industri kreatif. Produknya cukup unik dan menarik, karena beragam produk yang diciptakannya menggunakan kain perca, bahkan produknya ini juga sudah menembus pasar luar negeri dan berhasil meraih beberapa penghargaan.  Di tahun ini, ia berhasil meraih juara 3 kategori Craft pada UMKM Award 2019 yang diselanggarakan Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung.

Istri dari Budi Rahmadi (53) ini mengutarakan, ia mengawali produksi di bidang kerajinan kain percanya sejak tahun 2006. Awalnya, Martini hanya iseng-iseng saja dengan memanfaatkan kain sisa untuk dibuat keset.  Setelah mengikuti pelatihan untuk kerajinan kain perca dari Dinas Perindustrian Kota Bandung, maka muncullah ide untuk membuat produk lain selain keset, seperti dompet, tas, tempat tissu dan lain-lain.

”Modal awal yang digunakan untuk menjalankan usaha ini, kurang lebih 2 juta rupiah,” tuturnya kepada BB.

Martini juga mengungkapkan, usaha yang ditekuninya saat ini tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan dan keluarganya. Ia tertarik untuk menekuni usaha dari kain perca ini, karena memang ia memiliki keahlian di bidang menjahit yang menjadi modal utamanya sekarang ini.  Beragam produk unik dari bahan utama kain perca ini diproduksi di rumahnya, di daerah Babakan Ciparay, Kota Bandung.  Dalam sebulan, Martini mampu memproduksi tas sebanyak 100 pieces, dompet 300 pieces dan tempat tissu 200 pieces.  Setiap bulan, tas yang berhasil terjual rata-rata sebanyak 75 pieces, dompet 260 pieces dan tempat tissu 100 pieces.  Untuk memproduksinya, Martini mempekerjakan dua orang tenaga kerja yang masing-masing memiliki keahlian khusus.

Segmen pasar dari produk kain perca ini adalah kaum perempuan yang berusia 18 – 60 tahun.  Para wanita inilah yang menjadi sasaran utamanya, karena di usia merekalah yang paling banyak membutuhkan.  Produk kain perca milik Martini dibandrol dengan kisaran harga Rp 20.000 – Rp 250.000.  Pemasarannya melalui bazar / pameran dan juga secara online. Bahkan produk kain perca ini juga diekspor ke London serta Thailand. Omset perbulannya mencapai Rp 8 juta – Rp 10 juta.

“Keunggulan produk kain perca buatan saya adalah, dari kualitas dan model variasi kain percanya yang berbeda dari produk lainnya,“ ungkap Martini

Ibu dari Widia Asnizar (25), Nadia Maulizar (23), Ardia Muhalizar (20), Kladia Jamaizar (17), Ridia Rajkaizar (12) dan Yudia Muhadizar (9) ini mengaku bahwa, ia tidak takut dengan persaingan usaha, karena ia yakin, konsumen lebih tahu dan jeli dalam membeli produk yang berkualitas.  Selain itu, setiap 6 bulan ia selalu membuat inovasi baru bagi produknya.

“Menggeluti usaha kerajinan kain perca sudah menjadi catatan hati, apalagi jika produk kain perca ini bisa laku keras.  Bila dijual dalam bazar, walau saya tidak berada di stand, konsumen yang melihat produk saya akan tahu persis bahwa itu adalah produk saya, karena produk saya punya ciri khas.  Sisi negatifnya adalah, bila tiba-tiba ada yang meniru model produk saya”, ungkap pemilik “MR Collection” ini kepada BB.

Penganut motto hidup “Terus Berkarya Tanpa Kenal Usia” ini mengatakan, upaya yang dilakukannya agar produk kain percanya tetap diminati oleh konsumen adalah, dengan tidak pernah menurunkan kualitas produk, sehingga konsumen akan tetap merasa puas.

“Mengenai perhatian pemerintah maupun perbankan terhadap pelaku usaha saat ini sudah cukup baik.  Indikatornya adalah, ketika pemerintah memberikan penghargaan dan mengajak untuk menjadi peserta pameran. Bahkan, beberapa perbankan juga kerap menawarkan modal usaha.  Harapan saya sebagai pelaku usaha kepada pemerintah, agar pemerintah bisa terus membantu memasarkan produk dalam negeri. Terutama para pengusaha mikro dan pengusaha kecil.  Intinya, pakailah produk dalam negeri,” pungkas Martini. (E-018)***