Kenaikan Cukai dan Harga Rokok Harus Didukung

78
Kenaikan Cukai dan Harga Rokok Harus Didukung

BISNIS BANDUNG – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kebijakan pemerintah menaikan cukai rokok sebesar 23% dan harga rokok 35% merupakan kebijakan yang perlu didukung . Meski kebijakan ini belum diikuti oleh upaya meminimalisasi golongan cukai.

Ketua Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, untuk menyelamatkan bisnis zat adiktif ini , industri rokok akan berupaya membuat harga produknya tetap terjangkau dan penjualan zat adiktif ini tetap laris . “Industri ini hanya mengeruk keuntungan dari konsumennya tidak peduli dampak terhadap kesehatan dan ekonomi  dari konsumen.  Tidak mengherankan jika mendekati pengesahan PMK yang baru, industri rokok akan melobi habis‐habisan dan menekan pemerintah untuk tidak meningkatkan cukai dan harga rokok. Kalau pemerintah tunduk atas tekanan ini, harga yang akan dibayar adalah rusaknya masa depan generasi muda dan perekonomiannya,”  kata Tulus kepada BB  di Bandung.

Dikemukakan Tulus , Indonesia merupakan pasar rokok paling menarik di dunia karena longgarnya peraturan dengan 8 juta perokok remaja serta lebih dari 60 juta perokok aktif dewasa, Indonesia jadi surga bagi industri rokok. Data Riskesdas mencatat kenaikan konsumen rokok di usia anak di tahun 2018 meningkat  darri 7.3% menjadi 9,1% pada tahun 2013. Badan Kesehatan Dunia menyebut rokok menyebabkan kematian dini bagi 217.000 konsumen/tahun.

Epidemi tembakau (rokok) terus meningkat karena lihainya industri rokok dalam memperlambat proses dalam melemahkan peraturan pengendalian rokok. Taktik yang terus digunakan oleh industri rokok, termasuk membesar‐besarkan dampak kenaikan cukai rokok terhadap lapangan pekerjaan yang akan berdampak pada terjadinya PHK massal, matinya petani tembakau lokal, berkembangnya penjualan rokok ilegal dan penyebaran informasi keliru serta berbagai riset – riset yang belum diuji kebenarannya. Dengan bekal itu industri melobi pembuat kebijakan melalui lobi secara langsung atau melalui kaki tangannya untuk melindungi bisnisnya.

Taktik‐taktik jahat ini berhasil membatalkan kenaikan cukai pada tahun 2018. Tulus menyebut , bukti empiris yang membuktikan rokok berdampak buruk terhadap konsumennya .  Tahun 2015, Kementrian Kesehatan mencatat kerugian yang disebabkan akibat konsumsi rokok mencapai Rp 600 triliun, hampir empat kali lipat dari cukai rokok yang masuk di tahun yang sama. Industri rokok terus memanipulasi konsumen, lihai menutup keburukannya dengan pencitraan melalui iklan, promosi, propaganda dan sponsorship.  Pencitraan melalui propaganda termasuk hal-hal yang yang selama ini dibesar besarkan  bahwa melalui cukainya industri rokok berjasa bagi perkembangan ekonomi di tanah air. “Di negara yang memberlakukan cukai dan harga rokok yang tinggi sudah membuktikan bahwa ini  merupakan kebijakan yang paling efektif untuk mengurangi keterjangkauannya dari kalangan rentan dan ini membantu para perokok berhenti merokok. Industri rokok paham akan hal ini dan akan melakukan apapun untuk mencegah cukai dan harga rokok tinggi . Sementara kebijakan ini adalah WIN‐WIN solusi, sambil mencegah berkembangnya perokok di kalangan rentan, negara diuntungkan karena pendapatan meningkat. Pemerintah harus mampu menolaktekanan industri dan segera mengesahkan PMK dan bukan hanya cukai dan harga rokok dinaikan,”ungkap Tulus Abadi , baru-baru ini menegaskan.  (E-018)***