Esemka Menolak Sandang Status Mobil Nasional ?

116

BISNIS BANDUNG — Tanggal 6 September 2019 , Presiden Jokowi meresmikan mobil nasional Esemka yang merupakan pabrikan dari PT. Solo Manufaktur Kreasi di Boyolali, Jawa Tengah. Walau Esemka menolak untuk menyandang status sebagai mobil nasional.

Menurut Pakar Perdagangan Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti Esemka , kehadiran Esemka merupakan rentetan  upaya pemerintah untuk memproduksi mobil nasional ke 14 sejak tahun 1976 , setelah Mobil Rakyat Nasional (Morina), Maleo, Beta 97, Timor, Bimantara, Perkasa, Kancil, Tawon, Esemka Digdaya dan lainnya. Klaim Esemka, muatan komponen lokal sudah diatas 60% dibandingkan dengan merek lain , antara lain seperti Gran Max  dengan kandungan lokal  83%, Suzuki  75% dan Mitsubishi 120 SS sebesar 62%.

Yayan Satyakti menyebut ,  potensi pangsa pasar mobil pick up 1500 CC di Indonesia, berdasar data Gaikindo tahun 2018, pasar pick up  menguasai pangsa pasar antara 70-80% (7.000 – 11.000 unit/bulan) dari total penjualan 107.456 unit selama bulan Januari hingga Desember 2018. Suzuki Carry 1.5 PU WD jenis pick up yang paling dominan dipasaran dengan memegang pangsa pasar sebesar 20-40% penjualan rata-rata perbulan mencapai 33.878 unit, disusul oleh Gran Max PU STD antara 20-30% dengan total penjualan rata-rata sebanyak 28.097 unit. Selanjutnya  APV PU STD dengan pangsa pasar antara7 – 11% dengan penjualan  10.178 unit. Gran Max PU 1298 CC sebesar 9.790 unit dengan rata-rata penjualan perbulan antara 6 – 10% selama tahun 2018.

Dibanding penjualan pada tahun 2019 dengan tahun 2018 , antara lain contohnya  contohnya untuk merek Daihatsu Gran Max terjadi penurunan penjualan antara 8 – 20% selama periode Januari–Agustus month on month.Tidak hanya sektor mobil komersial, secara total kinerja penjualan sektor automotif di Indonesia  mengalami penurunan sejak tahun 2014 dari 1.2 juta unit menurun sampai pada titik yang terendah sejak tahun 2011 menjadi 1.013 juta , tahun 2015  menjadi 1.061 juta pada tahun 2016 menjadi 1.079 pada tahun 2017 – 2018 , 1.151 juta unit . Bahkan menurut Gaikindo,  target sebanyak 1.1 juta untuk tahun 2019 tidak berubah seperti  pada tahun 2018.

Tampaknya tahun 2019 menurut Yayan , merupakan tahun yang berat bagi industri automotife untuk bergerak. Jika menggunakan data month on month dengan tahun 2018,  total penjualan akan menurun  -12.96% untuk penjualan mobil penumpang dan -15.02% untuk mobil komersial sejenisnya. Secara strategi pasar, peluncuran mobil Esemka tampaknya kurang tepat di tengah melemahnya kinerja penjualan mobil komersial yang menguasai pangsa pasar sebesar 24.03% dan 75.97%  pangsa pasar untuk mobil penumpang. ”Jika dibandingkan dengan kinerja negara ASEAN, total penjualan automotif di Indonesia, memang merupakan yang terbesar (30-37%) selama lima tahun terakhir, disusul oleh Thailand  24-28%, Malaysia 17-20% , sedangkan  pertumbuhan penjualan terbesar adalah Pilipina sebesar 18-20% /tahun, disusul oleh Brunei Darusallam sebesar 5-65%,”tutur Yayan, Senin 21/10/19) di Bandung.

Pertumbuhan penjualan otomotif di Indonesia paling kecil dibandingan dengan yang lainnya yaitu hanya 2-4%. Artinya, lanjut Yayan , walau secara eksternal ada pelemahan, tampaknya Indonesia mengalaminya lebih awal , sejak tahun 2015 yang penjualannya menurun sampai 16.12% dan mulai meningkat dengan pertumbuhan yang lambat dikisaran 2-4%.

Jika kita lihat berdasarkan jumlah produksi, produksi Thailand terus meningat dari 1.8 juta unit pada tahun 2014 , meningkat sebanyak 1.9 juta unit pada tahun 2017. Sedangkan Indonesia 1.298 juta pada tahun 2014 menurun menjadi 1.216 juta unit pada tahun 2017. Dikemukakan Yayan , sebagian besar tujuan pasar industri automotif Indonesia ,  90% untuk domestik dan sisanya untuk ekspor. Kinerja sektor automotif pada saat ini dipengaruhi oleh penjualan domestik dan penjualan luar negeri. Tidak hanya terjadi penurunan kinerja perekonomian global, kinerja perekonomian domestik ini menengarai perlambatan kinerja sektor automotif di Indonesia. Sejak tahun 2013, kinerja penjualan sektor automotif di Indonesia menurun dan belum mengalami pulih seperti kondisi  pada tahun 2013.

Mobil Esemka disebut Yayan ,  diharapkan dapat mempengaruhi animo masyarakat untuk meningkatkan industri automotif di Indonesia di tengah lesunya kinerja sektor automotif  di tanah air atau ada tambahan segmentasi pasar baru yang disasar Esemka ,misalnya pasar perdesaan seperti yang diharapkan oleh pemerintah.  Esemka harus bias bertahan di tengah melemahnya pasar automotif dan memberikan animo pasar untuk bersaing dengan competitornya. Kehadiran Esemka lebih kental ranah politiknya dibandingkan dari sisi komersial. Mobil Esemka  mirip dengan merek Changan dari Tiongkok.

Ditambahkan Yayan , mobil Esemka, komponen lokalnya harus lebih tinggi dibandingkan dengan ATPM lainnya, di samping memberi manfaat dari sisi penciptaan tenagakerja dan hubungan industri yang kuat dengan UMKM dalam proses industri. (E-018)***