Kisah Sukses Pebisnis Anggrek

26

PELUANG bisnis tanaman hias yang satu ini memang masih cukup besar. Meskipun cara perawatannya tidak gampang agar tetap menghasilkan bunga menawan.

Salah satu pelaku usaha yang menggeluti bisnis tanaman hias satu ini adalah Indah Trisnawati. Ia mendirikan Lombok Orchid pada 2010. Indah menceritakan, sembilan tahun lalu, di Lombok belum banyak orang yang menggarap bisnis tanaman anggrek. Melihat peluang ini ia memberanikan diri untuk memulai bisnis.

“Awalnya saya jadi reseller, ambil anggrek dari supplier, lalu saya jual lagi di sini. Waktu awal berbisnis benar-benar enggak punya pengalaman merawat dan membudidayakan anggrek katanya saat ditemui KONTAN di showroom Lombok Orchid yang terletak di Jl. Dakota Rembiga, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Indah memasok aneka jenis anggrek dari Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Saat itu, pengiriman anggrek menggunakan kargo pesawat. “Ongkos kirimnya mahal, kalau sampai sekarang masih reseller, bisa berat di ongkos kirim,” ujarnya.

Indah memulai usaha anggrek di sebuah lapak sederhana di pinggiran jalan. Tak jarang ia harus berhadapan dengan petugas ketertiban, sehingga toko Lombok Orchid beberapa kali pindah.

“Kami kan pendatang, jadi belum tahu tempat mana yang tepat dan bisa dipakai buat jualan anggrek. Setelah beberapa kali pindah tempat, akhirnya punya tempat di Rembiga sejak 2015,” tutur wanita asal Sragen, Jawa Tengah ini.

Lombok Orchid menjual sedikitnya 5 varietas anggrek jenis hybrid, yaitu anggrek bulan, dendrobium, vanda, cattleya, dan oncidium. Harga dibanderol beragam, tergantung ukuran, fase, dan varietas anggrek. Untuk fase bibit dibanderol Rp 10.000 per pot, anggrek fase remaja mulai Rp 35.0000 per pot dan fase bunga dibanderol mulai Rp 75.000 per pot.

“Yang paling mahal Rp 300.000-an, itu varietas yang dari biji sampai bunga butuh waktu cukup lama, sekitar 7 tahun,” jelas Indah.

Selain jualan Anggrek, Lombok Orchid juga menyewakan anggrek untuk hotel dan restoran. Biaya sewanya Rp 125.000 – Rp 150.000 per bulan.  Pasarnya tidak hanya Mataram dan Lombok tapi sampai Bima dan Sumbawa.

“Ada beberapa yang kami sewakan juga, karena kalau pihak hotel kan enggak mungkin stafnya disuruh merawat anggrek, alternatifnya ya menyewa. Jadi biasanya kalau pas disewa ada bunganya, lalu kalau bunganya sudah gugur, dikembalikan ke saya buat ditumbuhkan lagi bunganya. Kepemilikan tetap punya saya,” tandas Indah.

Bisnis anggrek sekilas nampak sederhana, namun siapa sangka jika dari Lombok Orchid, Indah bisa mengantongi omzet ratusan juta saban bulannya.

Setiap pelaku usaha pasti memiliki pengalaman berada di titik terendah dalam membesarkan usahanya. Termasuk juga Indah Trisnawati saat mengembangkan Lombok Orchid sejak 2010.

Saat awal membuka usaha tanaman anggrek, respon masyarakat terbilang positif dan penjualan terus meningkat. Namun di awal tahun 2015, usaha anggrek yang dijalankan Indah perlahan menurun. Dan jadi periode tersuram dalam bisnisnya.

Kondisi tersebut diperparah oleh sistem manajemen yang tidak ia tata dengan baik, dan semua serba tidak teratur. Ia belum punya prosedur standar operasional (SOP), tidak ada jam kerja dan data keuangan tidak tersusun rapi. Energinya habis mengatur segala hal tanpa membangun sistem manajemen jelas. “Terpuruknya karena tidak tercatat dan tidak ada SOP,” ungkap ibu satu anak ini.

Sadar akan kesalahannya, Indah pun berusaha bangkit. Meski dalam kondisi terpuruk, ia mengaku masih sangat optimistis karena bisnis anggrek di Lombok pasarnya menjanjikan, belum ada kompetitor dan alamnya mendukung.

Beruntung ada teman yang menolongnya. Ia pun diajak mengikuti pelatihan UMKM dan dikenalkan aplikasi Google Bisnisku. “Saya jadi sadar, berjualan itu butuh strategi pemasaran yang unik,” senyumnya.

Ia pun mulai menggunakan fitur Google Bisnisku (Google My Bisnis) pada tahun 2015 sebagai salah satu strategi pemasaran. Lewat fitur tersebut, dirinya bisa lebih dekat dengan pelanggan lewat fitur review. Dengan membalas review yang diberikan pelanggan pada Lombok Orchid, kedekatan Indah dengan pelanggan pun terjalin.

Selain itu, para pelanggan juga bisa dengan mudah menemukan lokasi Lombok Orchid, lantaran Google Bisnisku langsung terintegrasi dengan Google Maps. Google Bisnisku juga memudahkan pelanggan untuk mengetahui informasi seputar jam operasional, review, hari apa saja dan jam berapa saja saat Lombok Orchid ramai pengunjung.

Tak hanya menggunakan fitur Google Bisnisku, Indah juga mulai merapikan data keuangan usahanya. Yang semula dibiarkan berantakan karena tidak semua transaksi tercatat. Kini, semua transaksi yang berkaitan dengan Lombok Orchid dicatat dan data keuangan usahanya sudah jauh lebih rapi.

“Data keuangan itu penting sekali, dari situ kami bisa membuat perencanaan keuangan,” jelasnya.

Nah, inilah kelemahan utama para UMKM, termasuk dirinya yang tidak punya data keuangan. Saat pemasukan terus ada, dianggap sudah menguntungkan karena penjualan terbilang positif. Padahal, itu adalah pendapatan bukan lah keuntungan bersih.

Luasnya potensi bisnis anggrek di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di kota Mataram mendorong Indah Trisnawati, pendiri Lombok

Orchid untuk membudidayakan anggrek di pulau Suku Sasak ini. Apalagi alam Lombok yang indah dinilai cocok untuk mengembangkan tanaman anggrek. Ia pun memulai budidaya anggrek sejak 2015 bersama sang suami.

Sebagian besar anggrek ia budidayakan di  greenhouse sekaligus workshop Lombok Orchid, di Jalan Dakota Rembiga, Mataram, NTB. Dan ada beberapa anggrek yang dibudidayakan di Lombok Tengah.

Perempuan 37 tahun ini bekerjasama dengan sejumlah petani bunga di Lombok Tengah. “Di sana biasanya untuk proses bunga yang berasal dari tanaman anggrek sewaan. Lantaran tidak ada petani khusus anggrek dan sekalian kami edukasi mereka tentang budidaya anggrek,” jelas Indah.

Indah dan sang suami bukanlah lulusan bidang pertanian. Jadi tidak memiliki pengalaman maupun latarbelakang soal budidaya tanaman hias. Keduanya mempelajari budidaya tanaman anggrek secara otodidak. “Saya backgroundnya akuntansi perbankan, suami juga enggak ada background pertanian. Sama-sama belajar, mulai dari awal. Budidaya anggrek ini juga investasi waktu,” ungkapnya.

Menurut Indah, membudidayakan anggrek secara mandiri di Lombok jauh lebih efisien dibandingkan dengan membeli pasokan anggrek dari luar pulau. Dari segi operasional, ia dapat mengontrol sendiri perkembangan tanaman anggrek yang dijual. Sehingga kualitas tanaman anggrek lebih terjamin

Selain itu, risiko kerusakan anggrek pada saat pengiriman juga dapat diminimalisir. “Dari segi biaya jauh lebih murah kalau membudidayakan sendiri. Lagipula saya lihat, Lombok ini potensi alamnya luar biasa. Hanya saja belum digarap secara maksimal,” ujarnya.

Dari proses belajar autodidak tersebut, Indah dan suami juga membuka layanan konsultasi gratis kepada pelanggan Lombok Orchid melalui chat Whatsapp. Konsultasi biasanya seputar cara merawat anggrek agar tampil cantik dan cepat berbunga.

Meski usaha Lombok Orchid sudah membuahkan hasil, Indah dan suami masih terus mengejar mimpi besarnya, yakni membudidayakan tanaman anggrek di sejumlah tempat di Lombok dan daerah lain di Nusa Tenggara Barat. Adapun ekspansi yang ia lakukan bersama para petani di Lombok Tengah merupakan upaya rintisan.

Untuk bisa merealisasikan rencana tersebut, ia berencana memperbanyak mitra petani. Selain berharap punya lahan di Lombok Tengah. (C-003/BBS)***