Gangguan Mental pada Anak Mematikan Produktivitas

8

DI Kota Bandung terdapat 91 orang anak yang mengalami gangguan perilaku atau kesehatan mental. Angka itu merupakan hasil penelitian yang dilakukan di  beberapa puskesmas. Pencatatan itu dilakukan Januari hingga Juli 2019.  Jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak karena lebih banyak keluarga mampu di Kota Bandung yang tidak membawa anak-anaknya berobat ke puskesmas tetapi ke dokter spesialis atau rumah sakit swasta. Bisa jadi pula, banyak orang tua tidak memnyadari, anaknya menderita gangguan kejiwaan.

  Dipastikan gangguan mental itu sebagai akibat kecanduan aplikasi berupa hp, tablet, bahkan mungkin saja televisi, pc, dan sejenisnya.Benar, gangguan jiwa dapat terjadi bukan hanyua akibat gawai. Banyak  faktor, antara lain, genetik, trauma psikologis, stres, pola asuh, dan sebagainya. namun gangguan jiewa akibat gawai sekaranmhg ini cenderung jauh lebih banyak. Alat-alat komunukasi digital itu menjadi bagian dari hidup dan gaya hidup anak-anak, bukan saja di perkotaan tetapi sudah sampai ke perdesaan.  Makin banyak anak-anak berumur 5 – 12 tahun  bahkan kurang dari itu yang hidupnya sudah sangat bergantung pada gaget. Ia sudah tidak dapat berpisah dengan mainan berdigital itu. Anak di bawah lima tahun sudah sangat paham terhadap kerja gaget sejak menghidupkan, berselancar dari aplikasi ke aplikasi lain. Mereka benar-benar hafal hampir semua cerita film anak-anak bahkan film yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa.

 Seperti dimuat PR 23/10, Pengelola Program Kesehatan Jiwa, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif, Dinas Kesehatan Kota Bandung, Endang Pregiwati Ningsih, orantua harus lebih hati-hati mengawasi anak-anak balitanya. Apabila mailhat ada perubahan perilaku pada anak-anak, segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog. ”Apabila melihat anak-anak berperfilaku agresif, segera bawa ke puskesmas. Kini puskesmas memiliki layanan konseling juga pemulihan psikis,” kata Endang.

Banyak orang tua yang jsutru seang melihat anak-anak balitanya mampu beradaptasi dengan alat-alat elektronik dan gaget. Mereka bahkan bertepuk tangan ketika menyaksikan anak balita mereka mampu memilih aplikasi pada gaget yang disukainya.  Banyak orang tua yang jsutru melayani anak-anak balita menirukan kehebatan tokoh film kartun yang mampu mengalahkan penjahat. Kekerasan dilawan kekerasan.  Kita, para orang tua tidak menyadari, perilaku seperti itu merupakan awal perubahan perilaku anak-anak ke arah agresivitas yang mungkin tidak terkendali. Amat kurang orang tua yang dengan kesadaran penuh, segera membawa anak-anak balitanya ke puskesmas, ke psokolog, atau berkonsulatsi ke layanan konseling psikis. Tindakan seperti itu masih dianggap berlebihan.

Kita semua tidak sadar, anak-anak kita akan mengahadapi masa depan yang secara psikoilogis tidak menguntungkan. Perhatikanlah anak-anak kita. Sedikit demi sedikit jauhkanlah merteka dari gawai. Jangan biarkan mereka tertus menerus ,menonton film kartun, terutama yang menampilkan adegan  kekerasan seperti perkelahian, kehebatan superhero, robot yang hanya menonjolkan kebrutalan. Dengan suguhan yang terus menerus sepertti itu, anak-anak kita akan semakin jauh dari kebudayaan, agama, dan kearifan lokal. Mereka akan menjadi manusia kasar yang jaiuh dari sopan santun, hormat terhadap orang tua, toleran, dan agamis. Lebih jauh lagi, anak-anak kita kelak menjadi manusia yang tidak produktif dan krteatif, daya imaginasinya akan hilang.

Untuk mengatasi perubahan perilaku akibat ketergantungan terhadap gawai, Walikota Bandung, Oded M.Danial, mengimbau para orang tua, mengganti gawai dengan anak ayam sebagai teman bermain anak-anak balita. Daripada kelak balita kitya menjadi manusia brutal, tidak berbudaya, jauh dari ajaran agama, akibat selalu bermain dengan gawai, gaget, televisi yang menampilkan film-film tak mendidik, lebih baik beternak ayam sejak kecil. ***