Pendidikan dan Kebudayaan Dari Teoretisi ke Praktisi

19

PADA spot promosi Gojek, tampak  start upper sekali gus pengelola transportasi publik berbasis digital itu membuka helm bergaris hijau bertuliskan Gojek. Ia meletakkan helm seperti pengemudi ojek seleai bertugas. Entah kebetulan atau tidak, benar saja, CO berusia muda itu meletakkan jabatannya sebagai CO Gojek. Pemuda bernama Nadiem Makarim itu mau tidak mau harus meninggalkan pekerjaannya karena tiba-tiba saja ia diangkat sebagai menteri, pembantu Presiden Jokowi.

Jadilah Nadiem Makarim yang lahir 35 tahun lalu di Singapura itu salah seorang menteri dalam Kabinet Jokowi-Maaruf Amin. Mungkin sebagaian besar kalangan pendidikan terkejut kartena Nadiem Makarim justru diangkat sebagai Meneteri  Pendidikan dan Kebudayaan.  Hal itu merupakan salah satu surprisa atau mungkin juga adegan spektekel yang diperlihatkan Presiden Jokowi. Orang tidak menyangka sedikit pun, Kementerian Pendidikan Kebudayaan dikomandoi seorang menteri dari kalangan milenial, sosok teknolog handal  yang sukses dalam usaha transpotasi perojekan.

Dalam sejarah kabinet Indonesia kementertian itu hampir selalu diisi oleh seorang pakar dari golongan para “pertapa”, profesor, sedikitnya doktor yang sebelumnya sudah malang melintang di dunia pendidikan dan kebudayaan. Paling tidak, ia seorang dosen atau guru besar/profgesor mendekati emeritus. Orang sekaliber Daud Yusuf, Purbacaraka, Wardiman, dan sebagainya, yang selalu dipilih Presiden mengelola  pendidikan dan kebudayaan. Hampir semua presifden beranggapan dunia pendidikan merupakan wahana yang mempertsiapkan anak bangsa sebagai manusia cerdas, berpendidikan tinggi. Karena itu pengelolanya, tyakni menteri yang menanganinya, harus seorang mahaguru, seortang “pandita” atau begawan yang kaya ilmu yang sakti mandraguna, menguasai segudang teori pendidikan dan kebudayaan.

Presiden Joko Widodo justru mendobrak itu semua. Ia menempatkan seorang praktisi teknologi yang medmahami bernar seluk beluk teknologi infortmasi berbasis digital. Menurut pemikiran Jokoiwi, kabinatenya harus mengahdilkan generasi madsa depan yang kaya ilmu pengetahuan berbasis IT.  Presiden ingin, Nadiem Makarim mampu mentransfer pengetahuannya untuk rakyat banytak, untuk generasi X.  Untuk mengejar tagline, ”Indonesia Maju”, Indoinesia membutuhkan tenaga muda yang cerdas, menguasai IT, yang mampu menjadi star-up dalam segala bidang.

“Rakyat membutuhkan hasil akhir yang dapat berfmanfaat bagi kehidupannya, bukan proses,” kata Presiden pada pidato pelantikannya.  Untuk mencapai hasil akhir yang baik dan bermanfaat bagi rakyat, barisan kabinetnya harus bekerja keras, memacu para pemuda menjadi orang-orang sekaliber Nadiem Makarim, sehebat CO Google, Youtube, Instagram, dan sebangsanya.

Tentu saja cara praktis yang dianut Presiden itu sah dan bisa jadi akan menghasilkan manusia Indonesia yang mumpuni, mampu membawea Indonesia ke sasaran “Indonesia Maju” secepat-cepatnya.  Namun masyarakat punya pendapat yang beragam. Ada yuang berpendapatr langkah Presiden Jokowi itu sangat tepat untuk mengejar ketertginggalan. Akan tetapi banyak pula yang beranggapan, mencetak manusia mumpuni itu tidak terrlalu sederehana.  Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dari seorang Makarim, tidak akan cukup  dan merata bagi semua anak bangsa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus mendapat dukungan penuh dari semua pemamngku kepentingan dalam dunia pendidikan, khususnya para guru. Sampai hari ini, di Indonesia masih sangat banyak guru yang gagap teknologi. Butuh waktu cukup bagi menteri me ngubah pola hidup dan pola pikir para aktivis pendidikan dari tatanan proses ke asas manfaat bagi rakyat.

Pertanyaan yang sedikit mengganggu sampai saat ini, bagaimana pemerintah—melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—mengangkat manusia Indonesia menjadi manusia berkebudayaan. Kita harus akui, bangsa Indonesia sudah lama meninggalkan budaya miliknya. Bangsa Indonesdia tengah memasuki wilayah masyarakat tak berbudaya. Mereka kehilangan rasa malu, bersikap penuh kekerasan, radikal, tanpa sopan santun, tidak lagi  saling menghargai, kehilangan rasa hoprmat kepoada orang yang lebih tua, dan sebagainya.

Tantangan besar bagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kita tunggu langkah-langkah konkrertnya. ***