Potensi Sangar Modifikasi Motor Besar

92

BANYAK orang yang mengendarai motor untuk mengantarnya bepergian. Sebagai kendaraan sehari-hari, motor memang moda transportasi yang efektif. Bisa menembus kemacetan dan melalui gang-gang sempit.

Namun, kini, banyak pula orang yang memiliki motor sebagai saluran hobi. Bagi mereka yang menggemari motor sebagai hobi, memiliki kuda besi dengan desain sesuai keinginan (custom) merupakan suatu kebanggaan. Lantas, motor modifikasi menjadi pilihan, meski harus merogoh kocek dalam.

Fenomena ini mendorong pertumbuhan bisnis motor modifikasi. Tak hanya di Jakarta, bengkel motor modifikasi juga ditemui di sejumlah kota di Indonesia. Masing-masing bengkel mempunyai spesifikasi masing-masing. Mulai dari khusus motor matic sampai motor dengan kapasitas  mesin (CC) besar.

Arie Indra Perkasa, pemilik Street Art Motor, melihat bisnis bengkel modifikasi motor ini masih potensial. Bahkan, hingga 10 tahun ke depan karena para produsen motor, sebut saja, Kawasaki, Ducati dan lainnya, masih aktif merilis seri motor custom.

Khusus di Tanah Air, bisnis ini masih bisa terus berkembang seiring besarnya jumlah pasar dalam negeri. Sebagai bukti, bengkel Arie pun selalu kebanjiran permintaan modifikasi. “Kalau kerannya dibuka terus, sebulan bisa saja ada 20 motor (permintaan baru) masuk,” ujarnya.

Lantaran memperhatikan kualitas pengerjaan, Arie menutup permintaan custom konsumen sampai dengan Februari tahun depan. Sebab, sampai sekarang masih ada 20 motor yang menunggu untuk dimodifikasi.

Untuk menyelesaikan proyek modifikasi, Arie membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk satu motor. Namun, dengan  bantuan 15 orang tenaga yang ahli dalam rakit-merakit motor ini, dalam sebulan Street Art Motor dapat menyelesaikan sekitar lima unit motor modifikasi.

Seluruh suku cadang (sparepart) yang dibutuhkan untuk melengkapi kendaraan diambil dari pasar lokal maupun dari luar negeri. Arie pun menjalin kerjasama dengan pemasok untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.

Tapi, mereka juga sering membuat sendiri sparepart bila memang desainnya tidak dijual di pasaran. Misalnya, tangki motor dengan model tertentu sesuai dengan selera pelanggan.

Konsumennya pun tidak hanya berasal dari sekitar Jabodetabek, tapi datang juga dari Kalimantan, Sumatra dan Papua. Biasanya, sebelum memulai proyek, ia akan membuka sesi konsultasi. “Selalu ada konsultasi langsung agar kami bisa mengetahui keinginan konsumen seperti apa,” jelasnya.

Umumnya, konsultasi hanya dilakukan satu kali hingga mencapai kesepakatan desain. Namun, ada juga konsumen yang melakukan konsultasi sampai lima kali, tapi tetap belum menemukan poin yang dia inginkan.

Laki-laki yang berusia 32 tahun itu mengaku tidak ada patokan tren dalam hal modifikasi motor. Semuanya bergantung pada selera si pemilik kendaraan.

Namun, sekitar 60% kendaraan roda dua yang masuk ke bengkelnya selalu ingin dibuat berpenampilan street tracker custom bike. Dan 40% selebihnya model-model yang lainnya seperti cafe racer chopper bike, dan lainnya.

Tarif modifikasi ini dipatok mulai dari Rp 30 juta sampai tidak terhingga, sesuai dengan keinginan para konsumen. Sayang, Arie enggan mengungkapkan total omzet yang dikantonginya per bulan.

 

Punya keunikan sendiri

Bisnis motor custom juga digeluti oleh Riki Eko Jaya sejak tahun 2012 lalu. Pemilik Kojay Garage Custom Classic dan Motor Custom Nusantara ini memulai bisnis motor custom karena ketertarikannya pada dunia otomotif.

Ia mengatakan, tren motor custom sudah masuk ke Indonesia sejak delapan tahun silam. “Awalnya datang dari modifikasi motor gede (moge) yang ada di luar negeri. Tren motor custom ada jauh sebelum Pak Jokowi pakai. Justru Pak Jokowi yang mengikuti tren ini,” ujar Riki.

Beragam jenis modifikasi ditawarkan oleh Kojay Garage. Mulai dari gaya cafe racer, bobber, scrambler, jap style, jap tracker sampai motor bergaya chopper seperti milik Presiden Jokowi. Riki membanderol motor modifikasi hasil karyanya mulai Rp 15 juta. “Motor custom termahal yang pernah saya garap sampai saat ini sekitar Rp 35 juta,” tuturnya.

Dengan kemampuan dan daya kreatifnya, Riki sudah pernah menggarap motor modifikasi custom mulai pelanggan dari Aceh hingga Sorong, Papua. Bahkan, sejumlah konsumen membawa motor dan sparepart sendiri.

Namun, ada pula yang meminta Riki menyediakan motor sepaket dengan suku cadangnya. “Kalau customer yang jauh-jauh, seperti yang di luar pulau Jawa, biasanya tinggal terima jadi dari saya. Motor original yang mau dimodifikasi dari saya, modifikasi dan sparepart juga dari saya. Mereka tinggal menyerahkan data diri, seperti tinggi dan berat untuk fitting motornya,” jelasnya.

Paling cepat, butuh waktu dua bulan untuk menggarap satu unit motor modifikasi dengan model standar, seperti gaya  jap style dan tracker. Sedangkan, untuk model yang memiliki tingkat kesulitan lebih rumit seperti chopper, cafe racer, dan bobber, perakitannya memakan waktu empat hingga lima bulan.

Dia menyatakan, proses modifikasi motor itu memang tampak sederhana. “Tinggal main potong, las sama grinder. Padahal untuk memotong dan las itu enggak bisa asal-asalan. Harus diukur dan perhitungannya harus pas. Kalau enggak pas, nanti waktu dipakai juga pasti enggak enak,” jelas Riki.

Pengerjaan motor modifikasi custom membutuhkan waktu cukup lama karena prosesnya cukup panjang. Tidak semua permintaan customer bisa diwujudkan oleh Riki.

Karena pengerjaannya cukup rumit, Riki membatasi permintaan, sekitar 2 unit-4 unit motor custom per bulan.  “Tidak semua konsumen itu punya pengetahuan yang cukup tentang motor, jadi kadang permintaannya agak kurang pas.

Misal, ada yang motornya matic minta dimodifikasi dengan tangki model cafe racer, terus ban ukuran besar. Bisa sih, tapi ending-nya kalau dipakai kurang nyaman,” jelas Riki.

Sebelum menggarap pesanan, ia biasanya mendiskusikan model yang diminta bersama tim dengan membuat sketsa. Jika ada bagian yang kurang pas, dikomunikasikan kembali dengan konsumen. Tak lupa, Riki akan memberikan alternatif sebagai solusi. Baru setelah customer setuju, mereka menggarapnya.

Ia menjelaskan, dalam modifikasi motor custom, bagian yang banyak dirombak sebenarnya hanya bagian rangka dan bodi motor. Namun, ada beberapa customer yang meminta untuk memodifikasi bagian mesin.

Namun, modifikasi mesin lebih susah ketimbang permak bodi. “Tapi bisa kalau mau dinaikkan kapasitas cc-nya. Dulu saya masih mau terima modifikasi mesin, tapi sekarang sudah enggak mau, rumit dan makin lama pengerjaannya,” tandas Riki.

Ia mengungkapkan, adanya sepeda motor bergaya chopper milik Presiden Jokowi menjadi sinyal bagi para kreator motor custom untuk terus berkarya dan berkembang. Menurutnya, aksi Presiden Jokowi tersebut sebagai tanda bahwa pemerintah memperkuat legalitas motor modifikasi custom yang selama ini sering simpang siur dan jadi kendala.

Dia menilai, pelaku industri kreatif di bidang motor custom mengapresiasi dukungan Presiden Jokowi, karena turut membantu pengembangan industri ini. “Motor chopper punya Pak Jokowi itu menjadi sinyal bagi kami semua bahwa pemerintah support industri ini,” kata Riki.

Permintaan meningkat

Pemain lain di bisnis modifikasi sepeda motor adalah AMS Custom Jogja milik Anton. Bengkel AMS Custom ini sudah dibuka Anton sejak tahun 2009.

Anton melihat potensi bisnis dibidang modifikasi motor tersebut merupakan sebuah peluang emas dan sangat menjanjikan. Ia pun sangat antusias dalam bisnis modifikasi motor ini. Sebab, dari segi penghasilan, ia bilang, selalu meningkat tiap tahun. “Bahkan, meningkat drastis mencapai 75%,” ujarnya.

Modifikasi motor yang banyak dilakukan dibengkelnya adalah custom untuk motor sport. Tipe motornya seperti R25, CBR250RR, naked bike, minor dan juga street fighter.

Ia mematok tarif modifikasi motor custom ini mulai dari Rp 7.5 juta hingga Rp 18 juta. Waktu pengerjaannya sekitar dua minggu hingga sebulan.

Anton berharap, pemerintah bisa mendukung para modifikator motor di Indonesia dan dapat memajukan serta menambah lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan.

Kenaikan permintaan yang cukup signifikan juga dialami oleh Abraham Simatupang, pemilik Batakastem. Sejak terjun ke bisnis ini tahun lalu, permintaan modifikasi motor terus meningkat. “Pada awalnya, dalam dua bulan baru ada konsumen yang datang, tapi kini dalam sebulan ada tiga permintaan custom,” ujar Abraham.

Menurut Bram, panggilan akrabnya, potensi bisnis motor custom makin besar sejak Presiden Jokowi memiliki motor tersebut. Meski begitu, sejatinya tren motor custom mulai berkembang sejak tahun 2007 lantaran ada event tahunan di Yogyakarta. “Motor custom itu kan berarti  memberikan perhatian ke bidang seninya. Berbeda dengan motor hasil pabrikan yang sifatnya matematis,” ujarnya.

Ia membanderol jasa modifikasi motor ini sesuai desain yang diinginkan pelanggan. “Biayanya, minimal Rp 15 juta,” tuturnya.

Dengan munculnya banyaknya bengkel custom motor, Bram pun melihatnya bukan sebagai persaingan. Sebab, tiap bengkel itu punya keunikan dan keunggulan sendiri.

Seperti Batakastem yang punya keunikan pada penggunaan bahan aluminium. Sebab, kata Bram, masih sedikit bengkel yang memakai bahan tahan karat tersebut. “Finishing bahan aluminium juga mudah. Warnanya relatif bagus meski tak diberikan pewarna cat,” kata dia.

Standar keselamatan

Custom motor tak melulu identik dengan hal negatif. Menurut Abraham Simatupang, pemilik Batakastem yang bermarkas di Pamulang, Tangerang Selatan, kini motor custom tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. “Terutama, sejak Presiden Jokowi juga memiliki motor custom,” tegasnya.

Bisnis motor custom pun semakin menggeliat. Namun, di sisi lain, ada kendala dalam pengembangan bisnis otomotif ini.

Arie Indra Perkasa, pemilik Street Art Motor, misalnya, kendala yang dialaminya adalah sulitnya mendapatkan tenaga kerja dengan ketrampilan spesifik. Misalnya, tenaga pembuat tangki motor, keahlian air brush dan lainnya.

Untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja, Arie rutin menggelar pelatihan kepada pekerja baru. Biasanya mereka akan dilatih oleh orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya lebih dari lima tahun.

Berbeda dengan Arie, Riki Riki Eko Jaya, pemilik Kojay Garage Custom Classic dan Motor Custom Nusantara justru tak melihat kendala bisnis motor modifikasi dari hal-hal terkait proses pengerjaan. Namun, lebih pada legalitas motor modifikasi itu sendiri.

Ia berpendapat, di Indonesia, motor modifikasi kerap dianggap tidak mematuhi peraturan dan Undang-undang (UU). Sehingga, beberapa calon customer Kojay Garage banyak yang ragu memesan motor modifikasi karena takut menyalahi aturan.

Namun dia menegaskan, sebenarnya yang tidak diperbolehkan dalam Undang-undang adalah merombak dimensi motor. “Misal, motor yang semula ukurannya kecil, lalu bodinya dibuat lebar atau panjang. Mengubah dimensi motor itu mengganggu pengguna jalan lainnya,” terang Riki.

Agar tetap selaras dan sesuai  dengan peraturan, Riki berprinsip, ada beberapa bagian motor yang tidak boleh dihilangkan, meski sudah dimodifikasi. Beberapa bagian tersebut, yaitu spion, head lamp (lampu depan), lampu sein, maupun plat motor.  “Mau dimodifikasi dengan gaya apapun, bagian-bagian itu tidak boleh hilang. Motor modifikasi harus tetap memenuhi ketentuan standar keselamatan,” tandasnya. (C-003/Bbs)***