Ferry Curtis Kekuatan Lirik Serta Varian Musik Jadi Ciri Khas

38

Ferry Curtis, seorang musisi Indonesia bergendre balada kreatif, dengan kekuatan lirik yang menjadi ciri khasnya, serta varian musiknya yang beragam.

Lahir di Desa Wanayasa Purwakarta Jawa Barat dengan nama lengkap R. Ferry A. Anggawijaya, anak dari pasangan REU. Anggawijaya (Alm) dengan RHN. Macroni Sairun (Almh). Ferry merupakan anak bungsu dari 8 bersaudara. Ia mempersunting Rossi Indriati Rusnan, dan kini telah dikaruniai 3 putra, yakni Pandu Anubhawa Sangita (16), Andhika Prana Sadjiwa (13), serta Nandana Sakti Prabaswara (5). Keluarga ini bermukim di Bandung.

Selain menulis lirik lagu yang dibawakannya sendiri, Ferry juga menulis lagu-lagu hymne, mars, jingle, theme song teater, memusikalisasi karya sastra para penyair Indonesia, dan menulis lagu anak-anak. Ferry yang lulusan ASTI-STSI Bandung tahun 1994 dan mengambil jurusan teater-pemeranan ini, lebih memilih musik untuk meneruskan jenjang kariernya. Ia merasa, media musik lebih pas untuk menyampaikan gagasannya, tanpa melupakan ilmu teater yang didapatkannya dari bangku kuliah.

“Saya memulai karier di Bandung pada tahun 1989. Sejak kecil sudah tertarik dengan dunia seni, khususnya musik dan lagu. Ayah dan ibu saya menyukai musik sebagai pendengar. Pendidikan saya di bidang teater, karena sejak kuliah saya sudah berkarier sebagai penata musik teater,” ungkapnya kepada BB di Bandung.

Sejak tahun 1990-an aliran musiknya adalah balada kreatif. Ferry  mengaku, awalnya ia tidak tahu aliran musiknya apa. Ia hanya menulis lirik dan bermain musik yang dia suka dan ingin dia sampaikan saja ketika itu.  Yang Ferry tahu, kekuatan pada musik balada ada pada lirik lagunya.

Selama 29 tahun kiprahnya di dunia musik, Ferry telah tampil di ajang-ajang penting. Ia seringkali diundang untuk berbagi inspirasi melalui lirik lagu dan musik ke pelosok Indonesia. Karyanya terdiri dari 250 karya lagu, 3 album balada, 3 album kolaborasi, 1 album anak-anak, 32 konser tunggal, duta baca Yayasan Baca Indonesia, duta anti narkoba Jabar 2010, duta sekaligus penulis Mars Pendidikan Inklusi Kota Bandung 2016, penerima Award Pendidikan untuk lagu ‘Ke Pustaka’, dan menerima penghargaan sebagai Penggiat Literasi Musik di Masyarakat dari Perpustakaan Nasional RI. Bagi Ferry Curtis, yang paling berkesan adalah lagu “Sahabat Cahaya” dalam album Sahabat Cahaya (2006).

“Yang paling berkesan bagi saya adalah, ketika saya mendapat penghargaan dari Perpusnas RI atas Album Literasi Nasional – sebagai penggiat literasi musik di masyarakat. Album saya ‘SJSN’ disebar oleh Perpusnas ke seluruh Indonesia sebagai lagu literasi nasional. Lagu-lagu saya biasanya terinspirasi dari kisah kehidupan, karena lagu balada biasanya bercerita tentang alam, Tuhan, sosial, pendidikan, cinta dan juga perjuangan hidup,” ujarnya.

Ferry juga diundang tampil di Gedung Merdeka Bandung, dalam acara puncak peringatan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni, dengan persembahan lagu khusus yang ditulisnya berjudul “Semua Untuk Semua” di hadapan Presiden serta petinggi negara.

Hingga kini, Ferry tetap rutin membuat konser tunggal, dengan beragam tema dan gagasan yang segar. Konser keliling Indonesia dalam bentuk berbagi semangat dalam kelas inspirasi pun kerap ia lakukan.

“Yang paling berkesan adalah konser di Kota Makassar, karena pertama kali saya dan team membuat GMGM – Gerakan Makassar Gemar Membaca (2007) dengan tema lagu saya yang berjudul “Ke Pustaka”.  Gebrakan ini menjadi pemantik Gerakan Masyarakat Membaca di hampir seluruh Indonesia, dan selanjutnya menjadi gerakan literasi yang kini gencar dilakukan pemerintah sejak 2016, “ tutur Ferry Curtis.

Tahun 2019 ini, Ferry Curtis mengeluarkan Album Literasi yang secara resmi diluncurkan oleh Perpusnas RI di Jakarta. Selanjutnya, Ferry akan mengeluarkan album bertemakan Nasinolisme Kebangsaan, sebagai respon atas kepedulian nilai kebangsaan yang menurun. Ferry berharap, Album Literasi yang dikerjakan dengan Perpusnas (Perpustakaan Nasional) ini dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya teman-teman yang bergerak di bidang pengembangan literasi.

“Segmen musik saya tertuju pada semua usia. Respon dari masyarakat sangat bagus,  terbukti dengan Album Literasi yang berjudul “Jangan Berhenti Membaca” sudah diproduksi oleh Perpusnas RI, untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap gerakan literasi di seluruh Indonesia,” ungkap Ferry.

Penganut motto hidup “Hidup bahagia dengan karya berguna” itu mengatakan, selama ini ia selalu memandang positif terhadap dunia musik yang dijalani. Ia menjalaninya dengan suka, bahagia dan bersyukur pada apa yang didapat dan dihasilkan. Selain menjadi seniman, Ferry pun memberi inspirasi, dengan menjadi pembicara dengan tema yang diambil dari lirik-lirik lagunya. Selama ini tidak ada kendala dari keluarganya, semua berjalan normal saja, dan kebetulan istrinya juga lulusan dari STSI-ISBI Jurusan Tari, sehingga mereka merupakan keluarga seniman.

“Kebetulan anak saya yang bungsu yaitu Sakti (5), juga sangat berminat terhadap profesi ayahnya. Sejak umur 3 tahun, Sakti sudah ikut tampil dalam konser-konser saya. Rencananya, di usianya yang ke 5-6 tahun, saya akan membuatkan album untuk Sakti,” ucap Ferry

“Perkembangan dunia seni di Indonesia sudah sangat baik, seiring dengan perkembangan informasi teknologi saat ini yang begitu pesat, tinggal kita saja yang harus pintar menangkap peluangnya. Mungkin yang masih dirasa kurang saat ini adalah karya lagu anak-anak. Perhatian dari pemerintah juga cukup baik, walaupun belum merata. Sebaiknya, kita jangan terlalu nengandalkan bantuan dari pemerintah. Bagi saya, saya akan terus berkarya walaupun tanpa bantuan pemerintah. Masyarakat kita harus selalu diedukasi, untuk dapat memilih mana yang baik dan mana kurang baik,” pungkas penggemar warna hitam dan putih ini kepada BB.    (E-018)***