Mendulang Peluang Layanan Les Tutorial

11
Mendulang Peluang Layanan Les Tutorial

DUNIA pendidikan kini kedatangan start up baru yang mengusung bimbingan belajar. Kalau biasanya bimbingan belajar atau les terdiri atas tutor yang merupakan guru, maka di Taman Siswa ada skema berbeda lewat produk berlabel Taman Tutors.

Ini adalah layanan tutor dari siswa ke kelompok belajar dengan pembayaran secara patungan. Para tutor adalah siswa SMA atau mahasiswa yang berkompeten di pelajaran tertentu.

Mochammad Risky Altaresh, Founder dan Chief Executive Officer Taman Siswa menceritakan kali pertama merintis Taman Siswa pada 2015 dari les gratis bagi anak-anak di sekitar sekolahnya. Dari situ timbul ide membuat aplikasi dan mulai berjalan dua bulan terakhir ini. “Jadi kalau mau belajar bisa ajak teman karena kalau belajar sendiri mahal dan bisa patungan,” kata pria yang akrab disapa Ares.

Tarif yang dia patok masih bersahabat. Untuk murid SD dan SMP secara privat sekitar Rp 90.000 per jam. Sedangkan untuk SMA dan mahasiswa Rp 100.000 per jam.  Tapi kalau berkelompok antara dua hingga lima anak sekitar Rp 110.000 – Rp 150.000 per jam bagi anak SD dan SMP dan Rp 175.000 per jam untuk anak SMA dan mahasiswa.

Nah, pendapatan Taman Siswa berasal dari potongan komisi dari para tutor. Jumlah potongannya tidak besar, sekitar 15% dan bakal dipakai  untuk biaya melatih para tutor tersebut.

Saat ini ada 30 murid SMA dan mahasiswa yang tergabung sebagai tutor di Taman  Tutors. Untuk pengguna Taman Tutors sendiri baru sekitar 50 orang baik itu pelajar maupun mahasiswa.

Untuk saat ini, Taman Siswa lagi fokus di segmen mahasiswa. Lantaran ceruk pasar bimbingan belajar bagi pasar mahasiswa masih belum banyak tersentuh start up pendidikan lain.

Sejauh ini, Taman Tutors baru bisa diakses di wilayah Jabodetabek. Rencananya tahun depan Ares ingin mengembangkan Taman Tutors ke Kalimantan tepatnya di ibukota negara baru.

Rencana ekspansi tersebut tidak terlepas dari jaringan OSIS yang sudah Ares gaet. Ia mengklaim sudah mempunyai jaringan OSIS hingga seluruh Indonesia. “Kami bisa melakukan promosi lewat sosial media,” tuturnya.

Langkah yang sudah masuk agenda adalah adanya fitur baru bernama Taman Pustaka mulai tahun depan. Ini semacam  e-commerce yang berisi kumpulan modul atau bahan ajar.

Ekspansi tersebut tidak terlepas dari respon yang diklaim positif sejauh ini. Ia pun optimistis hingga akhir tahun ini bisa menggaet sekitar 500 tutor atau tenaga pengajar untuk bergabung dengan Taman Siswa. Sedangkan pengguna yang sudah bergabung sekitar 2.500 siswa dan mahasiswa.

Sayang Ares tidak memerinci target pendapatan start up ini. Namun ia berharap, keberadaan start up ini bisa memutus mata rantai antara sekolah yang favorit dan yang tidak dan bisa sama-sama berbagi ilmu. (C-003/SU)***