Peserta Pameran IWJPCCF 2019 Sumedang Keluhkan Sepinya Pengunjung

57
Peserta Pameran IWJPCCF 2019 Sumedang Keluhkan Sepinya Pengunjung

BISNIS BANDUNG – Hajat besar yang digelar Pemkab Sumedang melalui acara Internasional West Java Paragliding World Championship and Culture 2019 bertaraf internasional yang digadang -gadang sebagai event pertama Sumedang dikancah nasional terbilang sukses. Namun dibalik itu masih menyisakan berbagai permasalahan, khususnya bagi peserta pameran produk lokal Sumedang.

Kejuaraan Paralayang tingkat dunia ini,banyak menyita perhatian masyarakat ,  khususnya Sumedang, acara  tersebut menjadi harapan besar, terutama bagi para pelaku usaha ekonomi  kelas menengah maupun atas.
Tapi para pengisi stand di Pameran Internasional West Java Paragliding World Championship and Culture (IWJPWCC) 2019 di halaman Gedung Negara mengeluhkan karena sepinya pengunjung yang datang ke acara pameran tersebut.
Seperti dikatakan Itang, salah satu pengisi stand yang berasal dari Desa Buahdua Kecamatan Buahdua yang memamerkan hasil kerajinan tangan  , dari awal stand ini dibuka pada hari  Selasa (22/10/19) hingga Sabtu (26/10/19) sedikit sekali pengunjung yang datang ke pameran ini.
“Iya jarang sekali yang datang, mungkin karena lokasi standnya tidak pas atau bagaimana. Biasanya  untuk pameran seperti ini dilaksanakan di Alun-alun Sumedang atau Pacuan kuda. Kalau disini kayanya kurang pas, sehingga pengunjungnya sepi,” ucapnya saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Stand Pamerannya, Halaman Gedung Negara, Sabtu (26/10/19).
Selain itu, sambung Itang, hingga saat ini produk yang dipamerkan dari awal pembukaan hingga saat ini, hanya empat item dari barang yang dipamerkannya laku terjual.
“Memang disini kita hanya memamerkan saja, tapi kalau yang mau beli kita jual. Kita juga butuh biaya untuk operasional para penjaga stand. Belum lagi untuk mengganti biaya yang dikeluarkan. Kalau untuk stand sih gratis, tapi untuk meja yang ada di stand dikenakan tarip Rp 350.000 selama satu minggu,” ungkapnya.
Minimnya pengunjung ke stand pameran ini, tambah Itang, dikarenakan minimnya sosialisasi terhadap masyarakat luas.
“Selain tempat lokasi stand pameran yang kurang tepat, saya pikir acara ini juga kurang sosialisasi terhadap masyarakat. Jadi masyarakat banyak yang tidak tahu ada pameran disini,” tandasnya.
Hal  sama dikatakan Firman RWS , dirinya sangat menyayangkan dengan stand stand pameran yang disediakan panitia yang merupakan binaan dari dinas atau Instansi Pemerintah Kabupaten Sumedang, tapi hanya buka di hari pertama pembukaan saja.
“Ini yang sebelah saya stand dari dinas, tapi hanya buka hari pertama saja, besoknya hingga saat ini dibiarkan kosong saja, tanpa ada barang yang dipamerkan,” ujarnya.
Firman menambahkan, seharusnya dinas atau Instansi pemerintah memberikan contoh yang baik, agar bisa jadi contoh bagi  pelaku UMKM  di Sumedang.
“Ya gak elok lah, masa hari pertama doang, katanya mau mendongkrak perekonomian, tapi mereka memberikan contoh yang tidak baik,” tandasnya.
Keluhan juga diutarakan oleh pengisi stand lainnya yang menjual olahan dari tepung singkong yang  hanya merasakan banyak pengunjung pada hari pembukaan saja, selebihnya sepi .

“Sepi banget, paling juga dapet Rp 100 sampai Rp 150.000 saja sehari, itupun bukan dari pengunjung yang sangaja datang kesini, melainkan pelanggan yang biasa membeli produknya,” ungkapnya.
Berdasar pantauan BB di lokasi pameran pada hari Sabtu (26 Oktober 2019), tampak sejumlah stand sudah kosong tidak terisi , seperti ditinggalkan  begitu saja oleh peserta pameran yang mengisinya hanya pada hari pertama saja. Keterangan dari beberapa peserta pameran yang masih berada dilokasi, mereka lebih memilih tutup karena sepinya pengunjung karena lokasi pameran  tidak sesuai harapan. Umumnya para pengisi stand merasa kecewa . Mereka semula berharap stand pameran berada di lokasi kegiatan Paralayang.
Upay Kartini seorang pengisi stand pameran produk makanan olahanmengira stand pameran  akan berada di lokasi kegiatan Paralayang,sehingga dirinya  berspekulasi dengan membawa banyak barang yang akan dipamerkan dan dijualnya.Namun ternyata tidak sesuai yang dibayangkan dan diharapkannya.
“Tadinya saya pikir standnya berada di sekitar lokasi Paralayang, sekalian bisa melihat para atlit berlomba sembari berdagang,tapi ternyata disini,” ujar Upay. (E- 010) ***