Digitalisasi Pasar Tradisional

4

SUDAH  cukup lama kita mengenal  toko online.  Hubungan antara penjual dengan pembeli tidak lagi harus bertemu. Kedua belh pihak menggunakan telepon seluler. Pembeli memesan barang, penjual melayaninya dengan mengirimkan barang pesanan dan menarik uangnya melalui gaget. Tentu saja hal itu sangat memkudahkan baik bagi penjual maupun pembeli. Pembeli tinggal memilih maui beli mobil, kapal, comro, atau bala-bala. Tinggal klik, jual beli dapat berjalan tanpa hambatan.

Serkarang para pedagang di pasar tradisional juga sudah mulai berdagang secara online. Mereka menggunakan hape miliknya memesan barang ke distributor, bandar, atau bahkan petani. Barang datang, tinggal menawarkannya kepada  calon pembeli juga melalui gaget. Pasar online itu secara regulasi akan diremsikan, Pemprov dan DPRD Provinsi Jabar akan menerbitkan peratruran daerah tentang pasatr distribusi.

Bagaimana aplikasi dan operasi pasar distribusi itu. DPRD Jabar, sedang melakukan kajian dan secara bertahap dibuat peraturan daerahnya. Diharapkan nanti, distribusi barang dan jasa, akan lebih cepat dan menguntungkan  kedua belah pihak.  Alur atau mata rantai pasok akan dipangkas melalui digititalisasi.  Para pedagang secara terbuka dapat mengetahui harga dasar barang, di mana saja barang yang berkualitas. Para pedagang memiliki kemudahan dan keuntungan yang lebih pasti.

Digitalisasi pasar yang dirancang DPRD Jabar itu merupakan  cara meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya petani, distriburtor, pedagang, dan  konsumen. Pasar distribusi akan membuka wawasan masyarakat tentang teknologi tanpa harus meninggalkan sifat dan budaya pasar tradisional. Kita tahu persis pasar ttradisional merupakan ajang interaksi distributor, pedagan g,dan pembeli. Di pasar tradisional  orang dapat berinteraksi, silaturahmi, tumbuhnya budaya tawar menawar. Masyarakat maui datang ke pasar tradisional karena tertarik dengan keanekaragaman barang yang dijual dan harga yang cocok. Meskipun  pasar tradisional identik dengan becek dan bau, orang tidak kapok masuk  pasar.

Apaila nanti DPRD Jabar membuat undang-undang tentang pasar distribusi yang berbasis digital, apakah sifat dan karakter pasar tradisional itu akan terpelihara atau justrui akan hilang?  Tentu saja kalau tujuannya hanya untuk memanfaatkan teknologi digital yang sudah merambah ke dalam kehidupan kita, kita harus memikirkan sistem dan karekter pasar tradisional itu. Keinginan agar pasar tradisional menjadi  pasar yang nyaman, bersih, terbebas dari becak dan bau, sampai hari ini belum benar-benar terwujud. Masih sasngat banyak pasar ttradisonal yang stigmatis, kotor, bau, berdesakan. Apalagi pasar tradisional di daerah.

Akibat ketidaknyamanan berbelanja, orang enggan masuk dan menelusuri sampai ke pojok-pojok pasar. Akibatnya, banyak sekali pedagang yang kiosnya di dalam, kemudian pindah ke luar pasar, berdagang di trotoar bahkan di badan jalan. Sudah menjadi kebiasaan, pasar tradisional itu kemudian menjadi pasar tumpah. Para pedagang dan pembeli saling adu tawar di badan jalan, menghalanmgi lalulintas dan pejalan kaki.

Langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah daerah,menata dulu pasar tradisional itu menjadi pasar yuang bersih, nyaman, bahkan indah. Pasar tradisional yang tertata baik, dapat menjadi destinasi wisata.

Sesuai dengan keinginan masyarakat itulah, perda pasar distribusi diterbitkan. Perda itu tidak mengganggu seni, karakter, dan nilai-nilai tradisi pasar tradisional. Justru perda itu bertujuan meningkatkan daya serap pedagang pasar trdasional terhadap pasokan barang. Yang pertama akan dibangun melalui perda itu ialah pasar distribusi. Tujuannya, memotong rantai  pasok dari produsen ke pasar tradisional. Artinya para pedagang dan pembeli di pasar tradisional tidak langsung khawatir, pasar tradisonal di Jabar akan segera lenyap berganti denganm pasar modern berbais  digital.  Tidak usah terlalu khawatir pula, kelak kios-kios pasar tradisional akan dimiliki para pemodal kuat bahkan  diisi took  waralaba. (B-001)***