Tempat dan Bangunan Jadi Saksi Bisu Sejarah Purwakarta

97

Kami mengunjungi beberapa tempat di Purwakarta yang menjadi saksi bisu sejarah perjalanan panjang terbentuknya Kota Purwakarta yang semula berupa  wilayah kota tradisional sebagai Ibukota Kabupaten Karawang. Kedudukan dan nama kota itu diresmikan tanggal 20 Juli 1831. Dalam perjalanan sejarahnya Purwakarta berangsur-angsur berkembang menjadi kota modern, hingga saat ini Kota Purwakarta telah berusia 182 tahun.Dalam usianya yang  tua, Kota Purwakarta memiliki beberapa bangunan dan tempat yang menjadi saksi sejarah keberadaan Kota Purwakarta. Di antaranya, Pendopo, Bumi Ageung, Situ Buleud, Masjid Agung, Gedung Keresidenan, Gedung Kembar dan Stasion Kereta Api.Bangunan  Pendopo, Bumi Ageung, Situ Buleud dan Masjid Agung merupakan “tonggak” sejarah Kota Purwakarta, karena dibangun bersamaan dengan berdirinya kota itu.

Keberadaannya masih dapat disaksikan sampai sekarang.  Pada bagian akhir pemerintahan Hindia Belanda, bangunan-bangunan kuno dan benda budaya, mendapat perhatian besar dari pemerintah kolonial. Hal itu dibuktikan dengan, pembuatan sekaligus pemberlakuan Monumenten Ordonantie Nomor 19 Tahun 1931, (kemudian diubah menjadi Monumenten Ordonantie Nomor 21 Tahun 1934, yaitu undang-undang perlindungan bangunan-bangunan tua dan benda budaya lainnya). Undang-undang tersebut kemudian, oleh Pemerintah Republik Indonesia, direvisi menjadi Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB). Bila dicermati,  bangunan tua dan tempat bersejarah, selain merupakan Benda Cagar Budaya, juga memiliki potensi sebagai tempat wisata.

Tempat pertama yang kami kunjungi ialah Stasiun Kereta Api Purwakarta. Jalur transportasi kereta api yang menghubungkan Bogor – Bandung, dibuka secara bertahap oleh pemerintah kolonial Belanda, antara tahun 1881 sampai dengan tahun 1884.Memasuki Awal abad ke-20 dibuka pula  jalur kereta api antara Batavia – Bandung lewat Purwakarta. Selain itu dibuka juga,jalur kereta api Karawang – Purwakarta pada tanggal 27 Desember 1902, jalur itu sampai di Padalarang tahun 1906. Keberadaan transportasi kereta api mendorong meningkatnya mobilitas sosial, kemunikasi dan perdagangan antar daerah.Seiring dengan dibukanya jalur kereta api ke Purwakarta. Dampak  langsung yang terasa ialah Kota Purwakarta makin terbuka,dalam arti dapat dicapai dengan mudah, baik dari arah Batavia maupun dari Bandung. Hal ini mendorong kehidupan di Purwakarta makin berkembang dan maju pesat.

Sebagai salah satu tempat yang memiliki nilai historis, bagi Kota Purwakarta, keberadaan stasiun kereta ini, sampai sekarang masih memiliki peranan yang cukup besar bagi masyarakat. Namun sayang karena digerogoti usia di beberapa bagian, terdapat bangunan yang terkesan kurang terawat, seperti  depo lokomotif yang ditumbuhi oleh pepohonan liar, jika dibiarkan bukan mustahil merusak bangunan tersebut.

Kami mengunjungi pula R.H.M. Yusup yang  lebih dikenal dengan sebutan Syech Yusuf. Ia dikenal sebagai salah satu ulama besar dan penyebar agama Islam di wilayah Purwakarta. Menurut keterangan yang diperoleh Mandalawangi, Syech Yusuf berasal dari Cianjur, ia adalah salah seorang putra R. A. Jayanegara keturuanan Bupati Cianjur, R.A. Wiratanudatar I yang dikenal dengan julukan Dalem Cikundul yang sejak kecil dididik  agama Islam, Setelah dewasa ia berkelana ke Madagaskar, kemudian meneruskan perjalanan ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Pengetahuan agama yang dimiliki oleh Syech Yusuf, selain diamalkan, juga ia tuangkan dalam bentuk tulisan, antara lain mengenai Fikih Sunda, Tasauf Sunda, dan Tafsir Sunda. Dalam upaya untuk lebih memperdalam agama, Syech Yusuf pernah berguru kepada tokoh agama bernama Syech Campaka Putih sewaktua Kabupaten Karawang beribukota di Wanayasa dan diperintah oleh Bupati R.A.A. Surianata yang memerintah tahun 1821 sampai tahun 1828. Syech Yusuf diangkat menjadi Hoofdpanghulu Karawang tahun 1828.Sejalan dengan perpindahan Ibukota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih, Syech Yusuf pun turut pindah . Setelah  di Kota Purwakarta , Syech Yusuf menunjukkan peranannya, baik dalam kedudukan sebagai hoofdpanghulu maupun sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat,Sebagai hoofdpanghulu, Syech Yusuf menangani urusan yang bertalian dengan keagamaan, seperti perkawinan, perceraian, rujuk, zakat dan lain-lain. Peran penting Syech Yusuf lainnya adalah sebagai guru agama di pesantren yang didirikannya. Pesantren itu dibangun di belakang Masjid Agung. Pada tahap awal, kondisi bangunan masjid masih sangat sederhana , dibangun tidak jauh dari Situ Buleud, agar kebutuhan air tidak mengalami kesulitan. Masjid Agung Purwakarta dikelola oleh Syech Yusuf sampai ia menjelang wafat tahun 1856. Kelanggengan bangunan mesjid dari zaman ke zaman menunjukan gambaran syiar Islam, tidak  berhenti karena kikisan zaman dan globalisasi yang melanda negeri ini. (E -001) ***