WJF 2019 Dorong Ekonomi Daerah Menyasar Melinial

16

BISNIS BANDUNG- Pemprov Jabar  menggelar West Java Festival (WJF) 2019 selama  tiga hari berturut-turut dari 1 hingga 3 November 2019  di Gedung Sate Jalan Diponegoro Kota Bandung.

“Acaranya akan diisi karnaval, kuliner, exhibition atau pameran, expo dan lain-lain akan menyasar pengunjung melinial sekalogus mendorong  pertumbuhan ekonomi daerah.  Sebagai persiapan di hari terakhir  Minggu tanggal 3 November akan dilakukan launching untuk WJF 2020 ,” kata Kepala Bidang Pemasaran  Disparbud Jabar, Iwan Darmawan pada acara Jabar Punya Informasi (JAPRI),  Rabu (30/10/ 2019).

Sasaran  dari kegiatan ini, menurut Iwan  guna  meningkatkan citra dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Dalam kegiatan itu juga rencananya akan dilaunching slogan Smiling West Java. Slogan ini maknanya adalah citra Jawa Barat itu Someah Hade Ka Semah (Ramah pada pendatang).

Target pengunjung  selama  tiga  hari  tersebut  minimal 25 ribu orang dan maksimal 200 ribu orang. “Jika mengukur pada jumlah pengunjung yang ditargetkan,  maka harga festival ini berharga Rp 5 miliar,” ujarnya.

Untuk hitungan investasi secara makro, keseluruhan di Kota Bandung. Maka harus dapat memunculkan nilai Rp50 miliar. “Dengan begitu, WJF 2019 ini juga turut mendorong kinerja ekonomi daerah,” jerlasnya.

Karena itu, Disparbud Jabar, melakukan pendekatan 4.0 untuk registrasi setiap pengunjung yang akan hadir, bentuknya melibatkan go tiket. Diharapkan, digitalisasi, dapat menghitung secara tepat jumlah pengunjung.

Pengunjung dalam kegiatan WJF 2019,  diharapkan 70 persen  kaum milenial, dan  30 persen sisanya usia campuran.Dengan target mayoritas pengunjung milenial, kegiatan akan mengusung konsep kekinian.  Antara lain dekorasi dimunculkan  dengan kombinasi warna ornamen serta properti unik lainya.

Sementara itu, Tim Akselerasi Jabar Juara (TAJJ) bidang Kebudayaan Marintan Sirait mengatakan WJF 2019 akan mengangkat seni dan tradisi dalam prespektif kekinian. Festival ini menurut Marintan, juga bukan hanya melibatkan kedinasan, tapi juga ada komunitas dan masyarakat, yang turut serta.

“Komunitas diundang dalam acara ini, ada ketuk tiluan dari rumpun Indonesia sekitar 700 perempuan yang datang untuk memeriahkan festival ini. Kemudian ada juga anak sekolah yang berpatisipasi,” ujarnya. (B-002)***