Jeje Dedi Sutarwan, ST. Dengan Tekad Kuat, Membangun Usaha Kuliner

22

Jeje Dedi Sutarwan, kelahiran Bandung 1 Agustus 1975, dan saat ini ia menekuni usaha kuliner yang omzetnya mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Pemilik usaha Gungek Abah Ambu dan suami dari Fitriyana (39) ini menuturkan, selain menjalani usaha yang ditekuninya saat ini, ia juga menjadi reseller makanan ringan. Tahun 2015 ia melihat ada peluang pasar, dan bertekad untuk membuat serta memodifikasi produk makanan ringan dengan modal satu juta rupiah.

“Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah Teknik Pangan, dan keluarga saya yang juga memiliki usaha makanan.  Saya memilih usaha ini, karena saya melihat ada peluang pasar untuk produk Gungek ,” ungkapnya kepada BB di Bandung.

Jeje Sutarwan menceritakan, kemampuan untuk mendesain produk pada awalnya adalah dengan melihat produk lain, yang kemudian rasa dan teksturnya ia beri modifikasi lagi.  Dalam sebulan, rumah produksinya mampu menghasilkan kurang lebih 1.365 pak.  Bahan baku yang digunakan antara lain, tepung terigu, cabai, bawang daun, bawang putih, daun jeruk dan seledri yang mudah diperoleh di pasar.  Untuk proses produksinya, ia  mempekerjakan 3 orang tenaga kerja yang tidak perlu memiliki keahlian khusus, namun yang terpenting harus ulet dalam bekerja.

Ayah dari Runa (13) dan Raqilla (8) ini mengatakan, segmen pasar produknya tertuju pada semua kalangan, supaya bisa mendapatkan peluang pasar yang lebih banyak.  Produknya dijual dengan kisaran harga Rp 8.000.  Pembayarannya secara kontan, namun ada juga yang menggunakan system konsinyasi.  Produknya dijual di pasar lokal, terutama pasar tradisional, seperti di Pasar Cicadas, Pasar Sadang Serang, Pasar Binong Jati, Pasar Cikaso, Pasar Cikutra, Kantin Sekolah, Reseller serta Indogrosir.  Omzet perbulannya berada di kisaran Rp 10.000.000.

“Merk dagang dari produk makanan buatan kami belum memiliki hak paten, dan kebetulan nama Gungek Abah Ambu itu adalah nama panggilan kami di rumah. Keunggulan dari produk buatan kami terletak pada rasa dan kualitas bahan bakunya. Dalam hal persaingan pasar, memang kebetulan ada produk lain yang bisa menjual dengan harga lebih murah, karena setahu saya, jumlah produksi mereka besar, jadi mereka bisa menekan biaya produksi,” ucap Jeje menjelaskan.

Selama 4 tahun menekuni dunia usaha, Jeje memiliki banyak pengalaman.  Pengalaman positifnya adalah, bisa belajar dan menyikapi apa arti syukur, kerja keras, tidak pantang menyerah, selalu belajar supaya bisa tetap memberi inovasi pada produk, dan juga banyak bertemu orang baru untuk menambah teman serta pelanggan, sekaligus belajar memahami karakter orang.

“Selain itu, saya juga menjadi reseller produk lain.  Untuk membagi waktunya, saya melakukannya di saat waktu luang.  Bila diminta memilih, saya lebih memilih menjadi pengusaha, karena memiliki peluang yang lebih baik dan bisa memberikan pekerjaan  bagi orang  lain, dan usaha ini bisa dilanjutkan oleh keluarga” ungkap penganut motto hidup “Lakukan yang terbaik” itu.

Menurut Jeje Sutarwan, agar produknya tetap berdaya saing, upaya yang dilakukannya adalah dengan mempertahankan kualitas produk. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, ia berusaha untuk selalu mengikuti trend pasar dan mengikuti pelatihan untuk menambah wawasan.

“Ciri khas produk buatan saya adalah, bentuknya bulat dan renyah. Minat pasar cukup bagus, indikatornya dari pasar yang selalu repeat order dan berani membayar cash. Reseller juga selalu repeat order dan komentar dari konsumen pun baik,” ucap Jeje.

Menurut penggemar warna biru ini, perhatian pemerintah sudah cukup baik, demikian juga halnya dengan perbankan yang memberi fasilitas pinjaman dengan bunga yang sangat ringan, sehingga bisa membantu permodalan dalam usaha.

“Harapan saya kepada pemerintah, agar dunia usaha wiraswasta di Indonesia bisa terus tumbuh, dan juga pemerintah bisa mempermudah para pengusaha dengan membantu permodalan dan perijinan,”pungkas Jeje kepada BB.

(E-018) ***