IKM Alas Kaki Siap Bertransformasi Menuju Industri 4.0

15

BISNIS BANDUNG — Kepala Balai Pengkajian Industri Persepatuan Indonesia, Heru Budi Susanto mengemukakan, berdasar hasil survey BPIPI mengenai  peta potensi industri alas kaki tahun 2018, Industri Kecil Menengah (IKM) alas kaki telah mengenal “internet of things”, walau masih terbatas. Data penggunaan menunjukan 33,5% untuk pemasaran produk, 28,5% untuk transaksi pembelian bahan baku dan 26,5% untuk pengembangan usaha, sisanya 11,5% sama sekali belum menggunakan .

Jika melihat data ,  menunjukkan IKM alas kaki relatif siap menghadapi industri 4.0 dengan beberapa persiapan, di antaranya pembinaan dan pendampingan di lapangan untuk implementasi industri 4.0 di line produksi.  Perlunya proses adaptasi budaya dan mindset terkait bisnis di era disruptive saat ini. Tugas pemerintah saat ini melalui BPIPI menyiapkan SDM industri yang kompeten dan siap secara budaya dan mindset menjalani bisnis alas kaki.  Heru Budi menyebut , sedikitnya ada lima aspek yang perlu disiapkan dalam aplikasi revolusi industri 4.0 ,yakni aspek manajemen dan organisasi, aspek manusia dan budaya, aspek produk dan layanan,  aspek teknologi serta aspek operasi pabrikasi. ”Kementerian Perindustrian dengan kebijakan  mempunyai kewajiban menyiapkan aspek-aspek tersebut, sehingga industri-industri nasional lebih siap menghadapi perubahan terhadap lima aspek tersebut, “ ungkap Heru Budi , baru-baru ini di Bandung.

Manfaat dari memberlakuan revolusi Industri 4.0  menurut Heru Budi,  dari sisi Industri sebagai acuan untuk menentukan posisi perusahaan kaitannya dengan industri 4.0 dalam menentukan strategi perusahaan kedepan untuk mengetahui tantangan-tantangan yang akan dihadapi terkait transformasi ke Industri 4.0, selain untuk membantu bagi manajemen perusahaan mengevaluasi efektifitas operasional perusahaan serta untuk benchmarking posisi perusahaan dengan perusahaan sejenis. Sedangkan dari sisi pemerintah, untuk mengetahui komitmen dan kemampuan perusahaan untuk mengimplementasikan Industri 4.0, sebagai dasar bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan yang tepat sasaran terkait Industri 4.0 serta sebagai dasar penentuan insentif kepada industri.

Insentif untuk investasi teknologi yang memiliki potensi untuk menggerakkan inovasi dan adopsi teknologi. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia akan mendesain ulang rencana insentif adopsi teknologi, seperti subsidi, potongan pajak perusahaan dan pengecualian bea pajak impor bagi perusahaan yang berkomitmen untuk menerapkan teknologi 4IR. Selain itu, Indonesia akan meluncurkan dana investasi negara sebagai  dukungan pendanaan tambahan bagi kegiatan investasi dan inovasi di bidang teknologi canggih.

Heru Budi mengimbuhkan, Making Indonesia 4.0 membawa dampak ekonomi dan peluang kerja positif. Implementasi Making Indonesia 4.0 jika sukses diperkirakan akan mendorong pertumbuhan PDB ril sekira 1-2 %persen per- tahun, sehingga pertumbuhan PDB per- tahun akan naik dari baseline antara 5 % sampai 7 % pada periode 2018-2030, dimana industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26 % PDB pada tahun 2030. Pertumbuhan PDB ini digerakan oleh kenaikan signifikan pada ekspor netto Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 5-10 % rasio ekspor netto-terhadap-PDB pada tahun 2030. Selain kenaikan pada produktifitas, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan kerja antara 7-19 juta,  di sektor manufaktur maupun non-manufaktur, dampak dari permintaan ekspor yang lebih besar. Komitmen yang diharapkan dalam implementasi Making Indonesia 4.0 dengan manfaat nyata, Indonesia bisa berkomitmen untuk mengimplementasikannya. (E-018)***