Candi Cetho di Lereng Gunung Lawu Tempat Tapa Penganut Kejawen

1167

CANDI CETHO merupakan candi  agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir kerajaan  Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut,  secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Kompleks candi digunakan penduduk setempat dan peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan (Kejawen). Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat oleh Van de Vlies pada tahun 1842[1], termasuk A.J. Bernet Kempers yang juga melakukan penelitian . Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst) Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh  yang lokasinya berdekatan .

Saat ditemukan, candi ini sudah berupa reruntuhan dengan 14 teras yang memanjang dari barat ke timur. Struktur yang bertingkat di duga kuat merupakan kultur budaya Nusantara dengan Hinduismenya.Pemugaran candi,  pertama kali dilakukan pada tahun 1970 oleh Sudjono Humardani yang dahulu menjabat sebagai asisten Presiden Suharto. Sudjono mengubah total struktur asli candi , namun konsep punden berundak masih tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar arkeologi, mengingat pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Beberapa objek baru hasil pemugaran yang dianggap tidak original adalah gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V serta Phallus serta bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Berdasarkan penelitian ilmuwan dan arkeolog, Candi Cetho diperkirakan dibangun pada 1451-1470 atau saat  Raja Brawijaya V di Majapahit berkuasa.  Candi Cetho diperkirana dibangun untuk ritual tolak bala dan ruwatan karena pada masa tersebut Kerajaan Majapahit banyak terjadi kerusuhan dan permasalahan kerajaan. Kompleks Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk Candi Bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu tahun 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tatahan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, Surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan , seperti mimi, katak dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai Suryasengkala berangka tahun 1373 Saka atau 1451 M. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat  di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah tokoh yang sama) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada aras ke-delapan terdapat arca phallus (disebut Kuntobimo) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus. (E-001/BBS) ***