Muncul Generasi Sakit Waspadai Bahaya Obesitas Anak

7

BISNIS BANDUNG — Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi Terkait mengatakan , tumbuh kembang anak di Indonesia adalah paradoks. Bahkan ironis, manakala sebagian anak mengalami gizi buruk, sebagian lagi mengalami kegemukan atau obesitas yang amat ekstrim. Sebagian yang lain mengalami stunting, anak bertubuh pendek atau kontet.

Meninggalnya Satya Putra, seorang bocah usia tujuh tahun di Karawang dengan berat badan 110 kilogram dikemukakan Tulus , merupakan bukti nyata paradoks tersebut. Meninggalnya Satya, tidak bisa dilihat secara kasuistik saja, tetapi ini lonceng yang amat keras bahwa ada sesuatu yang amat membahayakan terkait fenomena kegemukan dan atau obesitas pada anak dengan rentang usia 5-12 tahun.

Berdasar Riskesdas 2018 menurut Tulus, prevalensi anak Indonesia yang mengalami obesitas sebanyak 18,8 % dengan sebaran 9,4 % laki laki dan 6,6 % perempuan , tersebar  9,1 % di perkotaan dan 7,1 % di perdesaan. Menurut data WHO, prevalensi obesitas anak di Indonesia  tertinggi di ASEAN , yakni 12 % .

Oleh karena, atas meninggalnya Satya Putra, harus menjadi catatan serius bagi pemerintah, masyarakat dan stakeholder untuk bersama – sama memerangi fenomena obesitas pada anak. Harus ada langkah radikal untuk hal tersebut, misalnya dalam hal ini Kemenkes dan Badan POM harus berani menurunkan makanan/minuman instan yang sangat tinggi kandungan gula, garam dan lemak (GGL). Sebab jenis makanan/minuman jenis inilah yang sangat digandrungi anak – anak usia dini. Di pasaran sangat marak jenis makanan/minuman yang sangat tinggi mengandung GGL. Apalagi dengan pemasaran/iklan yang sangat masif. YLKI juga menyoal Kemenkes/Badan POM yang sampai saat ini tidak berani mengimplementasikan Permenkes No. 30/2013, tentang kewajiban pencantuman informasi GLL yang sejauh ini belum diberlakukan. Diungkapkan Tulus , terkait hal ini pemerintah jangan hanya mementingkan sisi industri saja, tetapi mengorbankan masa depan anak dan remaja .

 Kemendiknas dan pihak sekolah harus terlibat aktif dalam upaya pengendalian kegemukan dan obesitas pada anak usia sekolah. Contoh, di Singapura, jika anak SD mengalami kegemukan maka anak tersebut tidak bisa naik kelas. Hal seperti ini bisa diterapkan di lingkungan sekolah di Indonesia. Atau setidaknya pihak sekolah punya program khusus untuk anak didik yang punya masalah kegemukan, misalnya dengan melibatkan Puskesmas dan menyediakan kantin sekolah yang menyediakan makanan sehat, bukan jenis junk food.

Dikemukakan Tulus , jika hal ini tidak menjadi perhatian serius dan kebijakan radikal, maka klaim munculnya generasi emas hanyalah mimpi di siang bolong. Bagaimana mau mencapai generasi emas, lanjut Tulus ,  jika yang muncul adalah generasi sakit, akibat kegemukan. Berdasar hasil Riskesdas 2018, prevalensi obesitas meningkat menjadi 8,5 % dari  6,9 %. ”Fenomena kegemukan dan obesitas adalah ancaman serius bagi keberhasilan program JKN ke depan,” pungkas Tulus kepada BB, baru-baru ini  di Bandung. (E-018)***