Mengangkat Pamor Mutiara Barok Di Produk Kerajinan

7

Ragam aksesori dan perhiasan digemari banyak kalangan. Perhiasan itu bisa berbentuk kalung, giwang, cincin, bros atau gelang. Aksesori itu bisa berbentuk perhiasan jika dibuat dari emas. Selain dari logam kuning, para wanita juga menyukai perhiasan dan aksesori yang terbuat dari mutiara.

Biasanya, produk mutiara yang kita ketahui adalah berbentuk bulat bulat sempurna. Tapi jangan salah, ada juga jenis mutiara yang berbentuk tidak bulat sempurna yang biasa disebut mutiara gagal atau mutiara barok. Biasanya mutiara ini berbentuk asimetris.

Nah ditangan Eka Haryani, mutiara yang awalnya tidak punya nilai jual tersebut diubah menjadi ragam aksesori mutiara barok yang menjadi lebih menawan.

Ia sendiri mulai membuat ragam aksesori mutiara barok sejak 2015. Dan kini hampir ada 2.000 desain aksesori yang sudah ia buat dengan bahan dasar mutiara barok. Mulai dari kalung, cincin, bros, anting hingga gelang.

Saban hari ia bersama empat orang karyawan sanggup memproduksi 8 sampai 12 produk aksesori, seperti kalung. “Produksi masih di rumah sendiri, di Bintara Bekasi. Kami semua handmade, barok dipasang sendiri,” kata Eka.

Selama menjalankan usaha tersebut, ia kini mampu meraup omzet Rp 100 juta hingga Rp 150 juta perbulannya.  Adapun saat awal usaha dulu, ia cuma mengeluarkan modal Rp 20 juta.

Dengan modal tersebut, ia mulai belajar mendesain produk secara mandiri dan autodidak. Ia selalu melihat tren desain aksesori yang terjadi lantas memodifikasinya sehingga produk yang dihasilkan menjadi ciri khas labelnya.

Misalnya ada desain produk perhiasan yang terbuat dari perak yang berasal dari UMKM asal Yogyakarta atau Bali. Lantas produk perhiasan tersebut ia permak dan tambah dengan rumbai, serta barok.

Eka memang menjalin kerjasama dengan para perajin tembaga dan perak dari Yogyakarta dan Bali. Para perajin tersebut membuat desain aksesori perhiasan yang ia pesan. Ia juga  memilih bahan baku yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit penggunanya.

Sedangkan untuk bahan baku mutiara barok, ia mendatangkan langsung dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Sebulan saya bisa belanja mutiara barok Rp 20 juta sampai Rp 30 juta, bentuknya kemasan serenceng,” terang Eka.

Setelah dibuat barang aksesori jadi, ia membanderol produk tersebut mulai dari Rp 100.000 untuk cincin dan kalung sebesar Rp 1,5 juta per satuan.

Seluruh produknya ia menjajakan di dua toko  yang ada di Pondok Indah Mall dan Pejaten Village. Selain itu ia juga memasarkan lewat ragam komunitas. Seperti Kelompok Cinta Berkain, Wanita Mitra Seni Indonesia dan lainnya.

Biasanya, produk mutiara yang banyak orang ketahui berbentuk bulat sempurna. Sebab, mutiara yang berbentuk bulat tidak sempurna atau populer dengan sebutan mutiara barok bakal dibuang lantaran tidak berguna.

Tapi siapa sangka, di tangan Eka Haryani, pemilik Eka Gem’s Stone & Accessories, mutiara barok yang tadinya menjadi barang buangan, justru menjadi bernilai setelah ia poles menjadi ragam produk aksesori bagi kaum Hawa, mulai kalung, cincin, bros, anting, hingga gelang.

Saban hari, Eka bersama empat karyawannya sanggup memproduksi 8 sampai 12 produk aksesori yang terbuat dari mutiara barok seperti kalung. Hingga kini, jumlah desain aksesori mutiara barok yang sudah dia buat hampir 2.000 desain.

Jika melihat perkembangan sebelumnya, ternyata Eka sempat memulai bisnis yang tidak jauh-jauh dari aksesori mutiara barok. Pada 2012, dia sempat terjun di bisnis batu cincin. Secara perlahan, bisnis batu cincin yang ia jalani mulai menampakkan hasil, meski harus memoles dan menjual sendiri batu cincin buatannya.

Namun, tahun 2015, bisnis batu cincin yang Eka jalani tiba-tiba kolaps karena permintaan yang mendadak turun drastis. “Penjualan anjlok, pemasukan tidak ada dan harus menjalankan hidup,” kenangnya lirih.

Usai tren batu cincin  menurun drastis, Eka mulai memutar otak, mencari cara untuk bangkit. Upaya tersebut mendapat dukungan dari keluarga dan para sahabat. Akhirnya, ia  mengubah tampilan batu cincin yang ada menjadi aksesori kalung.

Untuk model, Eka mengambil contoh yang tengah pasar sukai saat itu. Lantas, dia mencoba merangkai sendiri beberapa kalung. Tak disangka-sangka, kalung  buatannya mendapat respons positif dari para sahabat. Ini yang membuat dia kembali semangat untuk berbisnis aksesori.

Supaya semakin menarik, Eka mulai mencari referensi aksesori melalui dunia maya alias internet. Hingga akhirnya, ia berkenalan dengan mutiara barok.

Terpikir olehnya untuk membuat aksesori dari mutiara barok berpadu dengan batu cincin. Eka pun terus-menerus belajar tentang bahan baku tersebut dan cara memadukan dengan batu cincin. Ia membuat berbagai produk aksesori perhiasan. Tapi kali ini, pasarnya dia tuju untuk kaum perempuan, bukan lagi para lelaki tatkala memproduksi batu cincin.

Perasaan was-was sempat menghantui mantan tenaga ahli bahasa Korea ini. Malah, Eka sempat berpikir untuk kembali merantau ke negeri seberang seperti yang pernah ia lakoni selama empat tahun  di Korea Selatan.

Beruntung, produk aksesori buatannya mendapat respon positif dari pasar. Ia pun mengurungkan niat untuk mengadu nasib lagi ke negeri ginseng. “Saat itu, batu cincin dan aksesori buat wanita masih cukup hidup, tapi batu cincin buat pria drop,” kata Eka.

Apalagi, Eka mendapat dorongan dari pengusaha Dewi Motik. Dan, itu membuatnya bisa bangkit dan  menjadi perajin aksesori dari mutiara barok. Saat ini, omzetnya bisa mencapai Rp 150 juta per bulan. (C-003/BBS)***